Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Mengapa Rasulullah Berdiam di Masjid Dua Puluh Hari pada Ramadhan Terakhir?

miftah yusufpati Jum'at, 27 Februari 2026 - 15:30 WIB
Mengapa Rasulullah Berdiam di Masjid Dua Puluh Hari pada Ramadhan Terakhir?
Kebahagiaan tertinggi bagi seorang mukmin adalah ketika ia bisa meneladani perilaku Rasulullah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Ramadhan di Madinah pada masa kenabian bukanlah sekadar tentang menahan lapar di bawah terik gurun. Ia adalah sebuah fragmen waktu yang didesain untuk mencapai kulminasi spiritualitas tertinggi melalui isolasi suci yang disebut iktikaf. Di masjid yang berlantai tanah dan beratap pelepah kurma itu, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam memberikan teladan mengenai bagaimana seorang hamba seharusnya memutus sementara tali temali dunia demi mempererat ikatan dengan Sang Khalik.

Dalam catatan sejarah yang dihimpun oleh para ulama, Rasulullah secara konsisten melakukan iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Namun, ada noktah menarik yang terekam pada tahun menjelang kewafatan beliau. Seolah merasakan waktu perjumpaan dengan Allah kian dekat, beliau melipatgandakan durasi isolasi spiritualnya menjadi dua puluh hari. Eskalasi ini bukan tanpa makna; ia adalah isyarat tentang kesungguhan yang tak boleh kendur, melainkan harus kian kencang di pengujung hayat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam karyanya, Majmu Fatawa wa Rasail, menjelaskan bahwa bagi seorang muslim, mengikuti petunjuk Rasulullah secara lahir dan batin adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Meneladani beliau berarti memahami bahwa iktikaf bukan sekadar tradisi, melainkan kebutuhan rohani untuk membersihkan diri dari residu aktivitas duniawi. Selama masa iktikaf tersebut, beliau senantiasa dalam keadaan berpuasa, memadukan lapar jasmani dengan kekenyangan ruhani melalui zikir dan doa.

Dimensi lain yang tak terpisahkan dari iktikaf Rasulullah adalah interaksinya yang intens dengan Al-Quran. Ramadhan adalah syahrul Quran, dan Nabi adalah manusia Al-Quran. Rutinitas tadarus beliau mencapai derajat yang tidak mungkin ditandingi oleh siapapun. Keagungan momen ini dipertegas dengan turunnya Malaikat Jibril Alaihissallam yang setiap malam menemui Rasulullah untuk menyimak dan mengulang bacaan Al-Quran.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Zadul Maad menguraikan bahwa hakikat iktikaf adalah penyerahan diri secara total kepada Allah, memfokuskan hati hanya kepada-Nya, dan memutus hubungan dengan kesibukan makhluk. Hal ini selaras dengan upaya mencari Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Melalui iktikaf dua puluh hari di tahun terakhirnya, Rasulullah menunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat haruslah diiringi dengan peningkatan amal saleh yang nyata.

Kebahagiaan tertinggi bagi seorang mukmin adalah ketika ia bisa meneladani perilaku Rasulullah. Ketekunan beliau dalam tadarus bersama Jibril memberikan pelajaran bahwa Al-Quran harus menjadi kompas utama selama bulan suci. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 185, Ramadhan adalah bulan di mana Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Maka, iktikaf adalah ruang laboratorium untuk mendalami petunjuk tersebut secara lebih khusyuk.

Bagi umat Islam saat ini, pesan dari masa-masa akhir kehidupan Nabi adalah pesan tentang konsistensi. Jika Nabi yang sudah dijamin surga justru meningkatkan intensitas ibadahnya menjadi dua puluh hari iktikaf di akhir hayat, maka sudah seharusnya umatnya tidak terjebak dalam rasa puas diri. Ilmu tentang iktikaf dan tadarus ini tidak akan bermakna tanpa amalan saleh yang menyertainya.

Seseorang yang tidak berada di atas petunjuk Rasulullah di dunia, dikhawatirkan tidak akan bisa bersama beliau di akhirat. Oleh karena itu, menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan dengan iktikaf dan Al-Quran bukan sekadar mengikuti sunah, melainkan upaya menjaga keselamatan iman. Inilah buah dari ilmu yang bermanfaat: sebuah kesadaran bahwa setiap detik di pengujung Ramadhan adalah emas yang harus diinvestasikan untuk kehidupan yang abadi.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)