Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita
Silaturahmi Lintas Negara

Potret WNI Rayakan Lebaran di Johannesburg: Gelar Open House hingga Berbagi Kue Kering

esti setiyowati Kamis, 19 Maret 2026 - 08:00 WIB
Potret WNI Rayakan Lebaran di Johannesburg: Gelar Open House hingga Berbagi Kue Kering
Potret WNI Rayakan Lebaran di Johannesburg: Open House hingga Berbagi Kue Kering. Foto: dok Muhammad Syafrudin.
LANGIT7.ID, Johannesburg,- - Johannesburg tak hanya dikenal sebagai pusat ekonomi Afrika Selatan, namun juga akan keragaman budayanya. Diaspora Indonesia, Muhammad Syafrudin, yang sejak 2012 tinggal di Afrika Selatan, membagikan kisahnya menjalani Ramadhan dan Idulfitri di negara ini.

Pria yang menjalani kesehariannya sebagai Technology Consultant ini menjalani hari raya Idulfitri dalam kebersahajaaan. Baginya, Lebaran di tanah rantau adalah tentang menjaga makna, bukan sekadar suasana.

Muhammad Syafrudin, yang akrab disapa Aput, menghabiskan momen Lebaran dengan berkumpul bersama diaspora Indonesia lainnya di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Pretoria.

Potret WNI Rayakan Lebaran di Johannesburg: Gelar Open House hingga Berbagi Kue Kering
Keterangan foto: Diaspora Indonesia di Afrika Selatan berkumpul usai menjalani shalat Idulfitri 1446 H. Foto: dok pribadi

Baca juga: Lebaran di Melbourne, Menahan Rindu Akan Riuh Malam Takbiran dan Menu Idulfitri Khas Magelang

Berbagai aktivitas yang umum dilakukan di Indonesia, dijalaninya bersama dengan perantau lain.

Di sini, Aput merasakan kehangatan nyata akan makna ukhuwah Islamiyah. Tanpa hiruk pikuk seperti di Indonesia, kebersamaan justru hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, namun sarat makna. Setelah shalat, mereka saling bersalaman, bermaafan, dan melanjutkan dengan tradisi open house.

“Kita kumpul saat Lebaran, dimulai dengan shalat Idulfitri, dilanjut halal bihalal dan makan-makan,” tuturnya pada LANGIT7.ID.

Tak hanya sesama warga Indonesia, Aput dan komunitasnya juga mengundang rekan Muslim dari berbagai negara lain. Dalam suasana penuh keakraban, mereka saling bertukar hidangan. Kue-kue kering khas Indonesia tersaji berdampingan dengan aneka makanan dari berbagai budaya.

Potret WNI Rayakan Lebaran di Johannesburg: Gelar Open House hingga Berbagi Kue Kering
Keterangan foto: Muhammad Syafrudin bersama istri saat merayakan Lebaran tahun lalu di Afrika Selatan. Foto: dok pribadi

“Kami bisa merasakan makanan khas dari saudara Muslim lain, sekaligus memperkenalkan cita rasa Indonesia,” ungkapnya.

Pun begitu, ada beberapa perbedaan yang dirasakan Aput selama merayakan Idulfitri di Johannesburg. Aput mengatakan bahwa Afrika Selatan belum menjadikan hari perayaan agama sebagai hari libur nasional.

Baca juga: Cerita Diaspora RI di Finlandia: Lebaran Tanpa Libur, Kelar Shalat Id Langsung Kerja

Sehingga saat perayaannya, aktivitas masyarakat tetap berjalan seperti biasa, begitu pun dengan Idulfitfi. Tak heran bila Aput tak merasakan nuansa Lebaran seperti halnya di Tanah Air.

Potret WNI Rayakan Lebaran di Johannesburg: Gelar Open House hingga Berbagi Kue Kering
Keterangan foto: Suasana saat berbuka puasa bersama komunitas Muslim di Johannesburg. Foto: dok pribadi.

Namun di balik itu, tersimpan nilai toleransi yang tinggi. Dengan populasi Muslim sekitar 10 persen, masyarakat Afrika Selatan telah terbiasa hidup dalam keberagaman. Mereka menghormati praktik ibadah umat Islam, termasuk perayaan Idulfitri.

“Di tempat umum seperti supermarket, sudah banyak ornamen Lebaran,” kata Aput.

Meski harus mengajukan izin kerja untuk merayakan hari raya, ia merasakan adanya pengertian dari lingkungan sekitar. Baginya, ini adalah bentuk penghormatan yang patut disyukuri.

Menjalani Ramadhan dan Idulfitri di Afrika Selatan menghadirkan pengalaman yang unik. Tradisi Islam di sana banyak dipengaruhi budaya India, sehingga terdapat sejumlah perbedaan dengan kebiasaan di Indonesia.

Salah satunya adalah pelaksanaan shalat tarawih dan shalat Id yang umumnya hanya diikuti oleh pria. Selain itu, faktor musim juga memengaruhi waktu ibadah.

Baca juga: Mengenal Ramazan Bayram, Lebaran Khas Turki dengan Tradisi Bagi-Bagi Permen

“Karena mendekati musim dingin, waktu Subuh jadi lebih siang. Tahun lalu kami shalat Subuh sekitar pukul 05.30, lalu menunggu untuk shalat Id,” jelas Aput.

Perbedaan ini menjadi pengingat bahwa Islam hadir dalam beragam wajah budaya, namun tetap dalam satu tujuan, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jejak Nusantara dalam Tradisi Cape Malay

Menariknya, jejak Indonesia juga dapat ditemukan dalam tradisi Muslim di Afrika Selatan, khususnya melalui komunitas Cape Malay, keturunan Asia Tenggara yang telah lama menetap di sana.

Salah satu tradisi yang masih dijaga adalah menyajikan Boeber pada malam ke-15 Ramadan. Minuman hangat berbahan susu, bihun, gula, dan rempah ini menjadi simbol syukur atas setengah perjalanan ibadah puasa.

“Boeber itu seperti minuman manis hangat, sederhana tapi penuh makna,” ujar Aput.

Potret WNI Rayakan Lebaran di Johannesburg: Gelar Open House hingga Berbagi Kue Kering
Keterangan foto: Makanan khas dari komunitas Cape Malay yang biasa tersaji saat hari ke-15 Ramadhan. Foto: Ist.

Baca juga: Kemeriahan Festival Idulfitri di Taipei, Ajang Silaturahmi Puluhan Ribu Diaspora Muslim

Tradisi ini menjadi bukti bahwa jejak budaya Nusantara tetap hidup, meski terpisah oleh jarak dan waktu.

Ramadhan di Johannesburg juga mengajarkan makna kesederhanaan. Saat berbuka, hidangan tidak berlimpah seperti di Indonesia. Kurma, minuman, dan samosa sudah cukup menjadi pembuka puasa.

Namun justru di situlah letak keindahannya, di mana kesederhanaan menghadirkan keikhlasan yang dapat menghadirkan rasa kedekatan dengan Sang Ilahi.

Di balik ketegarannya sebagai seorang perantau, selalu ada ruang rindu yang tak terisi. Aput mengaku begitu merindukan momen berkumpul bersama keluarga besar dan hidangan khas yang biasa tersaji.

Ia mengenang tradisi di Lampung, tempat keluarganya berkumpul pada hari kedua Idulfitri. Ada satu hidangan unik yang selalu tersaji, yakni olahan durian atau nangka yang dimasak bersama ikan.

“Itu yang paling saya rindukan,” ujarnya pelan.

Satu hal lain yang kerap menghadirkan perasaan haru adalah perbedaan waktu Idulfitri. Di Afrika Selatan, penentuan 1 Syawal dilakukan melalui rukyatul hilal, sehingga sering kali tidak bertepatan dengan Indonesia.

Baca juga: Harmoni di Negeri Sekuler, Potret Idulfitri Mahasiswa Doktoral RI di Pesisir Timur Taiwan

Akibatnya, ketika keluarga di Tanah Air telah merayakan Lebaran, Aput dan komunitasnya masih menunggu hari kemenangan tiba.

“Jadi rasanya seperti tertinggal. Saat mereka sudah bermaaf-maafan, kami belum,” katanya.

Perbedaan waktu hingga lima jam semakin menambah jarak emosional tersebut. Bahkan, suasana takbiran yang biasanya meriah di Indonesia nyaris tidak terdengar di Johannesburg.

Namun pada akhirnya, Lebaran bukanlah semata tentang kemeriahan. Ia adalah perjalanan kembali kepada fitrah, tentang hati yang bersih, keikhlasan yang tumbuh, dan ukhuwah yang dirawat, di mana pun berada.



(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)