Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 15 Mei 2026
home masjid detail berita

Akar Arab Musta'ribah: Pertautan Garis Ismail dan Suku Jurhum di Makkah

miftah yusufpati Jum'at, 15 Mei 2026 - 16:18 WIB
Akar Arab Musta'ribah: Pertautan Garis Ismail dan Suku Jurhum di Makkah
Pembagian antara Qathan dan Adnan adalah pilar utama untuk memahami geopolitik Jazirah Arab kuno. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Lembah itu semula hanyalah hamparan batu dan pasir yang sunyi, diapit gunung-gunung cadas yang membara di bawah matahari Hijaz. Tak ada pohon, tak ada aliran sungai, apalagi tanda-tanda peradaban. Namun, di titik inilah sejarah besar dunia mulai memahat wajahnya. Di sinilah kisah Arab Musta'ribah bermula, sebuah kelompok masyarakat yang secara harfiah berarti mereka yang menjadi Arab atau peranakan Arab.

Asal-usul mereka bukanlah dari akar yang tumbuh langsung di tanah Jazirah. Mereka adalah saksi bisu dari proses asimilasi paling fenomenal dalam catatan etnografi Timur Tengah. Kelompok ini sering juga dijuluki Adnaniyun, merujuk pada Adnan, salah satu keturunan mulia yang menyambungkan garis nasab mereka kepada Ismail bin Ibrahim.

Membicarakan Arab Musta'ribah berarti membuka lembar sejarah tentang kedatangan seorang ibu dan bayi yang ditinggalkan di tengah kesunyian. Siti Hajar dan Ismail muda adalah pendatang di tanah itu. Secara antropologis, mereka bukanlah orang Arab. Ibrahim, sang ayah, berasal dari wilayah Mesopotamia (Irak) yang berakar pada rumpun bangsa Semit kuno. Namun, takdir mempertemukan mereka dengan Suku Jurhum, sebuah kabilah dari kelompok Qathaniyun (Arab asli) yang tengah bermigrasi mencari sumber air.

Asimilasi di Tengah Gurun

Kehadiran mata air Zamzam menjadi magnet yang mengubah sosiologi lembah Makkah. Suku Jurhum yang melihat burung-burung berputar di atas lembah segera menyadari keberadaan air. Dengan izin Hajar, mereka menetap. Di sinilah proses Musta'ribah terjadi. Ismail muda tumbuh besar di tengah lingkungan Suku Jurhum. Ia belajar bahasa Arab, menyerap adat istiadat mereka, hingga akhirnya menikahi wanita dari kabilah tersebut.

Dalam literatur sejarah klasik seperti Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, dijelaskan bahwa dari pernikahan inilah lahir generasi baru yang darahnya bercampur antara keturunan Ibrahim yang non-Arab dengan Jurhum yang Arab murni. Proses ini dalam ilmu sosial disebut sebagai akulturasi sempurna, di mana identitas pendatang melebur total ke dalam identitas lokal tanpa kehilangan kehormatan nasab aslinya.

Philip K. Hitti dalam bukunya yang monumental, History of the Arabs (2002), menyebutkan bahwa bangsa Arab secara umum termasuk dalam ras Caucasoid, khususnya subras Mediteranian. Anggota subras ini meliputi wilayah sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, hingga Irania. Karakteristik fisik dan ketangguhan mereka terbentuk oleh lingkungan gurun yang ekstrem.

Arab Musta'ribah, sebagaimana saudara-saudara mereka di Jazirah, menjalani hidup sebagai kaum nomad. Gurun pasir yang kering dan curah hujan yang sangat rendah memaksa mereka untuk terus berpindah. Mereka adalah pengintai awan dan pemburu stepa. Setiap kali hujan turun secara sporadis di tanah gersang, mereka akan bergerak mengikuti tumbuhnya padang rumput di sekitar oasis.

Pola hidup berpindah ini membentuk karakter yang mandiri, berani, dan sangat menghargai ikatan darah. Bagi masyarakat Arab, nasab atau garis keturunan adalah segalanya. Hal ini pula yang menyebabkan klasifikasi penduduk Jazirah Arab menjadi sangat tegas hingga hari ini: Qathaniyun yang dianggap sebagai Arab asli dari selatan, dan Adnaniyun (Musta'ribah) yang menetap di wilayah utara dan tengah.

Peran penting Nabi Ismail dalam pembentukan entitas ini ditegaskan dalam banyak riwayat. Secara teologis, kedudukan Ismail bukan hanya sebagai bapak biologis bagi kaum Adnaniyun, tetapi juga peletak dasar spiritualitas di Makkah. Allah SWT berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 37 mengenai penempatan Ismail di lembah tersebut:

رَبَّنَآ اِنِّيٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ

Artinya: Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.

Ayat ini mengukuhkan bahwa eksistensi Arab Musta'ribah di Makkah bukanlah kebetulan sejarah, melainkan bagian dari desain besar pembangunan peradaban di sekitar Ka'bah.

Adnan dan Pohon Silsilah

Meski disebut Bani Ismail, nama Adnaniyun lebih sering digunakan untuk merujuk pada kelompok Musta'ribah. Adnan adalah tokoh kunci yang silsilahnya disepakati oleh para pakar nasab memiliki garis lurus hingga ke Ismail. Namun, para sejarawan seperti Imam Ath-Thabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk mencatat bahwa silsilah dari Adnan ke atas hingga Ismail memiliki banyak versi dan celah waktu yang panjang, sehingga sering kali para ulama memilih untuk berhenti menyebutkan nasab setelah mencapai nama Adnan demi menjaga keakuratan.

Dari keturunan Adnan inilah kemudian lahir suku-suku besar yang mendominasi panggung sejarah Arab, termasuk Suku Quraisy yang kelak melahirkan Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, Musta'ribah bukan sekadar status peranakan, melainkan sebuah identitas yang menyandang kemuliaan ganda: darah Arab yang tangguh dan garis kenabian dari Ibrahim.

Pertemuan antara Qathaniyun dan Adnaniyun tidak selalu berjalan mulus dalam sejarah. Meskipun mereka sama-sama menghuni Jazirah, perbedaan asal-usul ini sering kali memicu sentimen kesukuan. Qathaniyun merasa lebih berhak atas predikat Arab karena mereka adalah penduduk asli yang berasal dari Yaman, sementara Adnaniyun sering dipandang sebagai pendatang yang terarabkan.

Namun, sejarah membuktikan bahwa Arab Musta'ribah justru menjadi motor penggerak peradaban di wilayah tengah Jazirah. Mereka berhasil mengelola Makkah menjadi pusat perdagangan internasional yang menghubungkan rute selatan (Yaman) ke utara (Syam). Kemampuan diplomasi dan pengelolaan perdagangan ini membuat mereka disegani oleh kabilah-kabilah lain di gurun.

Dalam perspektif karya ilmiah modern, seperti yang ditulis oleh Jawwad Ali dalam Al-Mufassal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam, pembagian antara Qathan dan Adnan adalah pilar utama untuk memahami geopolitik Jazirah Arab kuno. Tanpa memahami dinamika antara kedua golongan besar ini, mustahil kita bisa memahami konflik dan aliansi yang terjadi pada masa pra-Islam maupun di masa-masa awal perluasan wilayah Islam.

Kini, istilah Arab Musta'ribah mungkin sudah jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari di kafe-kafe Riyadh atau Dubai. Namun, dalam setiap penyebutan nasab dan dalam setiap doa yang dipanjatkan di depan Ka'bah, ingatan akan Hajar, Ismail, dan perjumpaan dengan Suku Jurhum tetap hidup.

Mereka adalah bukti bahwa identitas suatu bangsa tidak selalu bersifat statis. Arab Musta'ribah menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap pendatang, proses belajar bahasa, dan asimilasi budaya dapat melahirkan entitas baru yang justru membawa perubahan besar bagi dunia. Dari sebuah lembah gersang tanpa nama, peranakan Arab ini tumbuh menjadi penjaga tradisi dan spiritualitas yang gaungnya menembus batas-batas gurun pasir, menjangkau hingga ujung dunia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 15 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)