Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home masjid detail berita

Masjid: Dari Tempat Sujud ke Pusat Peradaban

miftah yusufpati Rabu, 15 Oktober 2025 - 16:43 WIB
Masjid: Dari Tempat Sujud ke Pusat Peradaban
Rumah Allah bukan sekadar tempat rukuk dan sujud, melainkan pusat hidup, ilmu, dan peradaban manusia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah kota modern, menara masjid menjulang tinggi, dindingnya berukir indah, karpetnya tebal, dan pendinginnya dingin. Namun, di balik gemerlap arsitektur itu, pertanyaan lama menggema: masihkah masjid menjadi pusat peradaban, atau sekadar tempat ibadah yang sepi fungsi sosialnya?

Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an (Mizan) mengingatkan bahwa “masjid” bukan sekadar bangunan. Dalam Al-Qur’an, kata itu terulang dua puluh delapan kali, berakar dari kata sajada—sujud, tunduk, dan patuh. Maka, sejatinya masjid adalah ruang tunduk kepada Allah, bukan hanya ruang shalat berjamaah. “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah menyembah selain Dia,” (QS. Al-Jin [72]:18).

Bagi Quraish Shihab, ayat itu menegaskan bahwa hakikat masjid adalah seluruh bumi yang digunakan manusia untuk mengabdi kepada Tuhannya. Rasulullah SAW bahkan bersabda: “Telah dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, masjid bukan sekadar bangunan, melainkan simbol dari seluruh aktivitas hidup yang mencerminkan kepatuhan kepada Allah.

Quraish Shihab menafsirkan kata sujud dalam Al-Qur’an dengan makna yang berlapis. Ia bisa berarti penghormatan seperti sujudnya malaikat kepada Adam (QS. Al-Baqarah [2]:34), pengakuan atas kebenaran, sebagaimana sujud para penyihir di hadapan Musa (QS. Thaha [20]:70), atau penyesuaian diri dengan hukum alam, seperti bintang dan pohon yang “bersujud” (QS. Ar-Rahman [55]:6).

Sujud, dalam makna ini, bukan hanya gerakan fisik. Ia adalah keteraturan kosmik. Kesadaran bahwa segala sesuatu tunduk pada sunnatullah. Karena itu, seseorang tak bisa disebut bersujud bila hidupnya mengabaikan hukum-hukum Allah yang berlaku di dunia: kerja keras, disiplin, dan kejujuran.

Masjid di Masa Nabi: Markas Peradaban Baru

Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, langkah pertamanya bukan membangun pasar atau benteng, melainkan masjid kecil beratap pelepah kurma yakni Masjid Quba’. Dari sana, peradaban Islam lahir.

Masjid Nabawi yang menyusul kemudian bukan hanya tempat shalat, tapi juga pusat pemerintahan, pendidikan, dan solidaritas sosial. Dari masjid, Nabi mengatur strategi perang, menerima tamu asing, mengobati korban perang, hingga menahan tawanan. Sejarawan mencatat, setidaknya sepuluh fungsi utama dijalankan oleh Masjid Nabawi:

1. Tempat ibadah dan zikir.
2. Tempat konsultasi dan komunikasi sosial.
3. Pusat pendidikan.
4. Lembaga santunan sosial.
5. Tempat latihan militer.
6. Rumah sakit darurat.
7. Pengadilan dan mediasi.
8. Aula dan ruang diplomasi.
9. Tempat tahanan.
10. Pusat penerangan dan pembelaan agama.

Masjid, bagi Nabi, bukan sekadar tempat sujud, melainkan pusat peradaban dan penggerak masyarakat.

Ketika Masjid Kehilangan Jiwa Sosialnya

Namun kini, Quraish Shihab menilai, banyak fungsi itu telah berpindah ke lembaga-lembaga modern — pemerintah, organisasi sosial, dan institusi pendidikan. Masjid hanya tersisa sebagai tempat ibadah formal. Padahal, kata beliau, masjid besar tetap harus mampu menjalankan sebagian dari fungsi-fungsi klasiknya, minimal sebagai pembina umat dan pengarah kehidupan duniawi-ukhrawi.

Dalam Muktamar Risalatul Masjid di Makkah tahun 1975, para ulama merumuskan kriteria masjid ideal:

- Ruang shalat yang sehat dan nyaman.
- Ruang khusus wanita yang terpisah.
- Perpustakaan dan ruang pertemuan.
- Poliklinik kecil dan fasilitas pemulasaraan jenazah.
- Area bermain dan latihan remaja.

Masjid yang ideal bukan yang termegah, tapi yang paling berfungsi.

Ketika Arsitektur Mengalahkan Esensi**

Quraish Shihab menutup pembahasannya dengan sindiran tajam:

“Perhatian yang berlebihan terhadap nilai arsitektur dan estetika masjid sering ditandai dengan kedangkalan dan kelumpuhan fungsinya.”

Artinya, keindahan kubah dan ornamen tak bisa menutup rapuhnya ruh sosial sebuah masjid. Masjid sejati adalah yang hidup — tempat ilmu tumbuh, solidaritas mengakar, dan masyarakat berdaya.

Dalam tafsir Quraish Shihab, **masjid bukan bangunan yang dibangun ke langit, melainkan gerakan yang tumbuh di bumi.**

Menjadi Madinah Kembali

Dari Masjid Nabawi, Nabi membangun peradaban bernama Madinah — dari akar kata *madaniyah*, artinya peradaban. Maka, setiap masjid sejatinya adalah benih Madinah baru: tempat sujud yang melahirkan ilmu, kerja, dan kasih sosial.

Kini, di tengah kemegahan dan kesunyian masjid-masjid modern, pesan Quraish Shihab bergema seperti seruan masa lalu: Masjid bukan tempat berhenti, tapi tempat memulai.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)