Kikir bukan sekadar perkara menahan harta, melainkan penyakit jiwa yang menghancurkan tatanan sosial. Dari jerat ular berbisa hingga kehancuran peradaban, bakhil adalah racun bagi keimanan.
Dari keluarga Quraisy yang keras dan terhormat, Umar bin Khattab tumbuh di padang tandus Makkah menjadi negarawan besar Islam. Dari pemuja berhala menjadi pembela tauhid dan pelopor keadilan.
Pada 1812, Inggris menjarah Keraton Yogyakarta. Bukan cuma emas yang dibawa, tapi juga makna. Di tangan kolonial, manuskrip Islam Nusantara berubah jadi artefak, bukan warisan ilmu.
Di tengah kemegahan masjid-masjid modern, Quraish Shihab mengingatkan: rumah Allah bukan sekadar tempat rukuk dan sujud, melainkan pusat hidup, ilmu, dan peradaban manusia.
Syura bukan sekadar etika sosial, tapi prinsip peradaban. Dari keluarga hingga negara, ia jadi seni mendengar, merajut kebersamaan, dan meneguhkan demokrasi dalam wajah Islam Nusantara.
Amal bukan sekadar etika, tapi fondasi peradaban. Quran mengajarkan iman harus berbuah amal, dari ibadah hingga kerja produktif, menuju umat mandiri yang tak bergantung pada bangsa lain.
Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi iman dan peradaban. Wahyu pertama Iqra membuka jalan lahirnya ulama sekaligus ilmuwan, dari masjid hingga laboratorium, tanpa pertentangan akal dan wahyu.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) M Jusuf Kalla menekankan peran vital masjid sebagai pusat peradaban, bukan sekadar tempat ibadah.
Seabad setelah Khilafah runtuh, umat Islam masih gamang: modernisasi atau westernisasi? Muhammad Asad mengingatkan, tiruan buta pada Barat bisa mengikis roh peradaban Islam.
Nilai membentuk wajah peradaban. Al-Quran menegaskan, perubahan sosial lahir dari perubahan mental. Jika hanya mengejar dunia, masyarakat cepat puaslalu runtuh.
Di tengah pemaksaan mazhab, pembusukan birokrasi, dan kecamuk konflik Sunni-Syiah, Daulah Fatimiyah tak kuasa menghadapi gelombang Perang Salib dan kedatangan seorang jenderal dari Aleppo: Salahuddin al-Ayyubi.
Masjid Ton Son merupakan masjid bersejarah yang terletak di Bangkok. Masjid kuno ini didirikan pada era Ayutthaya pada masa pemerintahan Raja Narai pada 1688