Hangatnya Silaturahmi di Spanyol, Kala Potluck Obati Rindu Ramadhan di Indonesia
esti setiyowatiKamis, 19 Februari 2026 - 08:00 WIB
Azizah Hirawati bersama suami yang kini tinggal di Barcelona, Spanyol. Foto: dok Azizah Hirawatu.
LANGIT7.ID, Jakarta,- - Bagi Azizah Hirawati, penulis perempuan asal Depok, jarak 12.000 kilometer dari Tanah Air bukan sekadar angka geografis.
Sejak tahun 2020, lulusan S1 yang kini mendedikasikan waktunya sebagai ibu rumah tangga ini telah menetap di Spanyol demi mendampingi sang suami yang melanjutkan studi.
Bagi Azizah Hirawati atau yang akrab disapa Ira, memulai hidup di Spanyol adalah tentang keberanian keluar dari zona nyaman. Ia mengaku sempat 'demam panggung' saat harus beradaptasi dengan lingkungan juga bahasa yang baru baginya.
"Awalnya nervous, karena harus beradaptasi dengan bahasa, budaya, dan lingkungan yang benar-benar baru, tapi setelah dijalanin ternyata seru dan menantang," cerita Ira saat dihubungi LANGIT7.ID.
Namun, perjalanannya di "Negeri Matador" dimulai dengan ujian yang tak terduga.
Adaptasi di Tengah Senyapnya Lockdown
Belum lama mendarat di kota Valencia, Azizah langsung disambut oleh pandemi COVID-19. Spanyol saat itu menerapkan lockdown yang sangat ketat.
Interaksi sosial terhenti, dan semua aktivitas dilakukan secara daring. Namun, di tengah keterbatasan itulah Ira belajar melapangkan hati, hingga perlahan ia mampu membangun rutinitas baru saat situasi berangsur normal.
"Awalnya terasa berat banget, tapi seiring waktu kami mulai menyesuaikan diri, berusaha menjalani dengan hati lapang," tambah Ira yang berulang tahun pada 14 September ini.
Kemudian seiring melandainya pandemi dan dicabutnya kebijakan lockdown oleh otoritas Spanyol, aktivitas Ira dan suami pun perlahan kembali normal.
Momen tersebut dimanfaatkan Ira untuk mengeksplorasi lingkungan tempat tinggalnya. Perlahan ia mulai menyusun ritme harian yang baru dan benar-benar melebur dengan kehidupan di Valencia.
"Saya mulai mengenal lingkungan sekitar, membangun rutinitas baru, dan beradaptasi dengan kehidupan di sini. Alhamdulillah, hingga saat ini, saya masih diberi kesempatan untuk terus beraktivitas dan belajar banyak hal," ucapnya.
Menjalankan ibadah puasa di negara mayoritas non-muslim membawa rasa rindu yang mendalam bagi Ira. Suasana syahdu Ramadhan di Tanah Air, seperti suara adzan yang bersahutan, keriuhan berburu takjil, hingga tradisi ngabuburit begitu dirindukannya.
"Terasa sepi dan hampa," ungkapnya.
Meski diakui Ira banyak keluarga Muslim diaspora lain yang saling support, tapi rasa rindu pada Ramadhan di Indonesia masih terus menyala.
"Kami sangat merindukan kebersamaan dengan keluarga dan teman, serta suasana Ramadhan di Indonesia yang sangat seru dan meriah. Buka puasa bersama keluarga, shalat tarawih dari masjid ke masjid, berburu takjil dan makanan khas Ramadan seperti kolak, gorengan, dan es campur," kata Ira.
Demi mengobati kerinduan tersebut, Ira menyulap dapurnya menjadi "Indonesia kecil". Ia memasak sendiri menu khas seperti kolak, gorengan, hingga es campur.
Dukungan teknologi melalui video call dengan keluarga di Indonesia serta mengikuti kajian online menjadi penawar rindu yang ampuh.
"Selain itu, kami biasanya mengadakan buka puasa bersama teman-teman diaspora di sini dan ikut tarawih bersama di masjid, sehingga suasana Ramadhan masih terasa walaupun jauh dari Tanah Air,"
Meski belum dikaruniai buah hati, ia dan suami berkomitmen untuk menjaga tradisi Ramadhan khas nusantara di dalam rumah mereka sebagai fondasi bagi keluarga kecilnya kelak.
Hangatnya Silaturahmi Diaspora Indonesia di Spanyol
Dari Valencia hingga Barcelona, Ira menemukan komunitas Indonesia yang hadir bukan hanya sebagai perkumpulan formal, melainkan sebagai keluarga kedua yang memberikan kehangatan di tengah jauhnya jarak dari Tanah Air.
Saat di Valencia, Ira merasakan pentingnya jejaring komunitas terutama di masa-masa sulit seperti lockdown pandemi beberapa waktu lalu.
Ruang gerak yang terbatas secara fisik, menjadikan komunikasi melalui grup WhatsApp WNI di Valencia sebagai penyelamat.
Kehadiran komunitas digital ini terbukti sangat membantu para diaspora melewati masa isolasi, memastikan bahwa tidak ada satu pun orang Indonesia yang merasa sendirian dalam menghadapi ketidakpastian.
"Di Valencia, waktu itu aku sempat gabung komunitas karena waktu itu masih masa lockdown. Tapi kami join grup WA WNI di sana. Lumayan bantu banget ngelewatin masa-masa lockdown, saling sapa dan saling berbagi info," cerita Ira.
Berpindah ke Barcelona (BCN), suasana kekeluargaan terasa semakin dinamis. Di kota ini, pergerakan diaspora didukung oleh dua pilar utama: Komunitas Diaspora Indonesia dan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Spanyol.
Kolaborasi keduanya kerap menghadirkan kegiatan yang mempererat hubungan antar-warga, terutama dalam momen-momen besar keagamaan.
"Untuk bukber, biasanya diinisiasi teman-teman Muslim. Konsepnya kadang potluck (masing-masing bawa makanan sendiri tapi biasanya sudah ditentukan menu untuk masing-masing orang), kadang juga makan bareng di resto halal di sini," kata Ira.
Ramadhan di Spanyol memiliki tantangan fisik tersendiri, terutama terkait durasi waktu. Jika jatuh pada musim panas, waktu berbuka bisa mencapai pukul 21.30 malam.
"Waktu sahur biasanya sekitar pukul 04.00–05.00 pagi, sementara waktu berbuka puasa bisa mencapai pukul 20.30–21.30 malam, tergantung wilayah dan musim," terang Ira.
Beruntung, Ramadhan tahun 2026 ini bertepatan dengan musim dingin, sehingga durasi puasa terasa lebih singkat dan ringan.
Terkait interaksi sosial, Azizah merasa sangat nyaman. Warga asli Spanyol dikenal memiliki toleransi yang tinggi.
"Banyak dari mereka yang tahu tentang ibadah Ramadhan dan sangat menghargai apa yang kami jalani," tuturnya.
Ibadah di Rumah: Tantangan Fasilitas bagi Perempuan
Salah satu tantangan teknis yang dihadapi Azizah adalah pelaksanaan salat Tarawih. Selain jadwalnya yang cukup larut, dimulai sekitar pukul 23.30 waktu setempat, tidak semua masjid di sekitarnya menyediakan tempat bagi jamaah perempuan.
"Masjid dekat rumah hanya untuk laki-laki, sedangkan masjid yang menyediakan tempat untuk wanita jaraknya cukup jauh. Akhirnya, saya lebih banyak Tarawih di rumah," jelasnya.
Bagi Ira, menjalani Ramadhan di Spanyol adalah proses pendewasaan spiritual. Jauh dari kemeriahan Indonesia, ia justru menemukan esensi puasa yang lebih mendalam.
Ramadhan di negeri orang telah mengajarkannya arti kesabaran yang lebih luas, kemandirian dalam beribadah, serta rasa syukur yang tak putus meski harus berpuasa dalam sunyi.
"Saya sangat bersyukur, Ramadhan di negeri orang mengajarkan akan kesabaran, kemandirian, dan rasa syukur," tutup Ira.