Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita
Silaturahmi Lintas Negara

Lebaran di Kyoto, Merajut Hangatnya Kampung Halaman Bersama Sesama Perantau

lusi mahgriefie Jum'at, 20 Maret 2026 - 09:43 WIB
Lebaran di Kyoto, Merajut Hangatnya Kampung Halaman Bersama Sesama Perantau
Pelajar Indonesia, Denada Florencia Leona merayakan Lebaran di Kyoto, Jepang bersama keluarga. Foto: dok. pribadi Denada
LANGIT7.ID-, Kyoto - Udara musim semi di Kyoto terasa lembut pagi itu. Bunga sakura mulai bermekaran di sudut-sudut kota, menyambut datangnya Hari Raya Idulfitri bagi umat Muslim di Jepang.

Bagi banyak perantau Indonesia di Jepang, Lebaran jauh dari hiruk-pikuk kampung halaman, para muslim Indonesia di sana merayakan Lebaran dengan cara mereka sendiri-sederhana, hangat, dan penuh kerinduan.

Salah satunya dr. Denada Florencia Leona, yang sejak 2024 tinggal di Kyoto untuk melanjutkan studi di Graduate School of Medicine Kyoto University. Lebaran di Jepang adalah pengalaman yang penuh cerita. Ia datang dari Padang, Sumatera Barat, kota yang identik dengan tradisi Lebaran yang meriah, meja makan penuh hidangan khas, dan rumah yang tak pernah sepi dari tamu.

Namun di Kyoto, suasananya tentu berbeda, tapi justru di situlah kehangatan baru ditemukan.

Lebaran di Kyoto, Merajut Hangatnya Kampung Halaman Bersama Sesama Perantau(Denada bersama keluarga di KJRI di Osaka. Foto dok pribadi)

Masjid yang Menjadi Rumah Kedua

Selama Ramadhan dan Lebaran, pusat kegiatan umat muslim di Kyoto berkumpul di dua masjid: Kyoto Grand Mosque dan Kyoto Central Masjid. Bagi komunitas Indonesia, Kyoto Grand Mosque yang dikelola oleh Kyoto Muslim Association dimana terdiri dari kebanyakan orang Indonesia, menjadi tempat yang paling akrab.

"Di sana ada garin dan imamnya juga orang Indonesia," cerita Denada.

Baca juga: Lebaran di Melbourne, Menahan Rindu Akan Riuh Malam Takbiran dan Menu Idulfitri Khas Magelang

Masjid itu bukan sekadar tempat ibadah. Ia juga menjadi ruang bertemu, tempat berbagi cerita para perantau. Bahkan selama Ramadhan, kegiatan buka puasa bersama menjadi tradisi yang dinanti. Menariknya, para jamaah ikut berpartisipasi bergiliran memasak di tiap harinya.

Bahan-bahan biasanya sudah disediakan dari koperasi masjid yang juga menjual berbagai kebutuhan makanan Indonesia. Nama-nama yang akan memasak pun sudah tercatat sejak awal Ramadan dalam grup komunitas.

"Biasanya bukber diadakan Jumat, Sabtu, dan Minggu. Kita masak bersama, dari bahan yang sudah disediakan koperasi masjid," ujar Denada.

Saat acara berbuka tiba, suasana masjid terasa begitu hangat dan kekeluargaan. Belum lagi aroma rempah masakan Indonesia perlahan memenuhi ruangan, menghadirkan nostalgia yang tak bisa digantikan oleh apa pun.

Berbagai cara dilakukan untuk merayakan Ramadhan dan Idulfitri seperti bazar Ramadhan, buka puasa bersama, hingga halal bihalal.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Osaka bahkan rutin mengadakan acara buka puasa gratis yang dihadiri warga Indonesia dari berbagai kota di Jepang.

Denada sendiri pernah menjadi pembicara dalam sebuah talkshow di acara tersebut, membahas bagaimana menjaga tubuh tetap sehat dan nyaman selama Ramadhan.

Lebaran di Kyoto, Merajut Hangatnya Kampung Halaman Bersama Sesama Perantau

Shalat Id di Negeri Sakura

Hari Lebaran di Kyoto memiliki ritme yang sedikit berbeda dari Indonesia.

Shalat Id biasanya dilaksanakan pukul 9.00 waktu setempat. Tempatnya pun bisa berubah, tergantung hari. Jika Lebaran jatuh pada hari Jumat, shalat dilakukan di masjid. Namun jika jatuh di hari lain, jamaah biasanya menyewa auditorium di kampus atau gedung besar yaitu Miyakomesse.

Jika di masjid, shalat harus dilakukan beberapa gelombang seperti shalat Jumat karena keterbatasan tempat. Namun jika di auditorium, semua jamaah bisa berkumpul dalam satu waktu.

Baca juga: Potret WNI Rayakan Lebaran di Johannesburg: Gelar Open House hingga Berbagi Kue Kering

Lebaran tahun lalu Denada beserta suami, Agung Suryadi, dan kedua buah hati mereka, Rashanah Nurin (3) dan Akira Abdillah Ibrahim (6 bulan) memilih shalat di Miyakomesse.

Ada satu hal yang membuat Denada kagum yakni khutbah di Kyoto disampaikan dalam tiga bahasa sekaligus. "Khutbahnya pakai bahasa Jepang, Inggris, dan Indonesia. Jadi semua jamaah bisa memahami," katanya.

Di tengah keberagaman jamaah yaitu dari Indonesia, Bangladesh, Iran, hingga Jepang, perbedaan bahasa justru menjadi simbol kebersamaan.

Piknik Lebaran di Tepi Sungai

Setelah salat Id selesai, perayaan belum benar-benar usai.

Bagi Denada, Lebaran berlanjut bersama komunitas orang Minang yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Minang (IKM) di wilayah Kansai. Mereka sering berkumpul di ruang terbuka, bahkan kadang di tepi sungai Kamo River, layaknya piknik.

Setiap orang membawa makanan dari rumah, konsep potluck yang sederhana namun penuh rasa kekeluargaan. Menu yang hadir pun tidak main-main yaitu nasi Padang, rendang, telur balado, dendeng, hingga lontong jadi benar-benar ingin menghadirkan suasana Lebaran Indonesia di Negri Sakura.

Lebaran di Kyoto, Merajut Hangatnya Kampung Halaman Bersama Sesama Perantau(Menu Lebaran khas yang coba dihadirkan di perantauan demi mengobati rindu kampung halaman)

"Rasanya haru, seperti ketemu keluarga," ungkap Denada sambal mengenang momen tersebut.

Tawa, cerita, dan aroma masakan kampung halaman seolah menghapus jarak ribuan kilometer dari Indonesia.

Kerinduan yang Tak Pernah Hilang

Meski suasana Lebaran di Kyoto terasa hangat, tetap ada hal yang paling dirindukan Denada dari kampung halaman. Yang pertama tentu saja makanan. Sebagai orang Minang, Lebaran tanpa hidangan khas terasa ada yang kurang.

"Yang paling kangen itu makanan. Rendang, opor, lontong. Di sini ada, tapi rasanya beda," ujarnya.

Ia pernah mencoba membuat lontong sendiri. Hasilnya? Tidak seperti yang dibayangkan. "Pernah coba bikin, tapi gagal. Lontongnya malah lembek," kata dia sambil tertawa.

Kerinduan kedua, tentu saja keluarga.

Setiap selesai salat Id, Denada dan keluarganya langsung melakukan video call bersama keluarga besar di Indonesia. Satu per satu wajah muncul di layar; orang tua, kakak, hingga kerabat lain.

Di layar ponsel itu, jarak terasa menyempit.

Baca juga: Opor Ayam dan Gotong Royong, Cara Diaspora Denver Menyulap Amerika Jadi Kampung Halaman

Berada di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim, suasana Lebaran memang tidak hadir secara otomatis. Tidak ada gema takbir dari masjid di setiap sudut kota, tidak ada pasar kue Lebaran yang ramai, dan tidak ada tradisi mudik seperti di Indonesia.

Karena itu, para perantau harus menciptakan suasana Lebaran itu sendiri. "Kalau kita tidak membuat suasana sendiri, Lebaran tidak akan terasa," kata Denada.

Tak ketinggalan, malam takbiran juga dirayakan dengan sederhana, berkumpul, bercengkerama, dan merasakan kebersamaan yang mungkin justru terasa lebih kuat karena mereka sama-sama jauh dari rumah.

Lebaran di Kyoto, Merajut Hangatnya Kampung Halaman Bersama Sesama Perantau

Lebaran yang Mengajarkan Arti Rumah

Bagi Denada, merayakan Lebaran di Jepang bukan hanya tentang beradaptasi dengan budaya baru. Ia juga belajar tentang arti kebersamaan.

Di tanah yang jauh dari keluarga, orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal bisa berubah menjadi seperti saudara.

Mereka memasak bersama, shalat bersama, dan merayakan Lebaran bersama.

Mungkin suasananya tidak semeriah di Indonesia. Namun di balik kesederhanaannya, ada kehangatan yang tidak kalah dalam. Karena pada akhirnya, Lebaran bukan hanya soal tempat.

Lebaran adalah tentang orang-orang yang membuat kita merasa pulang, meski sedang berada ribuan kilometer dari kampung halaman.



(lsi)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)