LANGIT7-ID- Di
kalender Islam,
10 Muharam — hari
Asyura — selalu menempati ruang istimewa. Bukan hanya karena nilai spiritualnya, tetapi karena hari itu telah menjadi kanvas luas yang memuat banyak cerita: dari yang diwarnai air mata, dibalut mitos, hingga yang dipertanyakan keabsahannya. Seperti sebuah palimpsest, Asyura ditulisi ulang oleh zaman dan keyakinan.
Ada yang meyakini bahwa pada hari Asyura,
Nabi Adam diciptakan,
Nabi Ibrahim dilahirkan, tobatnya diterima, bahkan bahwa
hari kiamat akan terjadi pada tanggal itu. Bahkan, berkembang keyakinan bahwa siapa yang mandi besar atau memakai celak mata di hari Asyura takkan sakit sepanjang tahun. Bagi sebagian umat, ini bukan sekadar cerita; ini menjadi laku keagamaan yang dijalani dengan keyakinan penuh.
Namun bagi Prof. Dr. H. Ahmad Khairuddin, M.Ag, semua itu perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih jernih. Dalam karyanya "
Asyura: Antara Doktrin, Historis dan Antropologis Perspektif Dakwah Pencerahan", ia menyebutkan bahwa tak satu pun dari klaim tersebut memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam. “Hadis-hadis seperti ‘siapa yang memberikan kelonggaran pada hari Asyura’ atau ‘siapa yang mandi maka tidak sakit sepanjang tahun’, semuanya tidak memiliki sanad yang shahih,” ujarnya.
Baca juga: Nabi Yunus di Perut Ikan, Duka yang Diselamatkan pada Asyura Pertanyaan dasarnya sederhana: mengapa hari Asyura dipenuhi banyak legenda?
Sebagian jawabannya terletak pada kebutuhan manusia untuk mengisi ruang spiritual dengan simbol dan ritual. Di tengah minimnya akses terhadap teks primer keagamaan, budaya lisan dan tradisi masyarakat mengambil alih. Maka, hari Asyura bukan hanya diperingati sebagai momentum puasa sunnah—yang justru ditegaskan oleh
Rasulullah SAW—tetapi dibumbui oleh praktik-praktik yang tak pernah diajarkan oleh para imam mazhab.
Kaum Nashibah—yang dalam sejarah dikenal membenci Sayyidina Husain RA—bahkan menciptakan narasi tandingan, bahwa hari Asyura adalah hari kegembiraan, disarankan untuk memakai celak, memperluas belanja keluarga, dan membuat makanan spesial. Sebuah ironi yang mengaburkan makna sejarah dan memperlebar jarak dengan
tragedi Karbala.
Peristiwa kematian Sayyidina Husain bin Ali RA di Karbala memang salah satu tragedi paling mengguncang dalam sejarah Islam. Tapi dalam perspektif
Ahlus Sunnah wal Jamaah, tragedi itu tak lantas mengubah Asyura menjadi hari berkabung. Kesuciannya telah diakui Rasulullah SAW jauh sebelum Husain lahir.
Bagi umat Suni, mengenang Husain adalah kewajiban moral. Tapi menjadikan Asyura sebagai hari duka massal, apalagi disertai praktik seperti menyakiti diri sendiri, memukul dada, atau melukai tubuh, bertentangan dengan ajaran Nabi. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rasulullah SAW secara tegas bersabda: "Bukan dari golonganku orang yang meratap, memukuli dadanya, merobek bajunya, dan berteriak-teriak seperti orang di masa jahiliyah."
Baca juga: Asyura di Negeri Syiah: Duka yang Dirawat, Luka yang Dirayakan Asyura: Tafsir yang Terus DicariDalam
sejarah Islam Indonesia, hari Asyura juga tak lepas dari tafsir lokal. Dari bubur Asyura di Tasikmalaya dan Tajin Sora di Madura, hingga mitos-mitos kesehatan yang berkembang di berbagai daerah. Semua berangkat dari semangat memperingati hari istimewa itu, meskipun tidak semua berangkat dari dalil yang shahih.
Ahmad Khairuddin mengingatkan, penting bagi umat Islam untuk membedakan antara ibadah yang didasarkan pada dalil dengan praktik budaya yang lahir dari tafsir bebas. “Yang utama adalah puasa Asyura,” tegasnya, merujuk pada hadis shahih dari Nabi SAW yang menyebutkan keutamaan puasa di hari itu bisa menghapus dosa setahun yang lalu.
Asyura adalah ruang spiritual yang luas. Tapi di tengah kabut legenda dan praktik yang simpang-siur, umat Islam hari ini ditantang untuk kembali menjernihkan makna. Tidak dengan menolak seluruh tradisi, tetapi dengan memilah: mana yang merupakan warisan budaya, mana yang berasal dari sunah Nabi. Dan di atas semuanya, untuk kembali melihat Asyura sebagai momen perenungan, bukan sekadar perayaan atau duka yang keliru arah.
Di zaman yang serba cepat dan sering kali superficial, mungkin inilah saat yang tepat untuk kembali menyederhanakan: cukup dengan puasa, dengan doa, dan dengan mengenang keteladanan para syuhada—tanpa harus menambahkan apa yang tak pernah diajarkan.
Baca juga: Doa Asyura: Mengurai Harap di Tanggal 10 Muharram(mif)