Oleh: Prof Dr Didik J.RachbiniLANGIT7.ID-Presiden SBY beberapa waktu lalu turun gunung mengingatkan perlunya disiplin fiskal. Biasanya beliau hanya melukis dan kunjungan ke daearah-daerah dengan pemandangan indah. Tetapi dengan perkembangan baru, harga minyak turun karena faktor eksternal ekspektasi damai akan terwujud, maka indikator-indikator ekonomi, seperti nilai tukar dan harga saham terus membaik.
Alhamdulillah ada good news untuk kita semua, begitu rasa syukur yang disampaikan Presiden SBY di media twitternya, yang memiliki 8 juta followers, lalu disiapkan oleh media publik beberapa hari yang lalu. Bahkan SBY menyampaikan terbuka terima kasih kepada Presiden Prabowo dan mengapresiasi gerak cepat pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam menstabilkan situasi ekonomi nasional. SBY menilai intervensi dari otoritas keuangan berhasil membuat pasar saham dan Rupiah menguat kembali.
Ada berita baik harga minyak Brent terus menurun. Harga minyak pada puncak krisis perang mencapai 120 dollas AS per barrel dan kini sudah turun lagi sekitar 4 persen menjadi 80 dollar AS per barrel. Harga minyak Brent ini menyentuh level terendah dalam dua bulan setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan damai. Pihak Trump sangat ingin berdamai sebab publik AS juga tertekan dengan kenaikan harga minyak tersebut. Pihak Trump ingin mengakhiri konflik Timur Tengah dalam rangka membuka kembali Selat Hormuz dan perang tidak memberikan efek apa-apa terhadap popularitas Trump. Penutupan selat ini menjadi biang kerok harga minyak naik tinggi sekali. Pasar minyak telah mendapat gangguan sangat serius sejak bulan Februari yang lalu kini diperkirakan ada harapan untuk pulih dan kembali normal.
Itu faktor luar negeri, lalu bagaimana faktor dalam negeri? Kritik yang cukup keras dari berbagai pihak terhadap pemerintahan Prabowo adalah disiplin fiskal. Jika saya lihat dari laporan yang ada, dalam pandangan saya kondisi fiskal cukup baik dengan pendapatan dan pengeluaran masih dalam toleransi yang memadai, terutama dalam defisit yang terjadi sampai tengah tahun seakarang ini. Defisit fiskal sampai bulan Mei 2026 relatif terjaga pada angka 0,7 persen terhadap PDB. Mudah-mudahan ini terus terjaga sampai pada kuartal 2 yang akan datang. Pada kasus MBG, pemerintah sudah menurunkan total angaran tinggal 268 trilyun rupiah dan diperkirakan akan turun lagi karena pemerintah berjanji akan fokus pada daeran 3T.
Tidak hanya itu, defisit fiskal hampir satu semester ini bisa dijaga karena dari sisi pendapatan juga ada peningkatan penerimaan pajak dan non-pajak. Saya kira ini ada faktor sukses Cortex, yang berperan dalam hal ini. Sementara itu, pembiayaan fiskal sudah mencapai Rp379,4 triliun, setara dengan 55,1 persen dari target anggaran setahun penuh. Ini berarti ada penyediakan pendanaan yang cukup untuk mendukung pelaksanaan anggaran di sisa tahun ini. Pembiayaan fiskal sangat penting karena menjadi penyangga rencana defisit APBN, yang ditargetkan presdien tidak boleh lebih dari 3 persen. Bahkan presiden menargetkan defisit lebih kecil dari 3 persen tetapi belum bisa disanggupi oleh Menteri Keuangan.
Pendapatan fiskal cukup baik meningkat sekitar 19 persen (YoY) sampai bulan Mei 2026. Nilai pendapatan fiskal tersebut sampai bulan Mei 2026 tercatat sampai 1.185,0 triliun rupiah. Sumber utamanya adalah penerimaan pajak naik menjadi 22 persen (YoY) pada bulan Mei 2026 karena penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) meningkat signifikan sebesar 41 persen (YoY). Selain itu, pendapatan non-pajak mencatatkan peningkatan yang signifikan sebesar 19,9 persen (YoY) pada bulan Mei 2026, terutama yang beasal dari sektor teknologi, informasi dan komunikasi.
Seperti kita ketahui, rasio pajak kita masih rendah dan sekarang kita mesti meningkatkannya agar setara dengan negara-negara lain setidaknya di lingkungan ASEAN. Dari penduduk yang besar, pajak dari sektor perdagangan naik sebesar 52 persen (YOY), lalu sektor pertambangan naik 38 persen (YOY) dan manufaktor meningkat sampai 20 persen (YOY). Jadi, pendapatan dari sektor-sektor tersebut (perdagangan, pertambangan dan manufaktur) merupakan penggerak utama pertumbuhan pendapatan pajak hampir satu semester ini.
Peningkatan pendapatan pajak didukung oleh pengumpulan pajak yang lebih baik dengan dukungan implementasi sistem Coretax perlu terus ditingkatkan. Rakyat membayar pajak dalam jumlah sangat besar kepada negara, yang harus diikuti oleh perwujudan demokasi secara substansial. Hampir semua negara yang sistem pajaknya baik, sistem demokrasinya juga baik.
Pada sisi belanja, pemerintah Prabowo memang cenderung menuju sosialisme dengan peran negara yang lebih besar. Program priorotas yang memang dicanangkan dalam kampanye adalah pangan dan energi. Berdasarkan sektor, pengeluaran terkait dengan ketahanan pangan meningkat sebesar 76 perssen (YoY), terutama alokasi untuk petani dan pangan rakyat dan untuk subsidi pupuk dan BULOG. Selain itu, ada pengeluaran bulanan untuk subsidi dan kompensasi melonjak sampai 208 persen (YoY). Pencairan dana untuk program Makan Siang Bergizi Gratis (MBG), yang realisasinya telah mencapai Rp86,6 triliun. Ini yang menjadi target kritik dari berbagai pihak di dalam maupun di luar negeri. Saya kira pemerintah mendengar kritik tersebut dan sudah dikurangi. Tapi jika diperhatikan, selama hampir 1 semester program MBG baru menyerap 86,6 triyun sehingga semester berikutnya diperkirakan tidak akan jauh berbeda. Jadi akan ada penghematan dana MBG karena fokus ke daerah 3 T.
Jadi, dengan data-data faktual ini menurut saya kebijakan fiskal masih bisa dijaga dengan disiplin yang lebih baik. Beberapa catatan yang harus diperhatikan adalah dana daerah, perbaikan cortex dan masalah restitusi. Dengan demikian, persepsi pasar terhadap fiskal bisa lebih jujur dan obyektif sehingga nilai tukar dan saham menjadi lebih baik lagi ke depan, apalagi faktor eksternal juga mulai mereda. Pasar modal dan nilai tukar negara tetangga tidak mengalami guncangan serius sehingga kita tidak harus menerima kenyataan pahit dari persepsi pasar yang negatif. Meskipun ada kecenderungan perbaikan dalam perkembangan ekonomi, tetapi nasihat SBY tetap penting disimak. Presiden SBY hadir di publik beberapa waktu terakhir ini dengan memberikan saran yakni terus menjaga kepercayaan pasar dan menjaga disiplin fiskal, serta kebijakan moneter yang sahih. Jika pasar melihat konsistensi kebijakan, tata kelola fiskal dan pemerintahan yang baik, dan komunikasi pemerintah yang kredibel, maka kepercayaan lambat laun akan pulih
(Prof. Didik J Rachbini, Ph.D, Ekonom Senior Indef dan Rektor Universitas Paramadina)(lam)