Harmoni di Pretoria, Cerita Lebaran Pelajar RI di Tengah Komunitas Muslim Afrika Selatan
esti setiyowatiSabtu, 21 Maret 2026 - 09:30 WIB
Muhammad Alfaridzy, mahasiswa Indonesia yang merasakan keharmonisan dalam kehidupan beragama di Pretoria, Afrika Selatan. Foto: fok pribadi.
LANGIT7.ID, Pretoria,- - Di perantauan, hari raya bukan sekadar perayaan, ia adalah pertemuan antara rindu, harapan, dan makna persaudaraan yang melintasi batas-batas geografis.
Pemuda 26 tahun yang akrab disapa Aji ini telah dua tahun menetap di Negeri Pelangi. Dalam rentang waktu tersebut, ia menemukan banyak pengalaman berharga, terutama saat menyambut Idulfitri jauh dari tanah air.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah bagaimana Islam dipraktikkan dalam nuansa persatuan yang begitu nyata.
Aji mengaku sempat mengalami gegar budaya ketika mendapati umat Sunni dan Syiah beribadah di tempat yang sama.
“Shalatnya kita bareng, tidak ada masjid Syiah atau Sunni,” ungkapnya pada LANGIT7.ID.
Di tengah perbedaan yang kerap menjadi sekat di berbagai belahan dunia, suasana ini menghadirkan pesan mendalam tentang ukhuwah Islamiyah.
Meski mayoritas Muslim di Afrika Selatan adalah Sunni, komunitas Syiah tetap memiliki ruang yang setara dalam beribadah. Persatuan ini menjadi cerminan bahwa Islam pada hakikatnya adalah agama yang merangkul, bukan memecah.
Aji juga menceritakan bahwa mayoritas Muslim di Pretoria berasal dari komunitas India dan Pakistan. Hal ini turut memengaruhi tradisi Lebaran yang ia rasakan.
Meski berbeda latar budaya, nilai-nilai yang dijunjung tetap sama, yakni berbagi kebahagiaan, mempererat silaturahmi, dan saling peduli.
“Budaya mereka hampir sama seperti kita, seperti berbagi THR dan silaturahmi. Tapi ada satu tradisi yang kuat, yaitu berkumpul ke rumah keluarga atau rekan yang telah meninggal,” tuturnya.
Tradisi tersebut menjadi pengingat akan kefanaan hidup sekaligus ajakan untuk terus mendoakan mereka yang telah lebih dahulu kembali kepada Allah SWT.
Dari sisi ibadah, terdapat perbedaan dalam pelaksanaan shalat Idulfitri. Mayoritas Muslim di Afrika Selatan mengikuti mazhab Hanafi, yang memiliki tata cara takbir berbeda dengan yang umum dipraktikkan di Indonesia.
“Di sini, pada rakaat pertama dan kedua masing-masing ada tiga takbir,” jelas Aji.
Meski demikian, gema takbir tetap mengalun semarak sejak Maghrib hingga Subuh. Hanya saja, tanpa pengeras suara, lantunan takbir dan naat (shalawat) dalam bahasa Urdu menggema khusyuk di dalam masjid.
Kerinduan akan suasana Indonesia sedikit terobati ketika Aji merayakan malam takbiran di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Pretoria. Di sana, nuansa Tanah Air terasa begitu dekat.
“Ada takbiran, lalu setelah Subuh kita shalat Id. Biasanya juga ada tamu dari berbagai kedutaan seperti Malaysia dan Turki,” ujarnya.
Tak lengkap rasanya membicarakan Lebaran tanpa menyebut hidangan khas. Di Pretoria, Aji menikmati sajian lokal seperti pap (bubur jagung) dengan chakalaka, sambal sayuran beraroma kari, serta braai, daging bakar khas Afrika Selatan. Tak ketinggalan, nasi briyani dari tradisi India.
Namun, di KBRI, cita rasa Indonesia tetap menjadi primadona. Rendang, opor ayam, dan lontong menjadi menu wajib yang menghadirkan kehangatan kampung halaman.
Di balik segala pengalaman indah tersebut, terselip tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah keterbatasan komunikasi dengan keluarga di Indonesia.
“Sinyal sering jadi kendala, dan harga paket data di sini sangat mahal,” ungkapnya. Untuk paket data 10 GB, ia harus merogoh kocek hingga sekitar Rp170 ribu.
Sebagai solusi, Aji bersama rekan-rekannya sering berburu Wi-Fi gratis atau patungan membeli paket data. Sebuah ikhtiar sederhana demi menjaga tali silaturahmi dengan keluarga tercinta.
Meski jauh dari rumah, Aji merasa betah tinggal di Pretoria. Keramahan warga lokal dan keterbukaan terhadap pendatang membuatnya merasa diterima.
“Kita selalu berbaur dengan warga lokal. Banyak juga Muslim di sini, dan mereka sangat baik,” katanya.
Kisah Aji menjadi cermin bahwa Idulfitri bukan hanya tentang tempat, tetapi tentang makna. Bagaimana nilai-nilai Islam, persatuan, kasih sayang, dan kepedulian, dapat tumbuh di mana saja, bahkan di negeri yang jauh dari asal.
Di tanah asing itu, Aji menemukan bahwa ukhuwah tak mengenal batas, dan rindu pun dapat terobati dengan kebersamaan. Sebab sejatinya, di mana pun seorang Muslim berada, ia tetap terhubung dalam satu ikatan: iman dan kemanusiaan.
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”