LANGIT7.ID-Jarak antara Palestina dan Mekah bukanlah bentangan yang pendek bagi seorang lelaki yang telah lanjut usia. Namun, bagi Ibrahim, kerinduan pada darah dagingnya, Ismail, adalah dorongan yang tak terbendung oleh letih. Ja'far Subhani dalam bukunya
Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW menggambarkan bagaimana Ibrahim, sang bapak tauhid, sesekali melakukan perjalanan panjang untuk menjenguk putra yang dahulu ia tinggalkan di lembah tak berpenghuni atas titah Ilahi.
Namun, pertemuan yang diharapkan tidak selalu berjalan sesuai skenario pertemuan keluarga yang mengharukan. Pada salah satu kunjungannya, Ibrahim tiba di depan pintu rumah Ismail hanya untuk mendapati putranya sedang pergi berburu. Yang menyambutnya hanyalah istri Ismail, seorang gadis dari suku Jarham. Alih-alih mendapatkan keramahan sebagai tamu, Ibrahim justru dihadapkan pada sikap kasar dan keluhan. Ketika ditanya tentang persediaan makanan, perempuan itu menjawab dengan ketus bahwa tidak ada apa-apa untuk disuguhkan.
Ibrahim, yang dikenal dengan kelembutan hati namun tegas dalam prinsip moral, merasa masygul. Kecewa melihat karakter pasangan hidup putranya yang tidak memiliki jiwa kedermawanan, ia menitipkan sebuah pesan teka-teki. "Bila Ismail pulang, sampaikan salamku, dan katakan kepadanya untuk mengganti ambang pintu rumahnya," ucap Ibrahim sebelum beranjak pergi.
Ismail bukanlah pemuda biasa. Sekembalinya dari berburu, ia mencium aroma kehadiran sang ayah. Sebagaimana dikutip dalam Bihar al-Anwar dari kitab
Qishash al-Anbiya, Ismail segera memahami maksud metafora ayahnya. Ambang pintu adalah simbol istri—fondasi paling dasar dalam menjaga kehormatan dan kenyamanan sebuah rumah tangga. Pesan itu bermakna tegas: istrinya saat itu tidak pantas mendampingi seorang calon nabi. Ketidakmampuan menghormati tamu dan rasa syukur yang rendah dianggap sebagai cacat karakter yang serius dalam tradisi kenabian.
Ada sisi menarik yang diulas para sejarawan mengenai mengapa Ibrahim tidak menunggu Ismail pulang. Subhani menjelaskan bahwa kesetiaan Ibrahim pada janji adalah alasannya. Ia telah berjanji kepada Sarah, istrinya di Palestina, bahwa ia tidak akan tinggal lama di Mekah. Komitmen ini menunjukkan betapa Ibrahim menjaga harmoni perasaan keluarganya, meskipun itu berarti ia harus kehilangan kesempatan memeluk Ismail pada hari itu.
Pertemuan fisik yang tertunda itu kelak dibayar tuntas pada perjalanan berikutnya, saat perintah Allah datang untuk membangun Ka'bah. Dalam masa-masa ini, Ibrahim menyaksikan bagaimana lembah sunyi itu telah bertransformasi menjadi sebuah pemukiman yang mulai berdenyut. Mekah bukan lagi padang pasir yang hanya dilewati kafilah, melainkan sebuah oase sosial yang tumbuh karena berkah air Zamzam dan kehadiran suku Jarham.
Di sanalah Ibrahim melangitkan doa yang tercatat dalam Surah Ibrahim ayat 35: Rabbi-j’al hadzal-balada aminan wajnubni wa baniyya an na’budal-ashnam. Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.
Interpretasi atas peristiwa ini melampaui sekadar masalah domestik. Ia adalah pelajaran tentang standar etika bagi keluarga pembawa risalah. Ibrahim sedang mendidik Ismail bahwa keberlangsungan perjuangan tauhid memerlukan pendamping yang memiliki ketahanan mental dan kemuliaan akhlak. Di kemudian hari, sejarah membuktikan bahwa dari rahim-rahim yang tangguh dan penuh syukur di Mekah itulah, lahir generasi yang menjaga Ka'bah hingga datangnya penutup para nabi. Kunjungan singkat Ibrahim bukan sekadar silaturahmi, melainkan sebuah supervisi moral bagi peradaban yang sedang ia bangun.
(mif)