LANGIT7.ID-Sebuah malam yang penuh bintang sering melahirkan keheningan. Tapi di benak seorang anak muda bernama
Ibrahim, langit malam justru menggema pertanyaan besar: apakah benda-benda yang berkilau ini—matahari, bulan, bintang—layak disembah sebagai Tuhan?
Ibrahim tidak segera menjawab pertanyaannya sendiri. Ia mengamati. Ia menimbang. Ia melihat bintang bersinar, lalu tenggelam. Ia melihat bulan bersinar terang, lalu menghilang. Ia menyaksikan matahari yang agung, lalu perlahan tenggelam ke barat. Dan pada akhirnya ia mengucapkan kesimpulannya: “
Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS al-An’am [6]:76–79)
Bagi Ibrahim, Tuhan sejati tidak tunduk pada siklus alam. Tidak muncul lalu hilang. Tidak kuat di siang lalu lenyap saat malam. Tuhan, menurut penelitiannya, bukan bagian dari ciptaan, tapi penguasa atasnya.
Dalam buku
Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW karya
Ja’far Subhani, dijelaskan bagaimana proses kontemplatif ini membentuk fondasi rasional dalam keimanan seorang nabi. Ia tak memulai dengan dogma, tapi dengan akal sehat. Ia tak membangun keimanan lewat paksaan, tapi lewat observasi. Dan lebih dari itu, ia tak mendewakan benda-benda langit, karena ia sadar: yang bergerak pasti digerakkan. Dan yang tunduk pada hukum rotasi, pasti bukan pencipta hukum itu sendiri.
“Wujud-wujud yang cerah dan bersinar itu sendiri tunduk pada ketetapan—terbit, terbenam, dan lenyap—menurut sistem tertentu… Ini membuktikan bahwa mereka tunduk pada kehendak dari sesuatu yang lain,” tulis Subhani.
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim: Lembah Tujuh Tempat Kambing Membawa Air Kembali Menggugat Tuhan-Tuhan KosmetikApa yang dilakukan Ibrahim bukan hanya sebuah filsafat langit. Ia menggugat dasar ideologis zamannya. Bahwa kekuasaan langit dan mitologi benda-benda langit telah terlalu lama dipakai sebagai penopang kekuasaan duniawi. Ayahnya sendiri, Azar, bukan orang sembarangan: seorang seniman, cendekia, dan ahli astrologi istana Namrud.
Dalam dunia di mana benda-benda langit disembah bukan karena kebenarannya, tapi karena stabilitas politik dan sosial, Ibrahim memulai revolusi dari meja makan keluarga.
Ia tidak membakar patung. Ia tidak menghasut massa. Ia berdialog. Dalam QS Maryam [19]:42–45, Ibrahim menggunakan bahasa yang sangat halus dan persuasif kepada ayahnya:
“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”
Subhani menulis bahwa metode Ibrahim ini mencerminkan model dakwah para nabi: dari dalam ke luar, dari keluarga ke masyarakat, dari argumen ke aksi. Ia tidak membawa tongkat, tapi membawa logika dan kasih.
Baca juga: Api, Kapak, dan Kekasih Tuhan: Tafsir Pembakaran Nabi Ibrahim pada 10 Muharram Tuhan Tidak Butuh PanggungIbrahim bukan hanya menyangkal ketuhanan benda-benda langit, tapi juga menyuguhkan prinsip teologis yang dalam: Tuhan tidak muncul dan menghilang. Tuhan tidak butuh ritual pemujaan untuk bisa hadir. Tuhan tidak tergantung pada kehadiran atau ketidakhadiran manusia.
Bagi Ibrahim, benda-benda langit bukan Tuhan karena mereka:
- Tidak hadir secara konsisten (kadang tampak, kadang tidak),
- Tidak memberi manfaat nyata saat tidak hadir,
- Tidak memiliki kesadaran atas geraknya sendiri.
“Apabila mereka bergerak untuk mencapai kesempurnaan… maka itu berarti mereka memerlukan suatu wujud yang independen, kuasa, dan bijaksana,” tulis Subhani, menjelaskan argumen filosofis Ibrahim (hal. 53).
Ini adalah bentuk teologi yang memisahkan Tuhan dari segala bentuk antropomorfisme dan mistifikasi benda. Suatu teologi yang kelak diperjuangkan kembali oleh Nabi Muhammad SAW enam abad kemudian—bukan dalam bentuk pemikiran filsafat, tapi melalui gerakan sosial yang menghancurkan 360 berhala di sekitar Kakbah.
Baca juga: Jejak Nabi Ibrahim di Makkah: Dinamika Sejarah Migrasi dan Wahyu Menang Tanpa MembentakSaat argumen gagal, dan Azar mengancamnya: “Kalau tidak, engkau akan dirajam sampai mati!” (QS Maryam:46), Ibrahim tidak balas membentak. Ia hanya berkata:
“Salam atasmu. Aku akan memohon kepada Tuhanku untuk mengampunimu.” (QS Maryam:47)
Subhani menegaskan, inilah akhlak kenabian: menang dalam debat tanpa harus mengalahkan lawan. Dakwah tidak boleh menggerakkan ego, tapi hati. Bahkan ketika pintu dialog ditutup, doa tetap menjadi jembatan.
Mengapa ini relevan hari ini?Di zaman yang penuh mitos modern—yang menyembah kekuasaan, uang, ketenaran, atau bahkan algoritma—kisah Ibrahim tetap menyala. Dunia hari ini tidak lagi menyembah matahari atau bulan secara harfiah, tapi masih sering menjadikan “yang tampak bersinar” sebagai penentu nilai hidup.
Baca juga: Asal-Usul Kota Makkah dan Kisah Nabi Ibrahim Kita masih menunduk pada yang bisa menghilang.
Kisah Ibrahim mengajak kita untuk kembali bertanya: apa yang benar-benar layak disembah? Apa yang tidak tunduk pada waktu, tidak hancur oleh musim, dan tidak tergantung pada manusia?
Di tengah malam yang panjang dan penuh pertanyaan, Ibrahim menyadari: yang bersinar belum tentu berkuasa. Yang benar adalah yang tetap ada bahkan ketika semua lampu padam. Dan yang layak disembah adalah Dia yang tidak pernah terbenam.
(mif)