LANGIT7.ID-Matahari tepat berada di puncaknya ketika deru angin gurun menerbangkan debu-debu kering di Padang Karbala. Di tempat terpencil itu, waktu seolah berhenti pada hari Jumat, 10 Muharam tahun 61 Hijriah. Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu kesayangan Nabi Muhammad, berdiri tegak dalam kepungan rapat 4000 pasukan bersenjata lengkap.
Di sekelilingnya, jasad puluhan keluarga dan pendukung setianya sudah terbujur kaku di atas pasir yang memerah. Dengan tubuh yang melemah akibat rasa haus yang membakar dan beberapa luka sabetan, Husain menghadapi detik-detik terakhir hidupnya sendirian.
Momentum berdarah di padang tandus Irak ini menjadi titik balik sejarah yang tidak pernah dilupakan. Peristiwa ini kemudian melahirkan garis demarkasi emosional dan teologis yang sangat tebal dalam ingatan kolektif kaum Syiah di seluruh dunia.
Bagi kalangan Syiah, Hari Asyura memiliki kedudukan yang sangat sakral. Hari tersebut bukan lagi sekadar penanda waktu dalam kalender Hijriah, melainkan sebuah simbol penderitaan, keadilan, dan perlawanan terhadap kezaliman. Akar dari kesakralan ini bermula dari konstelasi politik pasca-wafatnya Muawiyah.
Ketika Yazid bin Muawiyah dibaiat sebagai khalifah baru di wilayah Syam, Husain secara tegas menolak untuk memberikan pengakuan legitimasi. Beliau memilih meninggalkan Madinah menuju Makkah untuk menghindari konflik langsung. Langkah politik Husain ini didengar oleh penduduk Kufah di Irak yang kemudian mengirimkan lebih dari 500 surat dukungan.
Berdasarkan catatan Utsman Muhammad al-Khamis dalam buku
Huqbah min al-Tarikh halaman 140, ratusan surat tersebut berisi pernyataan bahwa mereka menolak membaiat Yazid dan hanya mau taat kepada keluarga Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin tertinggi umat Islam.
Guna memastikan keseriusan komitmen penduduk Kufah, Husain mengutus sepupunya yang bernama Muslim bin Aqil. Di Kufah, Muslim mendapat sambutan luar biasa dari ribuan orang yang menyatakan kesetiaan teologis kepada Husain.
Namun, angin politik segera berbalik arah ketika Yazid mencopot Gubernur Kufah yang lama, Nu'man bin Basyir, karena dianggap terlalu pasif. Yazid menyerahkan kekuasaan penuh Kufah dan Bashrah kepada Ubaidillah bin Ziyad, seorang tokoh militer yang bertangan besi. Ubaidillah bergerak cepat menangkap para tokoh kunci penggerak massa, termasuk menahan Hani bin Urwah. Penahanan ini memicu kemarahan Muslim bin Aqil yang langsung memimpin pengepungan istana gubernur bersama 4000 pendukung fanatik Husain pada siang hari.
Tragedi pengkhianatan terbesar dalam sejarah Islam pun dimulai dari sini. Ubaidillah merespons pengepungan tersebut dengan menyebarkan ancaman bahwa pasukan militer besar dari Syam sedang bergerak menuju Kufah. Gertakan politik ini berhasil memicu kepanikan massal di barisan pembela Husain. Satu per satu pendukung tersebut melarikan diri demi menyelamatkan diri sendiri.
Saat matahari terbenam pada hari itu, 4000 orang yang sebelumnya berteriak setia mendadak lenyap tanpa bekas. Muslim bin Aqil tertinggal seorang diri di tengah kegelapan kota Kufah sebelum akhirnya ditangkap dan dieksekusi mati pada tanggal 9 Dzulhijjah. Sebelum pedang algojo merenggut nyawanya, Muslim sempat mengirimkan surat peringatan terakhir kepada Husain agar membatalkan perjalanan karena penduduk Kufah telah berkhianat.
Firasat KarbalaPeringatan akan bahaya laten karakter politik penduduk Kufah sebenarnya sudah berulang kali disampaikan oleh para sahabat senior Nabi Muhammad di Makkah. Ibnu Umar sempat menemui Husain secara personal dan menangis sambil memeluknya agar tidak melanjutkan perjalanan ke Irak.
Sahabat lain, Abu Said al-Khudri, juga memberikan nasihat serupa. Abu Said mengingatkan Husain tentang perkataan ayahnya, Ali bin Abi Thalib, semasa hidup yang mengeluhkan watak penduduk Kufah yang tidak pernah menepati janji sedikit pun. Namun, Husain tetap teguh pada pendiriannya dan berangkat bersama 72 orang anggota keluarga serta pengikut setianya.
Rombongan kecil ini akhirnya menapakkan kaki di sebuah wilayah tandus bernama Karbala. Ketika Husain menanyakan nama tempat tersebut dan mendengar jawaban para pengikutnya, beliau langsung teringat akan sebuah firasat buruk yang kini menjadi kenyataan. Mengenai momen krusial ini, tercatat sebuah kalimat yang kemudian menjadi duka abadi:
كَرْبٌ وَبَلَاءٌArtinya:
Bencana dan musibah.
Di tempat inilah rombongan Husain dihadang oleh 4000 pasukan bentukan Ubaidillah bin Ziyad di bawah komando Umar bin Saad. Husain yang menyadari ketidakseimbangan kekuatan militer sempat menawarkan tiga opsi damai, yakni dikawal pulang ke Makkah, pergi menemui Yazid di Syam, atau pergi ke perbatasan untuk ikut berjihad.
Ubaidillah pada awalnya cenderung menerima opsi damai tersebut. Namun, tokoh provokator bernama Syamr bin Dzil Jausyan memprotes keras dan mendesak agar Husain dijadikan tawanan perang terlebih dahulu.
Penolakan Husain untuk menjadi tawanan akhirnya memicu pertempuran yang sangat timpang. Walaupun sempat diwarnai aksi membelotnya 30 pasukan Irak yang dipimpin al-Hurru bin Yazid ke kubu Husain, pembantaian massal tetap tidak terhindarkan. Husain gugur setelah dihujani panah oleh Syamr dan dadanya ditusuk tombak oleh Sinan bin Anas.
Tradisi Pasca-TragediKematian tragis Husain di Hari Asyura memicu polarisasi tradisi peringatan yang sangat ekstrem di dalam tubuh umat Islam dari abad ke abad. Bagi kaum Syiah, Asyura diperingati sebagai hari duka nasional spiritual. Mereka mengekspresikan kesedihan mendalam atas penderitaan ahlulbait dengan cara berkumpul, menangis secara massal, hingga melakukan ritual meratapi diri sebagai bentuk penyesalan historis atas pengkhianatan masa lalu. Ritual berkabung ini menjadi identitas kultural utama kaum Syiah untuk merawat ingatan melawan penindasan.
Sebaliknya, pada masa lalu sempat muncul kelompok Nashibah yang justru mengekspresikan kegembiraan pada hari Asyura karena kebencian mereka kepada keluarga Ali. Mereka mengubah hari kematian Husain menjadi hari raya, yang kemudian melahirkan berbagai tradisi tandingan seperti memberikan santunan berlebih, menggembirakan keluarga, dan membuat perayaan-perayaan sosial yang kontras dengan suasana duka.
Di tengah dua kutub ekstrem tersebut, mayoritas muslim Sunni memilih jalan tengah yang moderat. Tokoh Islam dunia, Ibnu Taimiyah, dalam kitab monumental
Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah Juz 4 halaman 330, memberikan ulasan teologis yang sangat jernih. Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa Husain bin Ali terbunuh dalam keadaan terzalimi dan berhak mendapatkan status syahid yang tinggi di sisi Allah.
Pembunuhan tersebut adalah kemaksiatan besar dan musibah bagi kaum muslimin. Namun, beliau juga mengingatkan bahwa musibah ini tidak boleh disikapi dengan cara berlebihan yang merusak diri. Kaum Sunni memandang tanggal 10 Muharam secara proporsional sesuai tuntunan syariat, yaitu menjadikannya sebagai momentum untuk memperbanyak amal saleh, terutama menjalankan ibadah puasa sunah Asyura demi mengejar ampunan dosa.
Sejarah kelam di Padang Karbala pada akhirnya menyisakan sebuah pelajaran penting tentang bagaimana sebuah peristiwa politik masa lalu mampu membentuk psikologi keagamaan jutaan manusia selama berabad-abad. Perbedaan cara pandang dalam memperingati Hari Asyura ini membuktikan bahwa ingatan sejarah sering kali lebih tajam daripada sebilah pedang dalam membelat tradisi dan perasaan suatu kaum.
(mif)