LANGIT7.ID- Di jantung kota Makkah, jutaan manusia berkumpul melingkari sebuah bangunan kubus bersalut kain hitam. Ritual kolosal ini, yang kita kenal sebagai haji, sejatinya adalah sebuah panggung napak tilas sejarah yang merujuk pada satu sosok sentral: Ibrahim as. M. Quraish Shihab dalam tulisannya di buku
Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah menekankan bahwa memahami haji mengharuskan kita menelisik kembali pengalaman personal Ibrahim beserta keluarganya. Ibrahim bukan sekadar tokoh masa lalu; ia adalah teladan bagi seluruh manusia, sebuah kedudukan yang ditegaskan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 127.
Keteladanan Ibrahim termanifestasi secara fisik melalui pembangunan kembali fondasi-fondasi Ka'bah bersama putranya, Ismail. Sejarah mencatat bahwa Ibrahim pulalah yang pertama kali diperintahkan untuk mengumandangkan syariat haji ke seluruh penjuru dunia, sebagaimana termaktub dalam surah Al-Hajj ayat 27. Namun, di balik kemegahan ritual tersebut, terdapat substansi keyakinan yang menjadi roh dari setiap gerakan jamaah haji.
Quraish Shihab membedah inti ajaran Ibrahim menjadi tiga pilar utama yang sangat relevan hingga hari ini. Pertama adalah pengakuan mutlak atas keesaan Tuhan. Ibrahim berdiri sebagai sosok yang menolak segala bentuk kemusyrikan, mulai dari pemujaan terhadap berhala hingga benda-benda langit seperti bintang, bulan, dan matahari. Baginya, ketundukan hanya layak diberikan kepada Allah SWT.
Pilar kedua adalah keyakinan akan neraca keadilan Tuhan. Ibrahim mengajarkan bahwa kehidupan ini tidaklah hampa dari pertanggungjawaban; setiap perbuatan memiliki timbangan keadilan yang puncaknya akan disaksikan setiap makhluk pada hari kebangkitan kelak.
Namun, poin ketiga adalah yang paling mendesak untuk dikontekstualisasikan di era modern ini: keyakinan tentang kemanusiaan yang bersifat universal. Ajaran Ibrahim menegaskan bahwa tidak ada perbedaan dalam nilai kemanusiaan seseorang dengan orang lainnya, terlepas dari sekat-sekat etnis, status sosial, maupun warna kulit. Prinsip persamaan ini dilambangkan secara gamblang dalam praktik ibadah haji, di mana semua manusia berdiri sejajar dalam balutan kain ihram yang seragam.
Ketundukan manusia kepada Tuhan, dalam pandangan Al-Quran yang diwariskan melalui tradisi Ibrahim, mengantar pada kesadaran bahwa manusia sama-sama berada di bawah pengaturan dan pemeliharaan-Nya. Meski manusia memiliki kemampuan untuk mengelola makhluk lain di alam semesta, kemampuan itu bukanlah kekuatan absolut milik sendiri, melainkan hasil penundukan oleh Tuhan. Karena itu, manusia tidak dibenarkan berlaku sewenang-wenang terhadap sesama makhluk, melainkan wajib bersikap bersahabat.
Persamaan nilai kemanusiaan ini berakar kuat pada keyakinan akan keesaan Tuhan. Jika Tuhannya satu, maka semua ciptaan-Nya memiliki derajat asal yang setara. Sebagaimana diisyaratkan dalam surah Al-Hujurat ayat 13, terdapat kaitan erat antara tauhid dengan persamaan derajat manusia. Ibrahim melalui tindakannya menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah harus berbanding lurus dengan penghargaan terhadap kemanusiaan.
Menjelang akhir hayatnya, Ibrahim meninggalkan legasi berupa sebuah sistem keyakinan yang menempatkan manusia sebagai subjek yang bermartabat di bawah kuasa Ilahi. Kunjungan ke Makkah setiap tahunnya bukanlah sekadar wisata religi, melainkan penegasan kembali dari setiap individu tentang keterikatannya pada prinsip keadilan dan kemanusiaan universal yang diperjuangkan oleh Ibrahim.
Ibrahim berdoa agar negeri yang dibangunnya menjadi aman sentosa, sebuah permohonan yang direkam dalam Al-Quran:
رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنًاArtinya: "
Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa." (QS. Al-Baqarah: 126).
Keamanan sebuah negeri, dalam filosofi Ibrahim, hanya bisa dicapai jika keadilan ditegakkan dan nilai kemanusiaan dijunjung tinggi tanpa diskriminasi. Keteladanan Ibrahim adalah kompas bagi peradaban yang merindukan kedamaian di bawah naungan Tauhid yang murni.
(mif)