LANGIT7.ID- Ilmu pengetahuan tidak pernah betah di satu titik. Apa yang hari ini dianggap benar, besok bisa runtuh oleh temuan baru. Itulah ciri khas sains yang paling nyata: ia tidak mengenal kata kekal. Bahkan para ilmuwan mengakuinya.
Dalam sejarahnya, sains bergerak zigzag. Pernah ada masa ketika segala sesuatu dijelaskan secara material. Manusia dipandang tak lebih dari mesin biologis. Jiwa, kesadaran, dan nilai moral nyaris tak mendapat tempat. Namun abad berikutnya membuktikan keterbatasan cara pandang itu. Psikologi, neuroscience, dan ilmu-ilmu kemanusiaan muncul sebagai koreksi. Yang semula dianggap pinggiran, kini justru menjadi pusat.
Perubahan itu juga merambah wilayah etika. Dulu, ilmu berjalan seolah bebas nilai. Kini, teknologi nuklir, rekayasa genetika, dan kecerdasan buatan memaksa ilmuwan berbicara tentang moral. Ilmu tak lagi bisa berlindung di balik dalih netralitas.
Teori-teori ilmiah pun silih berganti. Hukum alam yang dulu dipandang mutlak kini hanya dianggap rangkuman statistik. Dalam istilah filsafat sains modern, kebenaran ilmiah bersifat tentatif. Karl Popper menyebutnya falsifiable: selalu terbuka untuk dibantah. Thomas Kuhn bahkan menunjukkan bahwa ilmu bergerak lewat revolusi, bukan akumulasi lurus.
Kerap kali, kesalahan ilmiah berawal dari kepercayaan berlebihan pada indera. Imam Al-Ghazali sejak abad ke-11 sudah mengingatkan keterbatasan itu. Pancaindra menipu, logika bisa keliru. Apa yang tampak padat ternyata berpori. Bintang yang terlihat kecil ternyata lebih besar dari bumi.
Karena itu, ilmu sejatinya hanya melukiskan, bukan menetapkan. Ia membaca gejala dengan alat yang terbatas, oleh manusia yang mudah lupa dan salah. Kebenaran ilmiah, kata M. Quraish Shihab, bersifat relatif dan sementara.
Di titik inilah muncul persoalan besar: bagaimana mempertemukan sains yang berubah-ubah dengan wahyu yang absolut? Mengaitkan ayat Al-Quran dengan teori ilmiah yang belum mapan berisiko besar. Ketika teori runtuh, kepercayaan pada wahyu ikut terguncang.
Sejarah Eropa memberi pelajaran pahit saat agama memaksakan tafsir ilmiah yang keliru. Al-Quran, sebagai petunjuk akidah dan moral, tidak semestinya dijadikan sandaran bagi teori yang sifatnya sementara. Wahyu dan ilmu punya wilayah berbeda, meski keduanya dapat saling menyapa dengan sikap rendah hati.
(mif)