LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menghadiri acara Silaturahim Minang Diaspora Global Network bertajuk “Mufakat Ranah dan Rantau: Membangun Nagari–Menguatkan Jati Diri” di Universitas YARSI, Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang silaturahim sekaligus forum dialog antara masyarakat Minangkabau di ranah dan rantau dalam memperkuat identitas budaya serta membangun nagari berbasis nilai-nilai kebudayaan.
Acara yang diselenggarakan oleh Minang Diaspora Global Network tersebut dihadiri oleh tokoh masyarakat, akademisi, budayawan, diplomat, serta diaspora Minangkabau dari berbagai negara. Rangkaian kegiatan meliputi dialog budaya, pameran buku sastra dan budaya Minangkabau, pemberian penghargaan kepada tokoh literasi dan kemanusiaan, pertunjukan seni budaya Minangkabau, hingga peragaan busana adat.
Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon menyampaikan apresiasi atas inisiatif Minang Diaspora Global Network yang dinilai mampu memperkuat hubungan antara masyarakat Minangkabau di kampung halaman dan perantauan. Menurutnya, gerakan kebudayaan yang tumbuh dari komunitas dan diaspora memiliki peran penting dalam memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia.
Menbud juga menegaskan bahwa kebudayaan Indonesia merupakan kekuatan besar bangsa yang ditopang oleh keberagaman etnis, bahasa, tradisi, dan pengetahuan lokal yang tersebar di ribuan pulau di Indonesia. Kekayaan budaya tersebut, termasuk budaya Minangkabau, dinilai sebagai bagian penting dari identitas nasional yang harus terus dijaga dan dikembangkan secara bersama-sama.
“Sesuai dengan perintah konstitusi, yaitu negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai budayanya. Jadi kebudayaan harus kita lestarikan dan kembangkan di tengah peradaban dunia,” ujar Fadli Zon mengutip Pasal 32 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945, Sabtu (23/5/2026).
Menbud menjelaskan bagaimana budaya Indonesia yang sangat kaya dan beragam, beliau sebut sebagai mega diversity. Menurutnya, kekayaan tersebut harus menjadi kekuatan bersama dalam membangun karakter bangsa sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.
Lebih jauh, Menbud Fadli Zon juga menyoroti kekayaan budaya Minangkabau yang memiliki akar sejarah panjang dan tradisi yang kuat. Beliau menyebut budaya Minangkabau tidak hanya kaya dalam seni dan tradisi lisan, tetapi juga memiliki kekuatan pada sastra, manuskrip, adat istiadat, hingga kuliner tradisional seperti rendang yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Menbud turut menyinggung temuan piktograf di Gua Lidah Aia, Sumatera Barat, yang menunjukkan jejak peradaban tua di wilayah tersebut sejak puluhan ribu tahun lalu. Menurutnya, kekayaan sejarah dan budaya tersebut perlu terus diangkat sebagai bagian dari penguatan identitas bangsa. “Budaya bukanlah beban, tetapi kekuatan. Kebudayaan harus menjadi bagian dari ekonomi budaya sekaligus diplomasi budaya Indonesia,” kata Fadli Zon.
Sementara itu, Presiden Minang Diaspora Global Network, Fasli Jalal, menyampaikan bahwa forum tersebut dihadirkan untuk memperkuat hubungan ranah dan rantau serta menegaskan kembali pentingnya nagari sebagai fondasi identitas masyarakat Minangkabau. Menurutnya, pembangunan nagari menjadi basis penting dalam menjaga nilai budaya Minangkabau di tengah perkembangan global. Karena itu, sinergi antara masyarakat di kampung halaman dan diaspora perlu terus diperkuat. “Kita boleh merantau ke mana saja, tetapi jati diri sebagai orang Minang harus tetap dipelihara,” ujar Fasli Jalal.
Fasli Jalal menambahkan bahwa Minang Diaspora Global Network saat ini telah berkembang di 22 negara dan terus membangun jejaring global masyarakat Minangkabau. Dirinya berharap forum tersebut dapat melahirkan berbagai gagasan dan langkah konkret untuk memperkuat pembangunan sosial, budaya, dan pendidikan berbasis nagari.
Selain dialog budaya, acara tersebut juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh Minangkabau atas kontribusi mereka di bidang literasi budaya dan kemanusiaan. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyerahkan langsung Anugerah Mahakarya Literasi Budaya Minangkabau kepada Tan Sri Rais Yatim atas jasa dan karya-karyanya dalam mengangkat kebudayaan Minangkabau melalui berbagai karya literasi. Penghargaan serupa juga diberikan kepada Buya Mas’oed Abidin atas dedikasinya dalam mengembangkan literasi budaya, pemikiran keislaman, dan peradaban Minangkabau.
Selain itu, Minang Diaspora Global Network memberikan Anugerah Pengabdian Kemanusiaan Minangkabau kepada Jurnalis Uddin, Nurhayati Subakat, dan Yendra Fahmi atas dedikasi dan pengabdian mereka kepada masyarakat dan kemanusiaan.
Acara turut dihadiri oleh sejumlah tokoh, antara lain Istri Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Mufidah Jusuf Kalla; Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah; Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, Denny Abdi; sastrawan dan penyair legendaris Indonesia, Taufiq Ismail; Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, serta sejumlah tokoh masyarakat, akademisi, budayawan, dan diaspora Minangkabau dari berbagai negara.
Menutup sambutannya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga modal sosial dan ekonomi yang dapat memperkuat identitas nasional. Beliau juga berharap agar masyarakat Minangkabau dapat semakin peduli terhadap akar budayanya serta terus berperan aktif dalam menjaga, mengembangkan, dan memajukan kebudayaan Minangkabau di tengah perkembangan zaman.
(lam)