Opor Ayam dan Gotong Royong, Cara Diaspora Denver Menyulap Amerika Jadi Kampung Halaman
esti setiyowatiSenin, 23 Februari 2026 - 08:00 WIB
Soraya Abdul Karim, warga Bogor yang kini menetap di Denver, Coloradi, AS. Foto: dok Soraya Abdul Karim.
LANGIT7.ID-, Denver - Menjadi minoritas di Denver, Colorado, Amerika Serikat tak menyurutkan langkah diaspora Indonesia untuk menghidupkan tradisi Ramadhan.
Meski harus beradaptasi dengan durasi puasa 13-16 jam yang mengikuti perubahan musim, mereka berhasil memadukan khusyuknya ibadah dengan hangatnya kebersamaan demi mengobati kerinduan pada kampung halaman.
Bagi Soraya Abdul Karim, diaspora Indonesia yang kini bekerja sebagai caregiver lansia, Denver adalah tempat di mana ia merajut kembali makna ibadah di tengah keberagaman Amerika.
Berikut potret suasana Ramadhan yang dibangun Soraya selama di Denver.
Tahun ini, Denver menyambut Ramadhan di tengah musim dingin. Berbeda dengan pengalamannya di Michigan tahun 2016 yang mengharuskannya berpuasa hingga 16 jam, waktu berbuka di Denver saat ini terasa lebih bersahabat, yakni sekitar pukul 6 sore.
"Puasa tahun ini jatuh di musim dingin, buka puasa masih sekitar jam 6 sore," kata Soraya pada LANGIT7.ID.
Selain itu, ada pembeda yang begitu mencolok dirasakan Soraya yaitu kesunyian Amerika. Tidak ada kumandang adzan yang bersahutan. Bahkan, suara nyaringnya beduk di malam-malam Ramadhan yang dulu sering dirasa mengganggu, kini menjadi hal yang paling dirindukannya.
Namun, bagi Soraya, hal itu tidak menyurutkan langkahnya menuju Masjid Abu Bakar atau masjid-masjid terdekat untuk menunaikan Tarawih.
Semangat komunitas muslim di Denver pun luar biasa hangat. Di Masjid Abu Bakar, para diaspora Indonesia bahu-membahu mengumpulkan donasi untuk menggelar acara buka puasa bersama.
"Dibutuhkan sekitar 1.000 hingga 2.000 dollar. Kami harus mengumpulkan 20 keluarga yang masing-masing harus menyumbang 100 dollar," jelasnya.
Di sini, Soraya tidak hanya bertemu sesama orang Indonesia, tapi juga melebur dengan komunitas muslim dari berbagai belahan dunia.
Selain itu, komunitas diaspora Indonesia di Denver sangat aktif mengundang pendakwah popular di Tanah Air. Seperti dua tahun lalu, komunitasnya berhasil menghadirkan Ustazah Oki Setiana Dewi hingga Ustadz Dasad Latief.
Mengobati Rindu dengan Bihun Goreng dan "Oncom Palsu"
Meski raga di Amerika, namun hati Soraya tetap tertinggal di Indonesia. Ia terus merindukan riuh rendah suara anak-anak sepulang Tarawih, tabuhan beduk, hingga deretan takjil di pinggir jalan.
Demi mengobati kerinduannya itu, ia menyulap meja makan rumahnya dengan kuliner Nusantara mulai dari bihun goreng, lontong, sambal kacang, hingga kolak.
Sebagai warga Bogor, satu yang paling ia rindukan adalah Mie Glosor dan oncom. Karena oncom mustahil ditemukan, ia punya trik cerdas. "Kalau kangen combro saya tinggal pesan dari teman yang kebetulan suka bikin. Oncomnya diakali pakai tempe," ungkapnya sambil tertawa.
Puasa sebagai Ladang Syiar
Bekerja sebagai seorang caregiver lansia, Soraya membawa misi syiar melalui perilakunya. Meski ada rekan kerja yang masih awam dan bertanya-tanya mengapa ia tidak makan dan minum, Soraya dengan senang hati menjelaskan makna di balik Ramadhan.
Toleransi di tempat kerjanya saat ini pun jauh lebih baik dibandingkan pengalamannya dulu saat bekerja di sebuah mal, di mana ia harus langsung masuk kantor tepat setelah shalat Idulfitri.
Kini, ia lebih tenang menjalankan ibadah di tengah lingkungan yang cukup banyak dihuni umat Islam.
Lebaran dan Kue Nastar yang Wajib Ada
Saat Idulfitri, komunitas diaspora Indonesia di Denver biasanya menggelar open house secara bergantian.
Meski suasananya tak semeriah di Indonesia, karena banyak yang tetap harus bekerja, Soraya tetap konsisten menghidangkan menu wajib: ketupat, opor, semur, dan sayur kacang.
"Tahun ini belum tahu mau masak apa lagi, tapi yang jelas nastar harus ada," pungkasnya.
Bagi Soraya, Ramadan dan Lebaran di Amerika adalah tentang menjaga identitas, mempererat silaturahmi melalui grup pengajian Colorado, dan terus merawat iman meski jauh dari kampung halaman.