Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita
Silaturahmi Lintas Negara

21 Tahun di Swiss, Krisna Diantha Cicipi Lagi Rasa Ramadhan yang Sempat Hilang

esti setiyowati Jum'at, 20 Februari 2026 - 08:03 WIB
21 Tahun di Swiss, Krisna Diantha Cicipi Lagi Rasa Ramadhan yang Sempat Hilang
Krisna Diantha, warga Indonesia yang telah 21 tahun menetap di Swiss. Foto: dok Krisna Diantha.
LANGIT7.ID, Jakarta,- - Bagi sebagian besar perantau, Ramadhan di negeri orang sering kali menjadi ajang untuk mempertebal spiritualitas atau mengobati kerinduan pada tanah air.

Namun, bagi Krisna Diantha, warga Indonesia yang telah menetap selama 21 tahun di Swiss, Ramadhan hadir dengan warna yang berbeda.

Baca juga: Hangatnya Silaturahmi di Spanyol, Kala Potluck Obati Rindu Ramadhan di Indonesia

Dua dekade lebih Krisna meninggalkan Indonesia dan membangun hidup di Swiss. Saat ini ia bekerja sebagai seorang perawat di panti asuhan orang berkebutuhan khusus.

21 Tahun di Swiss, Krisna Diantha Cicipi Lagi ‘Rasa’ Ramadhan yang Sempat Hilang

Tinggal di negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, aktivitas harian tetap berjalan seperti biasa meski di bulan Ramadhan.

"Tidak terasa ada Ramadhan di sini. Selebihnya biasa, seperti umumnya. Swiss mayoritas Katolik," ucap Krisna yang masih aktif menaklukkan gunung-gunung ekstrem di Swiss.

Pun begitu, bukan berarti ruang untuk beribadah tertutup. Di Lucerne, tempatnya bermukim, setidaknya ada tujuh masjid yang menjadi pusat kegiatan bagi komunitas Muslim setempat.

21 Tahun di Swiss, Krisna Diantha Cicipi Lagi ‘Rasa’ Ramadhan yang Sempat Hilang

Ramadhan, Antara Ibadah dan Eksperimen Rasa

Ada sebuah kejujuran menarik dari pengalamannya menjalankan ibadah puasa. Setelah sekian lama tidak berpuasa, ia baru memutuskan untuk kembali menjalankan Ramadhan sejak tiga tahun lalu.

Menariknya, motivasi awal yang mendorongnya bukanlah murni dorongan ibadah.

Baca juga: Cerita Arief Rahman, 17 Tahun Merajut Kekeluargaan Diaspora di Singapura Saat Ramadhan

"Ketika mencoba lagi, motivasinya lebih ke rasa ingin tahu. Saya ingin merasakan kembali rasanya puasa. Lebih ke arah experience atau pengalaman, ketimbang sekadar menjalankan kewajiban ibadah," tuturnya.

21 Tahun di Swiss, Krisna Diantha Cicipi Lagi ‘Rasa’ Ramadhan yang Sempat Hilang

Meski begitu, rutinitas Ramadhan di Swiss tetap ia jalani dengan disiplin. Urusan sahur diatasi dengan setelan alarm, sementara hidangan berbuka disiapkannya sendiri.

Karena Swiss mengikuti pola terbit dan tenggelamnya matahari, durasi puasa tahun ini pun cukup dinamis.

Durasi puasa tahun ini dimulai dengan 12 jam di hari pertama dan perlahan memanjang hingga 14 jam di akhir bulan.

Berbeda dengan banyak diaspora yang seringkali merasakan kerinduan mendalam akan suasana Ramadhan di Tanah Air, Krisna memilih sikap yang lebih pragmatis.

Meski ada rasa rindu pada kekhasan suasana masjid kampung halaman menjelang berbuka, namun ia tidak membiarkan perasaan itu mendominasi.

"Sadar berada di negeri orang ya memang begini suasananya. Saya terima saja," katanya singkat.

21 Tahun di Swiss, Krisna Diantha Cicipi Lagi ‘Rasa’ Ramadhan yang Sempat Hilang

Baca juga: Puasa Perdana Mualaf Cat Stevens: Perjalanan Musisi Legendaris Menemukan Makna Puasa

Prinsip ini juga ia terapkan dalam mendidik anak-anaknya. Ia tidak secara khusus mengajarkan puasa kepada buah hatinya.

Pengetahuan tentang Ramadhan malah dikenal anak-anaknya lewat sekolah, sebuah cermin betapa inklusifnya sistem pendidikan di lingkungannya.

Tatapan Masyarakat Lokal

Tinggal di negara Barat tentu memberikan tantangan tersendiri dalam interaksi sosial. Menurutnya, teman-teman dekatnya sama sekali tidak mempermasalahkan pilihannya untuk berpuasa.

Mereka memahaminya sebagai bagian dari ekspresi pribadi yang moderat.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa masyarakat umum di Swiss terkadang masih menunjukkan sikap skeptis terhadap simbol-simbol keagamaan tertentu.
"Teman dekat tahu saya bukan Muslim yang dianggap 'radikal'. Namun, secara umum masyarakat memang masih ada yang skeptis," jelasnya.

Saat ditanya mengenai tantangan terbesar menjalankan Ramadan di Swiss, jawabannya cukup mengejutkan, "Tidak ada."

Baginya, semua proses ibadah, mulai dari mencari masjid untuk Tarawih hingga mengatur waktu istirahat, bisa dilakukan tanpa kendala berarti.

Baca juga: Status Hukum Puasa Wanita Haid dan Nifas: Ketentuan Pembatalan serta Prosedur Qadha dalam Fikih




(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)