Imaduddin mengajak umat kembali ke tauhid yang jernih: bukan sekadar percaya Tuhan, tapi memurnikan ibadah dari mitos, kultus pemimpin, dan sisa-sisa paganisme yang terus berganti bentuk dari zaman ke zaman.
Qardhawi menyebut aqidah sebagai sumber hukum dan akhlak. Di Indonesia, ia sering hadir dalam retorika politik, tapi kerap absen dalam kebijakan nyata: dari pemberantasan korupsi hingga pengelolaan lingkungan.
Sejak lahir, Islam dan komunisme berdiri di kutub berbeda. Satu menegakkan hukum ilahi, satunya meniadakan iman. Apakah persimpangan perjuangan masih mungkin terjadi?
Penjajahan ekonomi melalui utang luar negeri, dominasi budaya populer asing, hingga penetrasi ideologi global, sering dipandang sebagai bentuk kolonialisme baru (neo-colonialism).
Ayat ini bukan sekadar ajakan retoris. Ia membentuk basis ontologis bagi pemahaman bahwa manusia, sejak penciptaannya, membawa potensi keberagamaan yang lurus yaitu tauhid.
Bagi Ibrahim, Tuhan sejati tidak tunduk pada siklus alam. Tidak muncul lalu hilang. Tidak kuat di siang lalu lenyap saat malam. Tuhan, menurut penelitiannya, bukan bagian dari ciptaan, tapi penguasa atasnya.
Ia lahir di zaman ketika manusia menggantungkan sembah sujud pada bintang-bintang di langit, pada patung-patung buatan tangan sendiri, bahkan pada sesama manusia.
Ada paradoks dalam sejarah intelektual Islam: ajaran tauhid yang menjadi napas utama risalah kenabian justru baru menjadi ilmu setelah Nabi Muhammad wafat.
Kisah Zaid bin Amr bin Nufail adalah bagian dari sejarah iman sebelum Islam. Seorang hanif yang menjadi mata rantai antara Ibrahim dan Muhammad, antara langit dan bumi, antara Tuhan dan manusia.
Suatu hari, rasa penasaran membuat si pemuda duduk dan mendengarkan. Anehnya, hatinya tergetar. Kata-kata sang rahib memecahkan kabut dalam pikirannya. Hari demi hari, ia semakin sering singgah.
Ketika seorang muslim benar-benar tunduk pada ketetapan Allah, maka ia sedang menjalankan makna sejati dari kalimat syahadat: la ilaha illallah. Tiada yang berhak menetapkan hukum, kecuali Allah.