LANGIT7.ID-“Apakah sama orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu?” (Az Zumar: 9). Pertanyaan retoris ini bukan hanya pengingat spiritual, tapi juga fondasi peradaban. Islam, sejak wahyu pertama Iqra’ (bacalah), menempatkan ilmu bukan sekadar jalan menuju iman, melainkan motor penggerak amal dan kehidupan manusia.
Syaikh Yusuf Qardhawi dalam karyanya
Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah (1997) menegaskan, Islam lahir sebagai agama ilmu. Al-Qur’an sendiri adalah kitab ilmu—menolak taqlid buta, prasangka, dan dominasi hawa nafsu. “Tidak dibenarkan mengikuti tradisi nenek moyang bila tanpa dasar pengetahuan,” tulis Qardhawi, seraya mengutip Al-Baqarah:170.
Di sisi lain, Al-Qur’an memuliakan ahlul ilmi sebagai syuhada, saksi kebenaran bersama para malaikat. (Ali Imran:18). Ulama bukan sekadar pemegang otoritas agama, melainkan figur yang paling takut kepada Allah (Fathir:28). Dalam pandangan klasik Islam, rasa takut ini lahir dari penguasaan ilmu. “Mereka yang mengenal Allah lewat ciptaan-Nya, merekalah yang paling tunduk,” begitu tafsir Qardhawi.
Sains dan Wahyu, Tanpa PertentanganBerbeda dengan tradisi Barat abad pertengahan yang sering mempertentangkan agama dengan sains, peradaban Islam justru menunjukkan sebaliknya. “Tidak dikenal dalam peradaban Islam apa yang pernah terjadi di kalangan umat lain berupa pertentangan antara sains dan agama,” tulis Qardhawi.
Sejarah mendukung tesis itu. Nama-nama seperti Ibnu Rusyd (filsuf dan dokter), Al-Khawarizmi (bapak aljabar), Ibnun Nafis (penemu sirkulasi paru-paru), hingga Ibnu Khaldun (sosiolog) menjadi bukti perpaduan harmonis antara syariat dan akal. Imam Muhammad Abduh bahkan menulis, “Dasar-dasar Islam sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan.” (
Al Islam wan Nashraniyah ma’al ‘Ilmi wal Madaniyah).
Islam memandang menuntut ilmu bukan pilihan, tapi kewajiban. Para ulama membaginya ke dalam dua: fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Ilmu agama—aqidah, ibadah, akhlak—wajib bagi setiap Muslim. Sementara ilmu kedokteran, teknik, ekonomi, dan cabang ilmu dunia lainnya masuk fardhu kifayah: cukup diwakili sebagian umat, tapi bila tak ada yang menguasainya, maka dosa menimpa seluruh umat.
“Apabila umat masih bergantung pada bangsa lain dalam cabang-cabang penting, seluruh umat berdosa—terutama para pemimpinnya,” tulis Qardhawi.
Ilmu Sebagai Jalan PeradabanTak heran bila peradaban Islam pernah menjulang tinggi. Pondasinya kokoh karena ilmu dan iman berjalan seiring. Al-Qur’an bahkan berulang kali memanggil akal manusia: Afalaa ta’qiluun, Afalaa tatafakkaruun. Sebuah ajakan yang dalam tafsir kontemporer dilihat sebagai dorongan untuk riset, berpikir kritis, dan menolak khurafat.
John L. Esposito dalam
Islam: The Straight Path (Oxford University Press, 1998) menyebutkan, “Islam tidak pernah memisahkan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Keduanya dipandang sebagai bagian dari ibadah.” Dengan demikian, laboratorium dan masjid, pena dan doa, dipandang saling menopang.
Pertanyaan yang tersisa: bagaimana umat Islam hari ini menghidupkan kembali semangat itu? Apakah ilmu telah ditempatkan sebagai asas kemuliaan, atau justru sekadar ornamen retoris di mimbar?
Sejarah memberi teladan, Al-Qur’an memberi pijakan, dan para ulama mengingatkan. Kini giliran umat Islam menghidupkan kembali amanah ilmu itu—bukan saja demi kejayaan duniawi, tetapi juga sebagai jalan menuju keimanan.
(mif)