Tragedi pembantaian Husain bin Ali di Padang Karbala menjadi hulu ledak sejarah yang mengubah Hari Asyura menjadi simbol perlawanan spiritual sekaligus pembelah teologis umat Islam hingga hari ini.
Umat Islam memasuki tahun baru Hijriah melalui gerbang Muharram. Sebuah bulan suci kuno yang dipertahankan Islam untuk menegakkan disiplin spiritual dan meredam syahwat konflik manusia.
Perbedaan cara pandang terhadap 10 Muharam membelah ingatan umat Islam secara diametral. Sebuah pelacakan kritis terhadap teks hadis, memori sejarah, dan ritus akulturasi budaya.
Tradisi yang hidup di tengah masyarakat Indonesia ini tidak berasal dari syariat yang baku, namun berakar pada spirit kepedulian dan cinta kasih kepada mereka yang kehilangan pelindung.
Dari keutamaan puasa hingga praktik ritual yang dipertanyakan, hari Asyura menjadi ruang tarik-menarik antara warisan keimanan dan budaya turun-temurun.
Dibaca setiap tahun di hari Asyura, doa ini melampaui batas teks. Ia jadi cermin ketundukan umat kepada Tuhan, dan pengingat akan nasib para nabi yang diselamatkan dalam hari-hari genting.
Bulan pembuka tahun Hijriah ini sarat makna dan sejarah. Al-Qur'an dan literatur klasik Islam mencatat banyak peristiwa besar terjadi di dalamnya, memperkuat kedudukannya sebagai salah satu bulan paling mulia.
Di balik dua ayat pendek itu, warisan riwayat dan spekulasi tafsir menjelma menjadi lanskap spiritual yang luas yang kehilangan arah dalam memaknai pencapaian sejati.
Bagi sebagian umat, hari itu bukan hanya tentang Karbala atau kisah tobat para nabi. Ia juga dikenang sebagai momen api dinyalakan setinggi gunung untuk membakar seorang remaja pemberontak bernama Ibrahim.
Menurut Habib Syech Bin Abdul Qadir Assegaf, acara santunan untuk anak yatim merupakan budaya yang patut dipertahankan. Hanya saja, acara santunan tak perlu dipertontonkan, apalagi kalau sampai mengeksploitasi mereka untuk kepentingan pencitraan.
UAH melanjutkan, agar tidak terjebak pada segala hal terlarang yang mengarahkan manusia kepada keburukan, maka jangan pernah menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya saat masuk momentum ini untuk melatih diri.
Ada 7 kegiatan berpahala saat puasa yang bisa dilakukan kaum muslimin. Aktivitas ini lebih baik ketimbang tidur menghabiskan waktu menunggu waktu berbuka.
Umat Islam yang tertinggal puasa Tasua pada 9 Muharram bisa menggantinya pada 11 Muharram. Amalan ini bertujuan untuk menyelisihi puasanya orang-orang Yahudi.