Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita
Silaturahmi Lintas Negara

Harmoni di Pretoria, Cerita Lebaran Pelajar RI di Tengah Komunitas Muslim Afrika Selatan

esti setiyowati Sabtu, 21 Maret 2026 - 09:30 WIB
Harmoni di Pretoria, Cerita Lebaran Pelajar RI di Tengah Komunitas Muslim Afrika Selatan
Muhammad Alfaridzy, mahasiswa Indonesia yang merasakan keharmonisan dalam kehidupan beragama di Pretoria, Afrika Selatan. Foto: fok pribadi.
LANGIT7.ID, Pretoria,- - Di perantauan, hari raya bukan sekadar perayaan, ia adalah pertemuan antara rindu, harapan, dan makna persaudaraan yang melintasi batas-batas geografis.

Hal inilah yang dirasakan oleh Muhammad Alfaridzy, mahasiswa asal Indonesia yang tengah menempuh pendidikan Teologi Islam di Pretoria, Afrika Selatan.

Pemuda 26 tahun yang akrab disapa Aji ini telah dua tahun menetap di Negeri Pelangi. Dalam rentang waktu tersebut, ia menemukan banyak pengalaman berharga, terutama saat menyambut Idulfitri jauh dari tanah air.

Baca juga: Lebaran di Kyoto, Merajut Hangatnya Kampung Halaman Bersama Sesama Perantau

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah bagaimana Islam dipraktikkan dalam nuansa persatuan yang begitu nyata.

Aji mengaku sempat mengalami gegar budaya ketika mendapati umat Sunni dan Syiah beribadah di tempat yang sama.

Harmoni di Pretoria, Cerita Lebaran Pelajar RI di Tengah Komunitas Muslim Afrika Selatan

“Shalatnya kita bareng, tidak ada masjid Syiah atau Sunni,” ungkapnya pada LANGIT7.ID.

Di tengah perbedaan yang kerap menjadi sekat di berbagai belahan dunia, suasana ini menghadirkan pesan mendalam tentang ukhuwah Islamiyah.

Meski mayoritas Muslim di Afrika Selatan adalah Sunni, komunitas Syiah tetap memiliki ruang yang setara dalam beribadah. Persatuan ini menjadi cerminan bahwa Islam pada hakikatnya adalah agama yang merangkul, bukan memecah.

Aji juga menceritakan bahwa mayoritas Muslim di Pretoria berasal dari komunitas India dan Pakistan. Hal ini turut memengaruhi tradisi Lebaran yang ia rasakan.

Harmoni di Pretoria, Cerita Lebaran Pelajar RI di Tengah Komunitas Muslim Afrika Selatan

Baca juga: Potret WNI Rayakan Lebaran di Johannesburg: Gelar Open House hingga Berbagi Kue Kering

Meski berbeda latar budaya, nilai-nilai yang dijunjung tetap sama, yakni berbagi kebahagiaan, mempererat silaturahmi, dan saling peduli.

“Budaya mereka hampir sama seperti kita, seperti berbagi THR dan silaturahmi. Tapi ada satu tradisi yang kuat, yaitu berkumpul ke rumah keluarga atau rekan yang telah meninggal,” tuturnya.

Tradisi tersebut menjadi pengingat akan kefanaan hidup sekaligus ajakan untuk terus mendoakan mereka yang telah lebih dahulu kembali kepada Allah SWT.

Dari sisi ibadah, terdapat perbedaan dalam pelaksanaan shalat Idulfitri. Mayoritas Muslim di Afrika Selatan mengikuti mazhab Hanafi, yang memiliki tata cara takbir berbeda dengan yang umum dipraktikkan di Indonesia.

Harmoni di Pretoria, Cerita Lebaran Pelajar RI di Tengah Komunitas Muslim Afrika Selatan

“Di sini, pada rakaat pertama dan kedua masing-masing ada tiga takbir,” jelas Aji.

Meski demikian, gema takbir tetap mengalun semarak sejak Maghrib hingga Subuh. Hanya saja, tanpa pengeras suara, lantunan takbir dan naat (shalawat) dalam bahasa Urdu menggema khusyuk di dalam masjid.

Baca juga: Lebaran di Melbourne, Menahan Rindu Akan Riuh Malam Takbiran dan Menu Idulfitri Khas Magelang

Kerinduan akan suasana Indonesia sedikit terobati ketika Aji merayakan malam takbiran di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Pretoria. Di sana, nuansa Tanah Air terasa begitu dekat.

“Ada takbiran, lalu setelah Subuh kita shalat Id. Biasanya juga ada tamu dari berbagai kedutaan seperti Malaysia dan Turki,” ujarnya.

Harmoni di Pretoria, Cerita Lebaran Pelajar RI di Tengah Komunitas Muslim Afrika Selatan

Tak lengkap rasanya membicarakan Lebaran tanpa menyebut hidangan khas. Di Pretoria, Aji menikmati sajian lokal seperti pap (bubur jagung) dengan chakalaka, sambal sayuran beraroma kari, serta braai, daging bakar khas Afrika Selatan. Tak ketinggalan, nasi briyani dari tradisi India.

Namun, di KBRI, cita rasa Indonesia tetap menjadi primadona. Rendang, opor ayam, dan lontong menjadi menu wajib yang menghadirkan kehangatan kampung halaman.

Di balik segala pengalaman indah tersebut, terselip tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah keterbatasan komunikasi dengan keluarga di Indonesia.

“Sinyal sering jadi kendala, dan harga paket data di sini sangat mahal,” ungkapnya. Untuk paket data 10 GB, ia harus merogoh kocek hingga sekitar Rp170 ribu.

Baca juga: Cerita Diaspora RI di Finlandia: Lebaran Tanpa Libur, Kelar Shalat Id Langsung Kerja

Sebagai solusi, Aji bersama rekan-rekannya sering berburu Wi-Fi gratis atau patungan membeli paket data. Sebuah ikhtiar sederhana demi menjaga tali silaturahmi dengan keluarga tercinta.

Meski jauh dari rumah, Aji merasa betah tinggal di Pretoria. Keramahan warga lokal dan keterbukaan terhadap pendatang membuatnya merasa diterima.

Harmoni di Pretoria, Cerita Lebaran Pelajar RI di Tengah Komunitas Muslim Afrika Selatan

“Kita selalu berbaur dengan warga lokal. Banyak juga Muslim di sini, dan mereka sangat baik,” katanya.

Kisah Aji menjadi cermin bahwa Idulfitri bukan hanya tentang tempat, tetapi tentang makna. Bagaimana nilai-nilai Islam, persatuan, kasih sayang, dan kepedulian, dapat tumbuh di mana saja, bahkan di negeri yang jauh dari asal.

Di tanah asing itu, Aji menemukan bahwa ukhuwah tak mengenal batas, dan rindu pun dapat terobati dengan kebersamaan. Sebab sejatinya, di mana pun seorang Muslim berada, ia tetap terhubung dalam satu ikatan: iman dan kemanusiaan.



(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)