Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 11 Juli 2026
home lifestyle muslim detail berita
Silaturahmi Lintas Negara

Cerita Arief Rahman, 17 Tahun Merajut Kekeluargaan Diaspora di Singapura Saat Ramadhan

esti setiyowati Rabu, 18 Februari 2026 - 08:31 WIB
Cerita Arief Rahman, 17 Tahun Merajut Kekeluargaan Diaspora di Singapura Saat Ramadhan
Arief Rahman, seorang guru Bahasa Indonesia yang sudah menetap di Singapura selama 17 tahun. Foto: Arief Rahman dok.
LANGIT7.ID-, Jakarta - - Bagi para diaspora Indonesia, Ramadhan di negeri orang punya cerita tersendiri. Meski rasa rindu akan suasana kampung halaman tak terelakkan, namun semangat beribadah tetap membara.

Seperti yang dirasakan Arief Rahman, guru Bahasa Indonesia di Victoria School, sekolah menengah khusus laki-laki di Singapura.

Tujuh belas tahun sudah Arief dan keluarga membangun hidup di Negeri Singa. Memutar kembali ingatan ke Ramadhan pertama mereka di sana. Ia mengenang betapa sulitnya sekadar menemukan sepiring masakan khas Nusantara untuk berbuka.

Baca juga: Hukum Berpuasa tapi Tinggalkan Shalat Wajib 5 Waktu

Kala itu, komunitas perantau Indonesia belum seerat dan seramai sekarang, membuat suasana puasa Ramadhan terasa jauh lebih sunyi di tanah rantau.

"Dulu 17 tahun lalu masih sulit mencari makanan Indonesia dan diasporanya belum sebanyak sekarang. Jadi dulu waktu kangen masakan Indonesia, kami ke KBRI karena biasanya mereka suka open house mengadakan buka puasa bersama tiap weekend," kata Arief pada Langit7.id.

Momen kumpul di Kedutaan Besar RI (KBRI) ini dimanfaatkan Arief untuk berkenalan dengan para diaspora Indonesia.

Di Singapura, komunitas diaspora Indonesia yang menamakan diri Forum Komunikasi Masyarakat Indonesia Singapura (FKMIS) kerap menggelar kegiatan selama Ramadhan, salah satunya buka puasa bareng.

"Dulu memang berat dan sering kangen suasana Ramadhan di Indonesia, tapi semakin lama di sini ya biasa aja dijalaninya. Apalagi sekarang banyak teman-teman Indonesia yang sudah seperti keluarga,"

Cerita Arief Rahman, 17 Tahun Merajut Kekeluargaan Diaspora di Singapura Saat Ramadhan

"Tiap weekend biasanya sudah ada agenda untuk bukber bareng teman-teman diaspora di sini," jelasnya.

Baca juga: Aturan Minum Air Mineral saat Berpuasa, Hati-Hati Bikin Haus

Meski telah menetap di Singapura selama belasan tahun, Arief Rahman dan sang istri tak ingin anak-anak mereka kehilangan akar budaya.

Keduanya tetap gigih menghidupkan suasana Ramadhan khas Nusantara di tengah keluarga kecil mereka.

Momen kebersamaan biasanya diisi dengan mengajak buah hati berbuka dan tarawih berjamaah. Tak ketinggalan, sang istri pun menyibukkan diri di dapur, menghadirkan aneka kue kering buatan sendiri untuk menemani waktu senggang di bulan suci.

Perbedaan suasana Ramadhan di Indonesia dan Singapura sangat terasa. Di Indonesia saat Ramadhan umumnya durasi sekolah atau jam kerja yang lebih pendek dibanding biasanya.

Lain halnya di Singapura, ritme hidup tidak lantas melambat saat bulan puasa tiba. Denyut nadi kota tetap kencang, sekolah dan kantor tetap mengikuti jadwal reguler tanpa ada pengurangan jam kerja.

"Kalau dilihat dunia kerja atau sekolah ya nggak ada bedanya sih kita tetap beraktifitas seperti biasa, bedanya ya sambil berpuasa. Tidak ada keringanan misalnya jam belajar diperpendek," terang pria lulusan Universitas Negeri Jakarta ini.

Baca juga: Pesan Syaikh Yusri Rusydi Persiapkan Diri Sambut Ramadhan

Jadwal akademik anak-anak tidak mengalami perubahan sedikit pun. Mereka tetap berangkat pukul 07.00 dan baru kembali pukul 19.00. Aktivitas fisik seperti olahraga pun tetap berjalan tanpa pengecualian.

"Anak-anak ya tetap bersekolah di jam sama, ikut olahraga seperti biasa. Misalnya anak saya tetap ada pertandingan bola ya lanjut aja. Alhamdulillah anak-anak sudah terbiasa, begitu juga dengan teman-teman mereka yang muslim lainnya," jelas Arief.

Bagi Arief, situasi tersebut menghadirkan ujian tersendiri untuk buah hatinya. Belum lagi perbedaan waktu puasa dengan Indonesia yang menambah daftar panjang perjuangan Arief dan keluarga selama bulan suci.

"Di bulan Ramadhan tantangan lainnya ya jam istirahat mereka yang pendek juga. Karena Isya jam 08.30 malam, mereka baru bisa tidur jam 10.30-11.00 malam, dan harus bangun jam 5 subuh lanjut sekolah dr pagi hingga Maghrib," kata Arief.

Kebersamaan di hari kemenangan pun terasa begitu singkat di sana. Arief berbagi kisah bahwa libur Lebaran di Negeri Singa hanya berlangsung sehari, sebuah waktu yang sangat berharga bagi mereka untuk saling melepas rindu.

Cerita Arief Rahman, 17 Tahun Merajut Kekeluargaan Diaspora di Singapura Saat Ramadhan

"Hari ini lebaran, besok masuk sekolah atau kerja lagi sudah biasa di sini," ucapnya.

Baca juga: 5 Hal yang Harus Disiapkan jelang Ramadhan supaya Puasa Full

Lantaran jadwal yang ketat, momen Lebaran di Indonesia menjadi hal yang langka bagi Arief. Meski tak bisa hadir secara fisik di tengah kerumunan keluarga besar, ia mengakalinya dengan tatap muka virtual agar suasana Idulfitri tetap terasa dekat.

"Kami rutin video call dengan keluarga di Indonesia. Alhamdulillah dengan adanya teknologi canggih sekarang sangat memudahkan silahturahim. WhatsApp, vidcall. Dan untungnya Singapura hanya 2 jam dari Jakarta, keluarga sering datang ke sini," pungkas Arief.



(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 11 Juli 2026
Imsak
04:34
Shubuh
04:44
Dhuhur
12:02
Ashar
15:23
Maghrib
17:55
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan