Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 12 Mei 2026
home masjid detail berita

Rekonstruksi Makna Haji: Melacak Jejak 3600 Tahun Syariat Ibrahim

miftah yusufpati Selasa, 12 Mei 2026 - 16:00 WIB
Rekonstruksi Makna Haji: Melacak Jejak 3600 Tahun Syariat Ibrahim
Kumandang yang diteriakkan Ibrahim 3.600 tahun lalu kini kembali pada jalurnya yang murni melalui risalah Muhammad saw. Ilustrasi: Alamy
LANGIT7.ID- Sekitar 3.600 tahun silam, sebuah suara mengalun dari lembah gersang di jazirah Arab, memanggil umat manusia untuk datang berkunjung ke baitullah. Ibrahim as., sang proklamator monoteisme, baru saja menyelesaikan tugas besar membangun kembali fondasi Ka'bah bersama putranya, Ismail. Sejak saat itu, kumandang haji tidak pernah benar-benar sunyi, meski dalam perjalanannya, praktik ritual ini sempat mengalami berbagai pasang surut dan distorsi sejarah.

M. Quraish Shihab dalam tulisannya yang terangkum dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah mencatat bahwa pasca-masa Ibrahim, praktik-praktik haji mengalami banyak perubahan, baik secara teknis maupun filosofis. Salah satu distorsi yang paling mencolok adalah munculnya kelompok al-Hummas. Kelompok ini merasa diri mereka memiliki keistimewaan atau hak eksklusif yang membedakan mereka dari orang kebanyakan.

Perasaan superioritas ini termanifestasi dalam ritual wukuf. Saat orang banyak bertolak menuju padang Arafah untuk menjalankan inti ibadah haji, al-Hummas justru enggan bersatu dengan massa. Mereka memilih melakukan wukuf di Muzdalifah dengan dalih status sosial atau keagamaan yang lebih tinggi. Pemisahan diri yang bersifat diskriminatif ini kemudian dicegah dengan tegas oleh Al-Quran melalui surah Al-Baqarah ayat 199. Ayat tersebut berbunyi:

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak dan mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Upaya pelurusan kembali roh haji pada nilai universal kemanusiaan dilanjutkan oleh Nabi Muhammad saw.. Beliau tidak hanya menghapus sekat-sekat sosiologis dalam wukuf, tetapi juga menyempurnakan aspek praktis ibadah tersebut. Sebagai contoh, dalam sejarah awal periode Islam, sempat ada praktik bergandengan tangan saat melakukan tawaf sebagai simbol persaudaraan. Meski tujuannya mulia, Nabi saw. membatalkan cara tersebut demi efisiensi dan kemudahan pelaksanaan tawaf bagi jutaan orang, tanpa sedikit pun mengurangi substansi persaudaraan itu sendiri.

Puncak dari penegasan nilai kemanusiaan dalam ibadah haji terekam dalam khutbah Nabi saw. pada haji wada' atau haji perpisahan. Khutbah monumental ini bukan sekadar pesan agama biasa, melainkan deklarasi hak asasi manusia yang mendahului zamannya. Inti dari pesan tersebut adalah penekanan pada prinsip persamaan derajat manusia. Nabi saw. mewajibkan setiap individu untuk memelihara jiwa, harta, dan kehormatan orang lain tanpa terkecuali.

Khutbah tersebut juga menjadi peringatan keras terhadap segala bentuk penindasan. Rasulullah saw. melarang pemerasan terhadap kaum lemah, baik dalam bentuk eksploitasi fisik maupun ketidakadilan ekonomi. Inilah keterkaitan erat antara ibadah haji dengan kemanusiaan: seseorang tidak bisa mengklaim ketaatannya kepada Tuhan yang satu jika ia masih melakukan diskriminasi atau menindas sesama makhluk-Nya.

Kumandang yang diteriakkan Ibrahim 3.600 tahun lalu kini kembali pada jalurnya yang murni melalui risalah Muhammad saw.. Haji bukan lagi panggung untuk memamerkan kesalehan kelompok atau status sosial, melainkan sebuah madrasah bagi umat manusia untuk belajar bahwa di hadapan Sang Pencipta, semua manusia berdiri di atas satu tanah yang sama dengan derajat yang tiada berbeda.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 12 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)