Wahyu kepada Muhammad SAW bukan sekadar risalah baru, melainkan penegasan untuk kembali pada millah Ibrahim yang lurus. Membenci jalan ini adalah bentuk nyata dari kebodohan diri di hadapan Sang Khalik.
Ibrahim Alaihissalam berdiri sebagai poros ketauhidan yang melampaui sekat zaman. Melalui ujian berat dan keberanian menghancurkan berhala, ia dinobatkan Allah sebagai imam bagi seluruh manusia.
Ibrahim Alaihissalam bukan sekadar nama dalam selawat shalat. Ia adalah prototipe kesabaran Ulul Azmi yang membangun fondasi iman melalui wahyu dan perjanjian teguh dengan Allah Azza wa Jalla.
Ketauhidan bukan sekadar konsep teologis, melainkan kunci pembuka ampunan paling dahsyat. Di tengah tumpukan dosa setinggi langit, kemurnian syahadat mampu menjungkirbalikkan timbangan amal manusia.
Imaduddin mengajak umat kembali ke tauhid yang jernih: bukan sekadar percaya Tuhan, tapi memurnikan ibadah dari mitos, kultus pemimpin, dan sisa-sisa paganisme yang terus berganti bentuk dari zaman ke zaman.
Qardhawi menyebut aqidah sebagai sumber hukum dan akhlak. Di Indonesia, ia sering hadir dalam retorika politik, tapi kerap absen dalam kebijakan nyata: dari pemberantasan korupsi hingga pengelolaan lingkungan.
Sejak lahir, Islam dan komunisme berdiri di kutub berbeda. Satu menegakkan hukum ilahi, satunya meniadakan iman. Apakah persimpangan perjuangan masih mungkin terjadi?
Penjajahan ekonomi melalui utang luar negeri, dominasi budaya populer asing, hingga penetrasi ideologi global, sering dipandang sebagai bentuk kolonialisme baru (neo-colonialism).
Ayat ini bukan sekadar ajakan retoris. Ia membentuk basis ontologis bagi pemahaman bahwa manusia, sejak penciptaannya, membawa potensi keberagamaan yang lurus yaitu tauhid.
Bagi Ibrahim, Tuhan sejati tidak tunduk pada siklus alam. Tidak muncul lalu hilang. Tidak kuat di siang lalu lenyap saat malam. Tuhan, menurut penelitiannya, bukan bagian dari ciptaan, tapi penguasa atasnya.
Ia lahir di zaman ketika manusia menggantungkan sembah sujud pada bintang-bintang di langit, pada patung-patung buatan tangan sendiri, bahkan pada sesama manusia.