LANGIT7.ID-Di sebuah lembah sunyi di Syam, kisah itu masih bergaung hingga kini. Orang-orang menyebutnya
Wadi Sab’i—Lembah Tujuh. Di sinilah
Nabi Ibrahim AS pernah menetap, dengan kawanan ternaknya yang konon mencapai 12.000 ekor kambing.
Di antara padang yang luas dan sumur-sumur yang memancur deras, Ibrahim hidup dengan limpahan rezeki. Setiap kawanan dijaga seekor anjing berbulu halus, mengenakan kalung emas, dan balutan sutra warna-warni di tubuhnya. Namun, di balik kemewahan itu, Ibrahim tidak pernah makan sendiri.
Setiap sore, jika belum juga ada tamu yang datang, ia akan berjalan jauh, beberapa mil, hanya untuk mencari seseorang yang bisa diajak makan bersama. Syair-syair Arab kuno mengenangnya sebagai lelaki yang berkata:
"Malam tidak akan menyenangkan apabila di waktu itu tidak ada tamu yang mau tinggal. Dan pagi tidak akan menggembirakan apabila pada saat itu tamu yang ada padaku pergi."
Baca juga: Api, Kapak, dan Kekasih Tuhan: Tafsir Pembakaran Nabi Ibrahim pada 10 Muharram Dalam sebuah riwayat, ia disebut sebagai manusia pertama yang menjamu tamu dan manusia pertama yang beruban. Suatu hari, ketika melihat helai-helai putih di janggutnya, Ibrahim bertanya pada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, apa ini?” Allah menjawab, “Itu adalah kewibawaan.” Mendengar itu, Ibrahim berdoa, “Kalau begitu, tambahkanlah kewibawaanku.” Seketika janggutnya memutih semua.
Namun, harta yang melimpah dan kawanan ternak yang tak terhitung justru membuat orang-orang di sekitarnya resah. Tanah terasa sempit, rumput habis, sumur-sumur dipadati hewan Ibrahim. Suatu hari, para penduduk datang padanya dan berkata, “Hai Saleh, pergilah dari negeri kami. Engkau telah menyempitkan tanah kami dengan ternakmu.”
Ibrahim—yang sering mereka panggil
asy-Syaikh ash-Shalih, orang tua yang saleh—tak membantah. Ia pergi. Membawa kawanan kambingnya menjauh dari lembah itu.
Lalu sesuatu yang tak mereka duga terjadi. Begitu Ibrahim pergi, sumur-sumur mereka mengering. Air yang dulu melimpah kini menjadi lumpur di dasar sumur. Ternak mereka mati kehausan, ladang-ladang retak. Satu per satu penduduk jatuh sakit, lalu binasa.
Dalam keputusasaan, mereka menyusul Ibrahim. Mereka meratap di hadapannya, meminta ia kembali. Namun, Ibrahim menolak.
“Apa yang kalian cari bukan aku,” ujarnya tenang.
“Kami kehabisan air sejak engkau pergi,” jawab mereka.
Ibrahim tersenyum. Ia menyerahkan tujuh ekor kambing kepada mereka. “Simpanlah di setiap sumur satu kambing. Air akan kembali kepada kalian,” katanya.
Baca juga: Jejak Nabi Ibrahim di Makkah: Dinamika Sejarah Migrasi dan Wahyu Mereka pun membawa kambing-kambing itu, satu per satu diletakkan di tepi sumur. Dan, seperti janji Ibrahim, air pun kembali memancar. Sumur-sumur yang mati kini hidup lagi. Ladang-ladang menghijau, ternak mereka kembali hidup.
Sejak hari itu, lembah itu dikenal dengan nama
Wadi Sab’i—Lembah Tujuh—mengenang tujuh kambing Ibrahim yang membawa berkah bagi mereka.
Orang-orang tua di sana masih percaya, jika air sumur mereka melimpah, itu karena doa Ibrahim dan keberkahan dari hewan-hewan yang dulu ditinggalkannya. Dan nama Ibrahim tetap hidup di bibir mereka sebagai seorang tua yang saleh, murah hati, dan membawa kehidupan bagi siapa saja yang ditemuinya.
(mif)