Kisah Nabi Adam dalam al Quran bukan tragedi kejatuhan, melainkan pelajaran tentang kegagalan pertama manusia dan bagaimana tobat menjadi mekanisme pulang paling awal dalam sejarah kemanusiaan.
Dalam kerangka itu, perdebatan tentang Adam dan evolusi menjadi sampingan. Tujuan utamanya adalah: bagaimana manusia menyadari siapa dirinya, dari mana ia datang, dan ke mana ia kembali.
Konflik antara Qabil dan Habil yang berujung pada pembunuhan atas salah satu dari mereka menjadi hari duka bagi Nabi Adam. Ini adalah pembunuhan pertama yang disebabkan perempuan.
Bumi bersumpah kepadanya dan mengatakan seperti yang ia katakan kepada Jibril. Maka, Mikail pun meluluskan sumpah bumi dan dia tidak mengambil apa pun darinya.
Muhammad Abduh (w. 1906 M) menyebut ayat-ayat yang menguraikan kisah kejadian Adam as pada surah al-Baqarah ayat 30 dan seterusnya, adalah tamsil. Tidak ada dialog antara Tuhan dengan Malaikat.
Adam juga menangis selama 40 tahun karena menyesali terjadinya pembunuhan putranya. Jika tangisan Adam itu dilakukan secara terpisah maka bisa dihitung bahwa Nabi Adam menangis sepanjang hidupnya selama 180 tahun.
Penduduk Damaskus menyebut tempat ini dengan Syahqatul Jabal (teriakan gunung). Di wilayah ini diyakini menjadi tempat makam sejumlah nabi, termasuk Nabi Adam as.
Selama 300 tahun Adam memanjatkan doa tanpa henti demi memohon ampunan. Ya Allah, ampunilah kami, demi menjunjung tinggi cahaya Muhammad yang kami tanggungkan.
Diriwayatkan bahwa ketika rambut Adam mulai tumbuh di kepalanya dan kuku-kukunya mulai memanjang, Jibril datang kepadanya seraya memotong rambut dan kukunya, kemudian rambut dan kukunya dikubur di dalam tanah.
Mengapa ketika Hawa telah memakan buah pohon itu pakaiannya tidak terlepas saat itu juga, sementara ketika Adam memakannya, seketika itu juga pakaiannya terlepas?
Adam suka meminum arak tatkala tinggal di surga. Apabila dia meminumnya, maka dia mendapat kebahagiaan yang bertambah. Barang siapa meminum arak dunia, maka dia tidak akan bisa meminum arak dari surga.