Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 10 Januari 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Maurice Bucaille: Asal Usul Perjanjian Lama dan Tradisi Lisan

miftah yusufpati Kamis, 15 Mei 2025 - 16:30 WIB
Maurice Bucaille: Asal Usul Perjanjian Lama dan Tradisi Lisan
Perjanjian Lama pada awalnya dihimpun dari tradisi lisan. Unsplash
LANGIT7.ID-Sebelum tersusun menjadi kumpulan fasal-fasal, Perjanjian Lama merupakan tradisi rakyat yang hanya bersandar pada ingatan manusia.

"Tradisi ini tersebar melalui nyanyian, yang menjadi satu-satunya sarana untuk menyiarkan gagasan-gagasan tersebut," tulis Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya berjudul "La Bible, Le Coran et la Science" yang diterjemahkan Prof. Dr. H.M. Rasyidi menjadi "Bibel, Quran, dan Sains Modern" (Penerbit Bulan Bintang, 1979).

Edmond Jacob menulis:

"Dalam tahap permulaan, semua orang menyanyi; di Israel seperti di tempat lain, puisi lebih dahulu muncul daripada prosa. Bani Israel menyanyi baik dan banyak. Nyanyian itu memiliki berbagai ekspresi, tergantung pada peristiwa sejarah, dari semangat yang membuncah hingga keputusasaan yang dalam."

Nyanyian-nyanyian ini muncul dalam berbagai suasana, sebagaimana disebutkan oleh Jacob, dan sebagian tercatat dalam Perjanjian Lama. Contohnya adalah nyanyian makan pagi, nyanyian akhir panen, nyanyian kerja seperti Nyanyian Sumur (Bilangan 21:17), nyanyian perkawinan, nyanyian kematian, hingga nyanyian perang.

Salah satu yang terkenal adalah Nyanyian Debora (Hakim-hakim 5:1–32), yang memuji kemenangan bangsa Israel atas musuh-musuhnya dalam peperangan yang dipimpin langsung oleh Yahweh (Bilangan 10:35):

"Bangunlah Yahweh, mudah-mudahan musuh-musuh-Mu terserak-serak. Mudah-mudahan mereka yang membenci Engkau lari tunggang langgang di hadapan wajah-Mu."

Selain sebagai ekspresi emosional, nyanyian-nyanyian ini juga memuat kata-kata mutiara, perumpamaan, serta berisi berkat, kutukan, dan peraturan-peraturan dari para Nabi setelah menerima wahyu Ilahi.

Jacob juga menyatakan bahwa kata-kata ini diwariskan secara keluarga atau melalui rumah-rumah ibadat, dalam bentuk sejarah Bangsa Pilihan Tuhan. Seiring waktu, sejarah ini berubah menjadi dongeng, sebagaimana dalam dongeng Jatam (Hakim-hakim 9:7–21), di mana tertulis:

"Pohon-pohon itu berjalan untuk mengurapi raja mereka, dan berkata kepada pohon Zaitun, pohon Ara (Tin), pohon Anggur, dan pohon Duri."

Menurut Jacob, karena fungsi dongeng yang melekat kuat, penyajian hikayat seperti ini dianggap wajar, meskipun menyangkut peristiwa dan periode yang tidak dikenal secara pasti dalam sejarah.

Tradisi Lisan Menuju Teks Tertulis

Jacob menyimpulkan bahwa besar kemungkinan kisah-kisah Perjanjian Lama mengenai Nabi Musa dan tokoh-tokoh agama Yahudi tidak seluruhnya sesuai dengan sejarah yang sebenarnya. Namun, para pendongeng masa lisan telah menyisipkan keindahan dan imajinasi, membentuk narasi yang tampak meyakinkan bagi pikiran-pikiran yang kritis—narasi tentang asal-usul alam semesta dan manusia.

Setelah bangsa Yahudi menetap di Kanaan (sekitar akhir abad ke-13 SM), tulisan mulai digunakan untuk mencatat dongeng-dongeng ini. Namun, pencatatan tersebut tidak selalu akurat, bahkan ketika menyangkut hukum, yang seharusnya bersifat pasti.

Sebagai contoh, Hukum Sepuluh (Dekalog) yang diyakini berasal langsung dari Tuhan, tercatat dalam dua versi berbeda dalam Perjanjian Lama:

- Kitab Keluaran (Exodus 20:1–21)
- Kitab Ulangan (Deuteronomy 5:1–30)

Meskipun memiliki jiwa yang sama, keduanya tetap memiliki perbedaan.

Selanjutnya, muncul keinginan untuk mendokumentasikan hal-hal penting seperti kontrak, surat-surat, daftar hakim dan pejabat, silsilah, daftar kurban, dan harta jarahan.

Dokumen-dokumen ini kemudian menjadi arsip, yang akhirnya membentuk kitab-kitab dalam Perjanjian Lama seperti yang kita kenal sekarang, dengan bentuk literer yang beragam dalam setiap fasalnya.

Perbandingan dengan Sastra Primitif

Penyusunan Perjanjian Lama berdasarkan tradisi lisan memiliki kemiripan dengan kemunculan kesusastraan primitif di bidang lain, seperti sastra Prancis pada masa Kerajaan.

Di sana, tradisi lisan muncul lebih dahulu sebelum peristiwa besar tercatat sebagai sejarah, misalnya perang mempertahankan agama Kristen.

Kisah kepahlawanan kemudian diabadikan dalam bentuk epik, seperti Syair Roland (Chanson de Roland), tentang Roland—komandan Kaisar Charlemagne—yang gugur dalam serangan orang Basque pada 5 Agustus 778. Meskipun kisah ini memiliki unsur legenda, ia tetap berakar pada sejarah nyata, meskipun tidak dipahami secara harfiah oleh para sejarawan.

Persamaan antara lahirnya Bibel dan kesusastraan non-agama tampak nyata. Namun, hal ini bukan berarti menolak seluruh isi Bibel, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mempercayai Tuhan.

Seseorang dapat tetap percaya bahwa:

- Tuhan menciptakan alam semesta
- Tuhan menyerahkan Sepuluh Perintah kepada Musa
- Tuhan turut campur dalam urusan manusia, seperti dalam ajaran Nabi Sulaiman

Akan tetapi, rincian penyajiannya perlu diperiksa secara kritis dan teliti, karena kontribusi manusia dalam mengubah tradisi lisan menjadi teks tertulis sangatlah besar.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 10 Januari 2026
Imsak
04:14
Shubuh
04:24
Dhuhur
12:04
Ashar
15:28
Maghrib
18:17
Isya
19:32
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan