LANGIT7.ID-Labirin ketenaran London pada era 1970-an menjadi saksi bisu kegelisahan seorang bintang pop besar bernama Cat Stevens. Di tengah raungan gitar dan sorot lampu panggung, musisi yang kini dikenal sebagai Yusuf Islam itu merasa ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh penghargaan emas maupun tepuk tangan penggemar. Titik balik itu datang dalam heningnya ibadah Ramadan, sebuah ritme yang sangat kontras dengan hiruk pikuk dunia hiburan yang membesarkannya.
Berdasarkan memoar dan wawancara dalam buku Why I Still Carry a Guitar (2014) karya Yusuf Islam, pengalaman puasa pertamanya adalah sebuah momen kejutan budaya sekaligus pembersihan jiwa. Setelah mengucapkan syahadat di Masjid Pusat London pada Desember 1977, Ramadan menjadi ujian fisik dan spiritual pertama yang ia jalani secara penuh.
Bagi Yusuf, puasa pertama kali di Inggris memberikan tantangan tersendiri. Ia mengenang bagaimana tubuhnya harus beradaptasi dengan absennya asupan kafein dan makanan di tengah jadwalnya yang masih bersinggungan dengan industri musik. Namun, yang paling membekas baginya bukan sekadar rasa lapar, melainkan hilangnya agresi dalam dirinya. Ia menemukan bahwa lapar justru membawa kejernihan pikiran yang tidak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun menjadi pesohor.
Dalam berbagai catatan wawancara yang dirangkum oleh surat kabar The Guardian dan biografi resminya, Yusuf menjelaskan bahwa Ramadan pertama itu seperti menemukan kompas yang selama ini hilang. Ia merasakan kedamaian saat berdiri dalam barisan salat tarawih, sebuah pengalaman kolektif yang menghapus sekat-sekat status sosialnya sebagai bintang dunia. Keheningan saat sahur dan kebersamaan saat berbuka puasa memberinya struktur hidup yang jauh lebih bermakna daripada jadwal tur yang melelahkan.
Ritme ibadah ini memaksa Yusuf untuk berhenti sejenak dan merefleksikan hakikat keberadaannya. Dunia hiburan yang menuntut pemujaan terhadap diri sendiri perlahan ia tinggalkan, diganti dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Puasa bukan sekadar menahan haus, melainkan sebuah proses penyaringan atas segala kebisingan duniawi yang selama ini menyumbat spiritualitasnya.
Sumber naskah ini merujuk pada buku Why I Still Carry a Guitar: The Spiritual Journey of Yusuf Islam (2014) terbitan Motivate Publishing, serta arsip wawancara eksklusif BBC mengenai perjalanan spiritual mualaf di Britania Raya.
Hingga saat ini, Yusuf Islam sering berbagi pesan bahwa Ramadan adalah momen untuk memutus rantai ketergantungan pada materi. Baginya, pengalaman puasa pertama di London adalah gerbang menuju kemerdekaan batin yang sesungguhnya, sebuah perjalanan dari Cat Stevens yang mencari arah menuju Yusuf Islam yang telah menemukan rumah.
(mif)