LANGIT7.ID -
Adam diciptakan dari tanah. Begitu keterangan singkat dan padat yang diulang dalam sejumlah ayat Al-Qur’an. Namun, ketika berbicara tentang reproduksi manusia secara umum, Al-Qur’an menggunakan diksi berbeda: "
Kami menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya" (QS At-Tin: 4).
Peralihan dari kata ganti tunggal "Aku" saat menggambarkan penciptaan Adam (QS Shad: 71 dan 75), ke bentuk jamak "Kami" ketika menjelaskan kelahiran manusia pada umumnya, bukan sekadar variasi bahasa. Ia mengandung makna metodologis dan filosofis: Tuhan tidak menciptakan manusia sekarang sebagaimana menciptakan Adam.
Prof Dr M Quraish Shihab, dalam bukunya "
Wawasan Al-Qur’an" (Mizan), membedakan dua kategori penciptaan: penciptaan khusus (Adam) dan penciptaan umum (kita semua). Adam tidak memiliki ayah atau ibu, sementara manusia masa kini adalah hasil keterlibatan biologis dua orang tua. Dengan demikian, proses kejadian kita bersifat “kooperatif” — ada kontribusi genetik, fisik, bahkan psikologis dari ayah dan ibu, sebelum akhirnya Tuhan meniupkan ruh ke dalamnya.
Tapi di sinilah debat klasik muncul kembali: bagaimana dengan proses awal kejadian Adam? Al-Qur’an tidak menjabarkannya secara rinci. Yang jelas, “dari tanah, kemudian ditiupkan ruh”. Selebihnya tahap antara tanah dan ruh adalah ruang tafsir.
Baca juga: Maurice Bucaille: Asal Usul Perjanjian Lama dan Tradisi Lisan Teori evolusi yang dikembangkan Charles Darwin pada abad ke-19 sebenarnya bukan barang asing dalam sejarah pemikiran Islam. Sebelum Darwin lahir, sudah muncul pemikir-pemikir Muslim yang mengemukakan teori serupa. Al-Farabi, Ibnu Miskawaih, Muhammad bin Syakir al-Kutubi, hingga Ibnu Khaldun, semuanya pernah menyinggung gagasan evolusi atau perkembangan bertahap makhluk hidup, termasuk manusia. Mereka tidak menolak keteraturan biologis, dan tetap menempatkan Tuhan sebagai aktor utama.
Gagasan ini diamini oleh Muhammad Abduh, reformis asal Mesir. Dalam tafsirnya, ia menyatakan bahwa bila teori Darwin terbukti secara ilmiah, tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang menentangnya secara eksplisit. Al-Qur’an hanya menjelaskan awal, akhir, dan titik penting penciptaan. Tapi mengenai proses-proses di antaranya, kitab suci ini tidak membeberkan secara detail, memberikan ruang bagi ijtihad ilmiah untuk mengisinya.
Sikap ini sejalan dengan semangat fiqh prioritas, mendahulukan yang prinsipil dibandingkan yang spekulatif. Al-Qur’an tidak menjadikan proses penciptaan sebagai akidah yang membelah umat. Rph menjadi pokok, bukan unsur biologis atau fase-fase anatomi. Dalam narasi ini, manusia didefinisikan bukan oleh asal biologisnya, tapi oleh dimensi rohani dan kesadarannya.
Baca juga: Bukan dari Yahudi, Ini Asal usul Gerakan Tarian Tren Bagi-bagi THR Abbas al-Aqqad, pemikir Mesir kontemporer, bahkan lebih tegas: teori evolusi boleh diterima atau ditolak oleh siapa saja, tanpa harus menyeret Al-Qur’an ke dalamnya. Ia menyarankan agar umat Islam bersikap terbuka terhadap ilmu pengetahuan, selama tafsir tidak berubah menjadi dogma yang mengunci.
Pandangan-pandangan ini menggeser perdebatan klasik "asal-usul" menjadi persoalan "tujuan penciptaan". Manusia, dalam pandangan Quraish Shihab, adalah makhluk yang diciptakan dengan kehormatan, baik dari tanah maupun dari proses biologis. Roh Ilahi-lah yang membuat manusia menjadi “insan” — bukan sekadar “basyar”.
Di sinilah titik kritis yang ditawarkan tafsir maudhu’i: menjawab persoalan kontemporer, bukan mengulang polemik klasik. Menelusuri penciptaan bukan hanya soal sejarah asal-usul, tapi juga pembacaan makna keberadaan. Seperti yang ditegaskan Al-Qur’an dalam QS Al-Hijr: 29. Penciptaan menjadi bermakna saat roh ditiupkan, bukan ketika tanah dibentuk.
Baca juga: Asal Usul dan Makna "Minal Aidin wal-Faizin" yang Perlu Kamu Tahu Membaca ulang gagasan tentang produksi dan reproduksi manusia dalam cahaya tafsir tematik membuka peluang bagi rekonsiliasi antara wahyu dan sains. Bukan untuk mencari “siapa yang benar”, tapi memahami apa yang lebih utama. Bagi Quraish Shihab, pengetahuan yang tidak membawa kepada pengenalan terhadap Sang Pencipta adalah pengetahuan yang tidak sampai tujuan.
Dalam kerangka itu, perdebatan tentang Adam dan evolusi menjadi sampingan. Tujuan utamanya adalah: bagaimana manusia menyadari siapa dirinya, dari mana ia datang, dan ke mana ia kembali.
(mif)