Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 13 Mei 2026
home masjid detail berita

Signifikansi Filantropi Memberi Makan dalam Pelaksanaan Ibadah Haji

miftah yusufpati Rabu, 13 Mei 2026 - 16:53 WIB
Signifikansi Filantropi Memberi Makan dalam Pelaksanaan Ibadah Haji
Tradisi memberi makan di musim haji mengingatkan setiap insan bahwa perjalanan menuju titik akhir evolusi spiritual memerlukan solidaritas. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di antara deru doa dan langkah-langkah penat jutaan jamaah di tanah suci, terselip sebuah ibadah yang tampak sederhana namun memiliki kedalaman makna luar biasa: memberi makan. Sejak zaman dahulu, aktivitas ini telah dikenal sebagai salah satu amal utama dalam rangkaian ibadah haji, terutama saat keramaian mencapai puncaknya di Arafah, Mudzalifah, hingga Mina. Memberi makan di waktu-waktu sangat ramai bukan sekadar urusan logistik, melainkan perwujudan dari pengamalan nilai-nilai kemanusiaan universal yang melampaui batas geografis dan strata sosial.

Abdulmalik al-Qosim dalam risalah Risala ila Ahli Arafah wa Mudzdalifah wa Mina menekankan bahwa memberi makan memiliki pahala yang sangat besar di sisi Allah. Ibadah ini berakar pada keteladanan kaum salafus saleh yang sangat antusias dalam berbagi hidangan, baik untuk membantu mereka yang kelaparan maupun sebagai bentuk penghormatan serta jamuan bagi saudara-saudara seiman yang saleh. Landasan teologis dari tindakan ini terpampang jelas dalam firman Allah pada surah Al-Insan ayat 8:

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا

Artinya: Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.

Aksi filantropi ini dalam konteks haji menjadi sangat krusial karena jutaan orang berkumpul dalam keterbatasan ruang dan waktu. M. Quraish Shihab dalam buku Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah memaparkan bahwa kemanusiaan mengantar putra-putri Adam menyadari arah yang dituju serta perjuangan mencapainya. Kemanusiaan ini pula yang menyadarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendirian dan harus bertenggang rasa dalam berinteraksi. Memberi makan adalah cara konkret untuk mempraktikkan tenggang rasa tersebut di tengah kegetiran fisik perjalanan haji.

Lebih dari sekadar memuaskan rasa lapar di dunia, tindakan ini dijanjikan balasan yang bersifat eskatologis. Rasulullah saw. bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:

أَيُّمَا مُؤْمِنٌ أَطْعَمَ مُؤْمِناً عَلىَ جُوْعٍ أَطْعَمَهُ اللهُ مِنْ ثَمَارِ الْجَنَّةِ

Artinya: Mukmin manapun yang memberi makan mukmin lain yang kelaparan, akan Allah beri dia makanan dari buah-buahan surga.

Namun, kesempurnaan ibadah haji tidak hanya dibangun melalui kedermawanan materi. Al-Qosim menyarankan agar mereka yang memiliki ilmu syar'i atau wawasan luas turut serta dalam acara-acara perkemahan jamaah. Kehadiran para pemilik ilmu ini sangat penting untuk memberikan petunjuk kepada para musafir spiritual lainnya, menjadikan jamaah haji lebih dekat dan terikat secara batin. Selain itu, keterlibatan aktif dalam edukasi dan diskusi yang bermanfaat berfungsi sebagai perisai yang menjauhkan para jamaah dari pembicaraan sia-sia atau diskusi yang tidak memiliki dasar kebenaran.

Jika dihayati secara mendalam, ibadah haji adalah kumpulan simbol yang sangat indah yang mengantarkan pelakunya pada lingkungan kemanusiaan yang benar sebagaimana dikehendaki Allah. Kemanusiaan sejati mencakup seperangkat nilai-nilai luhur yang menghiasi jiwa, bermula dari kesadaran akan jati diri manusia sebagai hamba sekaligus pemimpin di muka bumi. Memberi makan dan berbagi ilmu di tanah suci adalah dua pilar yang menyatukan dimensi vertikal ketuhanan dan dimensi horizontal sosial.

Pada akhirnya, tradisi memberi makan di musim haji mengingatkan setiap insan bahwa perjalanan menuju titik akhir evolusi spiritual memerlukan solidaritas. Di tengah padatnya Arafah dan Mina, sepiring makanan atau segelas air yang diberikan dengan tulus menjadi bukti bahwa kearifan telah merasuk ke dalam jiwa. Seseorang yang telah dihiasi kearifan akan memandang semua makhluk sama karena sama-sama membutuhkan-Nya, sehingga kasih sayangnya pun meluas, melampaui ego pribadinya demi kenyamanan sesama tamu Allah di tanah haram.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 13 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:52
Ashar
15:13
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)