Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home global news detail berita

Inggris Rayakan Idulfitri di Tengah Gejolak Politik Atas Klaim Shalat Berjamaah sebagai Tindakan Intimidasi

lusi mahgriefie Ahad, 22 Maret 2026 - 07:46 WIB
Inggris Rayakan Idulfitri di Tengah Gejolak Politik Atas Klaim Shalat Berjamaah sebagai Tindakan Intimidasi
Perayaan Idulfitri di London. Foto: The Guardian
LANGIT7.ID-London -

Pada Jumat (20/3) masjid Baitul Futuh, London dipadati ribuan jamaah yang menjalani shalat Id, menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan.

Masjid di London selatan merupakan salah satu yang terbesar di Eropa. Di sana tergambar perayaan Idul Fitri yang dirayakan oleh jutaan umat Muslim di seluruh Inggris, di tengah perbedaan yang ada di sana.

Hal tersebut memecah belah para pemimpin partai di Inggris, memicu peringatan tentang fanatisme, dan membuat anggota komunitas merasa terganggu dan kecewa.

Baca juga:JK, Mahfud MD, dan Anies Baswedan Shalat Idulfitri di Masjid Al Azhar Jakarta

Baru-baru ini muncul opini bahwa shalat berjamaah di tempat umum bersifat mengintimidasi, tidak sesuai dengan budaya Inggris, dan merupakan "tindakan dominasi". Klaim tersebut hadir setelah sebuah acara Ramadhan di Trafalgar Square, London.

Pemimpin Partai Reformasi, Nigel Farage, menyebut acara tersebut, yang telah berlangsung lima kali tanpa insiden atau kontroversi sebelumnya, sebagai upaya untuk "mengintimidasi dan mendominasi cara hidup kita".

Inggris Rayakan Idulfitri di Tengah Gejolak Politik Atas Klaim Shalat Berjamaah sebagai Tindakan Intimidasi (Shalat berjamaah saat buka bersama beberap waktu lalu di Trafalgar Square, London. Foto: The Guardian)

Taufique Ahmad (22), berdiri di luar masjid saat orang-orang memasuki masjid untuk salat Id, mengatakan bahwa "bahasa kasar dan berpotensi berbahaya" yang digunakan terhadap komunitas tersebut cukup mengganggu.

"Identitas Inggris adalah sesuatu yang sangat kuat sehingga tidak cukup rapuh untuk membuat Anda melihat sekilas keragaman dan kemudian hancur," kata Ahmad, seorang pekerja magang hukum dan anggota tim pers masjid.

“Setidaknya identitas Inggris saya begitu kuat sehingga jika saya melihat komunitas lain menjalankan keyakinan mereka secara terbuka dan damai, justru itu membuat saya merasa lebih Inggris."

Para pemimpin komunitas semakin sering memperingatkan tentang pergeseran jendela Overton, rentang ide yang dianggap dapat diterima di kalangan masyarakat umum, terkait wacana politik seputar identitas, ras, dan agama.

Baca juga:Jumlah Jamaah Membludak, Masjid Tokyo Camii Gelar Shalat Idulfitri hingga 5 Kali

Sementara pemimpin Partai Konservatif, Kemi Badenoch, mengatakan Timothy "membela nilai-nilai Inggris".

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengklaim partai tersebut "memiliki masalah dengan Muslim".

Memerangi Diskriminasi

Dalam upaya memerangi perlakuan tidak pantas, prasangka, dan diskriminasi terhadap umat Muslim, di tengah meningkatnya kejahatan kebencian, pemerintah baru-baru ini mengadopsi definisi permusuhan anti-Muslim.

Perasaan akan permusuhan anti-Muslim adalah sesuatu yang telah dialami Taahir Ahmad sejak kecil: “Peristiwa 9/11 terjadi ketika saya masih kecil,” kata pria berusia 35 tahun itu. Saat kejadian, ia kala itu hendak menemui ibunya setelah shalat Jumat.

“Itu mengerikan, saya satu-satunya anak berkulit cokelat di sekolah saya saat itu, dan karena anak-anak memang seperti itu, mereka menyalahkan saya atas segalanya dan sebagainya, itu agak traumatis,” kenangnya.

Mengenai retorika politik yang muncul minggu ini, Ahmad mengatakan dia percaya tujuannya adalah untuk menimbulkan kekacauan dan perpecahan.

Seharusnya, para pemimpin menghadiri acara-acara tersebut, katanya, dan melihat seberapa damai acara-acara itu.

“Jika Anda menargetkan etnis atau kelompok agama tertentu, Anda mengisolasi mereka dan apa yang Anda coba lakukan adalah mengorganisir masyarakat untuk melawan orang-orang itu,” kata Ahmad, seorang streamer yang tinggal di Morden.

Itu adalah taktik, saya mengerti itu, tidak diterima, tidak dihargai, tetapi kami belajar untuk hidup dengannya, kami belajar untuk menghadapinya,” tambahnya. “Kami tidak seburuk yang digambarkan media atau politisi.”

Persepsi seperti itu juga tidak sejalan dengan pengalaman Michelle Rahman. Sebagai seorang wanita Muslim Inggris yang taat beragama dari London timur, ia mengatakan bahwa pandangan beberapa politisi bukanlah pandangan masyarakat luas.

“Kita mengharapkan politisi kita untuk menjaga persatuan dalam masyarakat, jadi bagaimana saya memandangnya? Kecewa. Tetapi yang tidak saya lihat adalah bahwa hal itu mendefinisikan Inggris Raya,” kata Rahman, seorang pekerja NHS yang juga merupakan pemimpin pemuda di masjid.

“Itu bukan pendapat massa,” tambahnya. “Ada perpecahan di seluruh masyarakat dan saya melihat ini hanya sebagai salah satu peristiwa tersebut, tetapi sebenarnya itu bukan representasi dari komunitas yang lebih luas.” (*/lsi/theguardian)

(lsi)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)