LANGIT7.ID-Dalam jagat teologi Islam, sosok Ibrahim bukan sekadar tokoh sentral, melainkan titik temu dari tradisi monoteisme yang kokoh. Namun, sebuah fragmen dalam kitab suci sering kali memantik diskusi panjang di kalangan mufasir dan sejarawan: siapakah sesungguhnya Azar? Selama berabad abad, teks-teks sejarah dan tafsir seolah membelah diri dalam menjawab apakah Azar merupakan ayah biologis Ibrahim atau hanya seorang paman yang mendampinginya di masa muda.
Jika menilik secara tekstual, beberapa ayat dalam Al Quran memang memberikan kesan kuat bahwa Azar adalah ayah Ibrahim. Dalam Surah At Taubah ayat 114 dan Surah Al Mumtahanah ayat 4, hubungan itu nampak gamblang sebagai relasi ayah dan anak. Namun, bagi sebagian kalangan ulama, terutama dari tradisi Syiah, asumsi ini tidak bisa diterima begitu saja. Ja Far Subhani dalam bukunya yang bertajuk
Ar Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW, pada halaman 50-69, memaparkan sebuah tesis yang menantang pemahaman arus utama tersebut.
Subhani mencatat bahwa terdapat konsensus di kalangan ulama Syiah, yang didukung pula oleh sejumlah ulama Sunni, bahwa nenek moyang Nabi Muhammad serta para nabi lainnya adalah orang orang bertakwa yang memegang teguh tauhid. Ulama besar Syekh Mufid dalam karyanya
Awail al Malaqat pada halaman dua belas, memandang prinsip ini sebagai kesepakatan mutlak. Jika Azar adalah seorang penyembah berhala yang tegar, maka ia tidak mungkin merupakan ayah biologis dari Ibrahim yang merupakan mata rantai suci menuju Muhammad.
Lantas, bagaimana memecahkan kontradiksi antara teks ayat dan keyakinan akan kesucian silsilah ini? Jawabannya terletak pada elastisitas semantik bahasa Arab. Dalam leksikon Arab kuno maupun terminologi Al Quran, kata ab memang lazim diterjemahkan sebagai ayah. Namun, kata ini juga memiliki ruang makna yang lebih luas, yakni paman atau kakek.
Sebagai bukti tekstual, para mufasir kerap merujuk pada Surah Al Baqarah ayat 133. Di sana dikisahkan saat Yaqub menjelang ajal dan bertanya kepada anak anaknya mengenai apa yang mereka sembah. Mereka menjawab:
Namudu ilahaka wa ilaha abaika Ibrahima wa Ismaila wa Ishaqa ilahan wahida. Artinya:
Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan ayah ayahmu, yakni Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam struktur silsilah, Ismail adalah paman dari Yaqub, bukan ayahnya. Yaqub adalah putra Ishaq, dan Ishaq adalah saudara Ismail. Penggunaan kata
ab untuk Ismail dalam ayat tersebut menjadi legitimasi linguistik bahwa paman pun bisa disapa dengan sebutan ayah. Berpijak pada logika ini, Azar diduga kuat adalah paman Ibrahim yang mengambil peran sebagai wali dalam waktu yang lama.
Diskusi ini tidak sekadar soal genealogis. Ia menyangkut martabat kenabian. Ibrahim yang dikenal sebagai Bapak Tauhid dianggap mustahil lahir dari benih seorang pembuat berhala dan ahli astrologi istana Namrud yang menentang Tuhan. Ja Far Subhani berpendapat bahwa Ibrahim memanggil Azar dengan sebutan wahai ayahku atau ya abati sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas perannya sebagai pengasuh, bukan karena ikatan darah.
Selain Ar Risalah, dalam beberapa karya ilmiah komunikasi dakwah, hubungan Ibrahim dan Azar sering dijadikan studi kasus mengenai kesantunan berdialog dengan orang tua atau wali meskipun terdapat perbedaan prinsip yang tajam. Ibrahim tetap menggunakan diksi yang halus, meski Azar mengancam akan merajamnya.
Ketidakpastian identitas Azar ini justru memperkaya khazanah intelektual Islam. Ia menunjukkan bahwa Al Quran tidak bisa dipahami hanya dengan modal kamus saku, melainkan memerlukan penggalian mendalam atas konteks sosiokultural bahasa Arab serta konsistensi sejarah para pembawa risalah. Azar mungkin tetap menjadi misteri bagi pembaca awam, namun bagi para pencari kebenaran, ia adalah pengingat bahwa keimanan tidak selalu menurun melalui darah, melainkan melalui pilihan jiwa yang merdeka.
(mif)