Sains modern kerap terjebak pada dunia materi. Quraish Shihab menawarkan rekonstruksi ilmu lewat Al-Quran yang menyatukan fakta empiris dengan realitas metafisika demi kebahagiaan manusia.
Filsafat Islam lahir dari dialog rumit antara wahyu dan rasio. Aristotelianisme dan Neoplatonisme tidak ditelan mentah, tetapi diolah ulang hingga melahirkan tradisi kalam dan filsafat yang orisinal dan berpengaruh global.
Fikih bukan sekadar hukum ibadah. Ia tumbuh bersama ekspansi Islam, menjadi instrumen utama pengaturan masyarakat dan negara. Sejarah menjelaskan mengapa fiqh begitu dominan dalam cara umat Islam memahami agamanya.
Ilmu pengetahuan bergerak dari satu keyakinan ke keyakinan lain. Ia berubah, mengoreksi diri, dan tak pernah kekal. Lalu, di mana posisi wahyu yang absolut di tengah sains yang serba sementara?
Al-Quran kerap dibaca sebagai kitab sains. Padahal para pemikir Muslim menempatkannya sebagai pembentuk etika dan iklim pengetahuan. Di sanalah letak relevansi ilmiahnya yang paling mendasar.
Ketika gelombang takfir merebak dari Timur Tengah ke Indonesia, Qardhawi menawari jalan lain: melawan ekstremisme dengan ilmu, bukan kekerasan. Tradisi klasik, kritik sanad, dan sosiologi umat dipertemukan kembali.
Pada abad ke-19, Mekah bukan hanya tempat beribadah, tapi juga ruang belajar dan jaringan intelektual yang mengubah wajah Islam di Nusantara. Dari perjalanan para haji lahir pesantren, tarekat, dan reformasi.
Di langgar kecil, seorang murid Jawi memulai hafalan. Tapi dari huruf-huruf itu, lahirlah dunia luas: Islam yang menautkan akal, dzikir, dan pencarian makna antara syariah dan hakikat.
Di Kajen, nama Mutamakkin bukan sekadar sejarah. Ia hidup di napas masyarakat: dalam doa, ritual, dan tutur rakyat. Tiga abad berlalu, ajarannya tetap menjadi jembatan antara syariat dan hakikat.
Islam jauh sebelum Revolusi Prancis telah menegaskan kebebasan: beragama, berpikir, dan bermasyarakat. Kebebasan yang membebaskan, berakar pada tauhid, dan menolak segala bentuk penindasan.
Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi iman dan peradaban. Wahyu pertama Iqra membuka jalan lahirnya ulama sekaligus ilmuwan, dari masjid hingga laboratorium, tanpa pertentangan akal dan wahyu.
Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya ulumuddin menjelaskan tobat adalah sebuah makna yang terdiri dari tiga unsur: ilmu, hal, dan amal. Ilmu adalah unsur yang pertama, kemudian yang kedua hal, dan ketiga amal.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang juga Mendikdasmen RI, Abdul Muti mengajak guru-guru Muhammadiyah di Cilacap untuk kembali meluruskan niat.