Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home masjid detail berita

Api, Kapak, dan Kekasih Tuhan: Tafsir Pembakaran Nabi Ibrahim pada 10 Muharram

miftah yusufpati Jum'at, 27 Juni 2025 - 15:53 WIB
Api, Kapak, dan Kekasih Tuhan: Tafsir Pembakaran Nabi Ibrahim pada 10 Muharram
Dan 10 Muharram, dalam kerangka ini, bukan hanya hari duka, tetapi hari keteguhan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Tanggal 10 Muharram selalu dipenuhi gema spiritual yang berlapis-lapis. Bagi sebagian umat, hari itu bukan hanya tentang Karbala atau kisah tobat para nabi. Ia juga dikenang sebagai momen api dinyalakan setinggi gunung untuk membakar seorang remaja pemberontak bernama Ibrahim.

Di hari itulah, menurut sebagian riwayat, Raja Namrudz menyalakan kobaran egonya. Namun, seperti kita tahu dari kisah yang diwariskan dalam kitab-kitab tafsir dan kisah para nabi, api itu gagal menjalankan tugasnya.

Dalam catatan Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas dalam "Kisah Penciptaan dan Tokoh-Tokoh Sepanjang Zaman", peristiwa itu terjadi saat Nabi Ibrahim baru berusia 17 tahun.

Ia telah dikenal sebagai penggugat sistem kepercayaan kaumnya yang memuja patung-patung tak bernyawa. Saat seluruh kota berbondong-bondong ke pesta perayaan tahunan para “tuhan” mereka, Ibrahim memilih tinggal. “Sesungguhnya aku sakit,” katanya, menukil QS. Ash-Shaffat ayat 89. Namun yang sakit bukan tubuhnya. Yang demam adalah nuraninya melihat akal sehat kaumnya yang dipasung oleh kebiasaan sesat.

Baca juga: Jejak Nabi Ibrahim di Makkah: Dinamika Sejarah Migrasi dan Wahyu

Saat tempat ibadah kosong, Ibrahim mengambil kapak dan menghancurkan 72 dari 73 berhala. Yang terbesar dibiarkan berdiri. Bahkan, kapaknya digantung di bahu sang berhala agung. Ketika orang-orang kembali dan menyaksikan kehancuran itu, mereka gusar. Mereka bertanya, lalu menuduh. Ibrahim menjawab dengan logika satir: “Bukan aku yang melakukannya. Tanyakan saja pada berhala besar itu.”

Pertanyaan Ibrahim bukan sekadar ejekan, melainkan sindiran intelektual: mengapa kalian menyembah sesuatu yang bahkan tak bisa membela dirinya sendiri? Jawaban itu menusuk dan menggugah. Tapi bagi kekuasaan, logika tak selalu bisa dikompromikan. Maka Namrudz, simbol kekuasaan yang tak tahan dikritik, memerintahkan hukuman bakar.

Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menggambarkan secara detail bagaimana Namrudz mengumpulkan kayu bakar selama tiga bulan, hingga menjadi tumpukan raksasa yang membakar udara Syam. Iblis, menyamar sebagai manusia, bahkan membantu menciptakan manjanik—alat pelempar batu raksasa—untuk melempar Ibrahim dari jauh karena panasnya api tak bisa didekati. Sebuah teknologi kekejaman yang terinspirasi dari neraka.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dalam ayat QS Al-Anbiya’ 69, Allah memerintahkan: “Hai api, jadilah kamu dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”

Api patuh. Ia menjadi sedingin embun dan sebebas taman. Dalam kisah yang diriwayatkan Iyas, Allah bahkan memberi ranjang dari surga, hamparan sutra, pohon delima, dan mahkota sebagai pelipur Ibrahim selama “di dalam api”.

Sementara itu, Namrudz hanya melihat dari kejauhan—bajunya hangus oleh percikan api, tubuhnya utuh, namun akalnya tetap tertutup.

Baca juga: Iduladha di Istiqlal, Fadli Zon Serukan Teladan Nabi Ibrahim dan Perkuat Budaya Bangsa

Tafsir As-Sa’di mencatat bahwa peristiwa ini justru membalikkan persepsi publik. Banyak yang beriman setelah melihat Ibrahim keluar dari api tanpa luka. Namun seperti banyak pemimpin yang terjebak dalam gengsi kekuasaan, Namrudz tidak melihat peristiwa itu sebagai tanda Tuhan. Ia justru mengusir Ibrahim, bukan karena kalah secara argumen, tapi karena kalah dalam pertunjukan kuasa.

Menariknya, beberapa ulama menambahkan bahwa pada hari yang sama, yakni 10 Muharram, Allah mengangkat Ibrahim sebagai khalilullah—kekasih Allah. Sebuah gelar yang tak dimiliki oleh nabi manapun kecuali Nabi Muhammad. Jika benar demikian, maka api yang menyala itu tak hanya gagal membakar tubuh Ibrahim, ia justru menjadi titik balik spiritual yang mengangkat Ibrahim dari seorang penggugat berhala menjadi pecinta sejati Tuhan.

Dalam terang ini, api Namrudz tak hanya simbol kekejaman rezim, tetapi juga lambang ujian eksistensial terhadap tauhid: sejauh mana keyakinan seseorang tetap utuh di tengah tekanan? Ibrahim menjawabnya dengan sikap tenang yang tak biasa. Ketika malaikat datang menawarkan pertolongan, ia menolak: “Cukuplah bagiku Allah yang mengetahui keadaanku.”

Kisah ini bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah kritik abadi terhadap penyembahan pada simbol, kekuasaan yang antikritik, dan ketundukan pada sistem yang mematikan akal. Ia adalah pengingat bahwa kadang yang tampak kalah di mata dunia, justru sedang dimenangkan di sisi Tuhan.

Dan 10 Muharram, dalam kerangka ini, bukan hanya hari duka, tetapi hari keteguhan. Hari ketika api tak lagi menyala, bukan karena tak dinyalakan, tetapi karena hati seorang pemuda telah menyala lebih dulu dengan iman yang tak bisa dipadamkan.

Baca juga: Asal-Usul Kota Makkah dan Kisah Nabi Ibrahim

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)