LANGIT7.ID-Dalam lembaran sejarah kemanusiaan, penemuan roda, api, hingga teknologi atom sering kali dipandang sebagai tonggak yang mengubah jalannya peradaban. Namun, bagi para sejarawan dan intelektual seperti al-Akkad, ada satu penemuan manusia yang jauh melampaui rahasia-rahasia atom tersebut: penemuan Nabi Ibrahim as.. Jika penemuan materi membantu manusia menguasai alam, penemuan Ibrahim justru menguasai jiwa dan raga manusia, mengubah posisi manusia yang tadinya tunduk pada alam menjadi makhluk yang mampu menguasai serta menilai baik-buruknya.
M. Quraish Shihab dalam karyanya yang termuat dalam
Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah menekankan bahwa memahami ibadah haji secara mendalam tidak mungkin dilepaskan dari sejarah Ibrahim as.. Ibrahim bukan sekadar tokoh sentral dalam tiga agama samawi terbesar, melainkan bapak para nabi, bapak monoteisme, sekaligus proklamator keadilan Ilahi. Di tangannya, konsep ketuhanan mengalami pergeseran radikal.
Monoteisme yang dibawa Ibrahim bukan hanya hakikat keagamaan, melainkan penunjang akal ilmiah. Kepastian yang dibutuhkan ilmuwan mengenai tata kerja alam sejatinya bersandar pada keyakinan akan satu pengatur yang konsisten. Tanpa ajaran monoteisme ini, tidak ada jaminan stabilitas hukum alam jika tuhan yang mengaturnya berganti-ganti. Tuhan yang diperkenalkan Ibrahim bersifat universal; Dia adalah Tuhan seru sekalian alam yang imanen sekaligus transenden, yang menyertai manusia dalam diam maupun bergerak, saat tidur maupun jaga, serta sebelum dan sesudah kematian.
Ajaran Ibrahim menandai lembaran baru yang berbeda dari upaya-upaya tauhid sebelumnya. Di Mesir 5.000 tahun lalu, ajaran keesaan sempat dikumandangkan, namun ia hanyalah dekrit singgasana yang mudah dibatalkan oleh penguasa berikutnya. Ibrahim hadir dengan risalah untuk seluruh umat manusia, membawa keadilan Ilahi yang menyetarakan si kuat dan si lemah di hadapan Tuhan. Kekuatan seseorang dipandang sebagai anugerah-Nya, sementara kelemahan adalah bagian dari hikmah kebijaksanaan-Nya.
Puncak transformasi kemanusiaan yang dibawa Ibrahim terlihat pada sikap tegasnya terhadap tradisi sesajen manusia. Ibrahim hadir di masa persimpangan ketika pengorbanan nyawa manusia dianggap lazim. Melalui peristiwa penyembelihan Ismail yang kemudian digantikan dengan domba, Ibrahim secara amaliah menghapus praktik keji tersebut. Larangan ini muncul bukan karena nilai manusia terlalu tinggi untuk berkorban, melainkan karena Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Uniknya, Ibrahim membina keyakinannya melalui pencarian dan pengalaman kerohanian yang empiris. Al-Quran merekam jejak pencariannya dalam Surah al-An'am ayat 75. Bahkan, ia adalah satu-satunya nabi yang meminta kepada Tuhan untuk diperlihatkan cara menghidupkan yang mati demi kemantapan hati, sebagaimana terekam dalam Surah al-Baqarah ayat 260:
رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰArtinya: "
Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati."
Melalui permintaan yang dikabulkan tersebut, Ibrahim menegaskan bahwa iman dalam ajarannya tidaklah buta, melainkan dibangun di atas keyakinan yang disaksikan oleh akal dan kalbu. Warisan Ibrahim tetap abadi, menghiasi jiwa manusia agar tidak berlaku sewenang-wenang di tengah penguasaan mereka atas dunia.
(mif)