Lebaran di Melbourne, Menahan Rindu Akan Riuh Malam Takbiran dan Menu Idulfitri Khas Magelang
lusi mahgriefieRabu, 18 Maret 2026 - 09:09 WIB
Nurul dan keluarga, WNI yang sedang tinggal di Merlbourne, Australia. Ini merupakan tahun ketiga mereka merayakan Lebaran di Negri Kanguru. Foto: dok. Nurul
LANGIT7.ID-, Melbourne - Selalu ada cerita di balik Hari Raya, yang kerap punya cara sendiri untuk menghadirkan rasa haru. Mulai dari suara takbir yang menggema, aroma masakan khas Lebaran di dapur ataupun momen berkumpul bersama keluarga besar. Namun tentu beda cerita jika berlebaran di negri orang, seperti kisah Nurul Ainul Mardiyah (39), yang merayakan Lebaran di Melbourne, Australia.
Saat ini adalah tahun keempat Nurul tinggal di Melbourne dan menjadi tahun ketiga ia merayakan Idul Fitri di Australia, bersama suami, Muhammad Harestya Darmawan (39), dan ketiga buah hati mereka; Ibrahim (14), Naura (12), Hamzah (7).
Di sana Nurul mendampingi sang suami yang tengah melanjutkan studi, dengan menempuh program PhD in Accounting Monash University.
Meski jauh dari tanah air, mereka mencoba tetap mempertahankan tradisi yang selama ini melekat dalam perayaan Lebaran di Indonesia. Sebisa mungkin Nurul menghadirkan kehangatan Idul Fitri di rumah, agar anak-anaknya bisa merasakan vibes Lebaran.
Australia sebagai negara dimana penduduk muslim menjadi minoritas, tentu perayaan Lebaran bukan jadi hal istimewa di sana hingga ditetapkan sebagai hari libur untuk sekolah maupun bekerja. Nurul sengaja mengambil cuti kerja dan juga meminta izin di sekolah anak demi bisa merayakan Idul Fitri.
Shalat Ied dan Open House Bergilir
Nurul menceritakan rutnitas saat Lebaran di sana, pagi hari dimulai dengan shalat Ied di sebuah masjid Indonesia yang letaknya tidak jauh dari rumah tinggalnya. Namanya IMCV Westall, masjid ini menjadi titik temu komunitas Indonesia di sekitar Melbourne.
Setelah shalat, suasana Lebaran dilanjutkan dengan silaturahmi sederhana antar teman.
"Biasanya ada yang mengadakan open house, tapi tidak selalu. Kami melakukannya bergilir, tergantung siapa yang ingin mengundang teman-teman dan siap open house," cerita Nurul kepada LANGIT7.ID.
(Suasana shalat Ied di IMCV Westall. Foto: dok. Nurul)
Walau berada ribuan kilometer dari Indonesia, menu Lebaran tetap terasa akrab di lidah. Banyak keluarga Indonesia di Melbourne berusaha menyajikan hidangan yang mirip dengan yang biasa mereka makan di kampung halaman.
Di rumahnya, Nurul memilih memasak sendiri menu khas Lebaran. Lontong sayur khas Magelang, Jawa Tengah, daerah asal suami, serta sambal goreng ati menjadi hidangan utama. Menu tersebut menurutnya sangat identik dengan tradisi keluarga suaminya di Magelang.
"Ketupat tidak ada di sini, jadi biasanya diganti dengan lontong yang dibuat pakai plastik," ujarnya sambil tertawa.
Meski sederhana, hidangan itu cukup untuk menghadirkan rasa Lebaran yang familiar. Aroma santan yang mengepul dari dapur seolah membawa kenangan tentang rumah di Indonesia.
Lebaran juga menjadi momen yang menyenangkan bagi anak-anak. Seperti banyak keluarga Indonesia lainnya, Nurul tetap mempertahankan tradisi memberikan angpao sebagai hadiah kecil setelah menjalani puasa Ramadhan.
Namun kini tradisi itu hanya berlaku untuk si bungsu. Dua anak pertamanya sudah tidak lagi menerima angpao. "Anak pertama dan kedua sudah besar, mereka sudah paham kalau puasa itu memang kewajiban," kata Nurul.
Sementara anak bungsunya masih dalam tahap belajar menjalani puasa sehari penuh. Karena itu, Nurul masih memberinya angpao sebagai bentuk apresiasi kecil.
"Anak saya yang paling kecil lagi belajar puasa full. Jadi kalau ke sekolah saya tetap bawakan dia air minum di botol dan snack. Saya juga sampaikan ke guru bahwa anak ini lagi belajar puasa, tapi saya bawakan bekal, kalau-kalau dia tidak kuat puasa dan mau batalkan puasanya," ungkapnya.
Rindu yang Selalu Datang Kala Malam Takbiran
Di balik kebahagiaan merayakan Lebaran di negeri orang, ada satu hal yang paling dirindukan Nurul yaitu keluarga besar di Indonesia.
Momen Idul Fitri biasanya identik dengan berkumpul bersama orangtua, saudara, dan kerabat. Di Australia, suasana itu tentu tidak bisa sepenuhnya tergantikan.
"Yang paling dirindukan itu bisa berkumpul dengan keluarga besar, terutama orangtua. Apalagi kalua inget mertua saya sudah berpulang tahun lalu, jadi makin sedih," ungkapnya.
Meski kehidupan di Melbourne terasa nyaman, ada satu hal yang selalu membuat Nurul merasa rindu setiap Lebaran tiba yaitu suasana malam takbiran di Indonesia.
Di tanah air, gema takbir terdengar hampir di setiap sudut kota dan desa. Dari masjid, musala, hingga jalanan yang dipenuhi iring-iringan takbir keliling.
Di Melbourne, suasana itu jauh lebih sunyi.
"Kalau di Indonesia malam takbiran di mana-mana terdengar takbir. Di sini biasanya hanya terdengar di masjid tempat biasa kami ibadah saja," katanya.
Nurul mengatakan, di masjid itu memang ada takbiran tapi hanya terdengar di dalam masjid itu saja. Meski begitu, setiap kali mendengar lantunan takbir, perasaan haru tetap datang.
"Rasanya merinding," ujarnya.
Untuk membangun suasana malam takbiran di rumah bersama keluarga, Nurul punya cara tersendiri. "Kami biasanya setel tv Indonesia yang menayangkan takbiran dan juga berita soal mudik. Karena sebelumnya kalau Lebaran di Indonesia kami pasti mudik, jadi semacam mencoba ikut merasakan vibes mudik dengan menonton tv," ucapnya.
Menariknya, Lebaran tahun ini juga terasa spesial karena menjadi tahun terakhir keluarga Nurul tinggal di Melbourne. Setelah empat tahun menetap di sana, mereka akan segera kembali ke tanah air karena sang suami akan menyelesaikan program studinya.
Berbagi Kebahagiaan Lebaran di Tempat Kerja
Selama tinggal di Australia, Nurul juga berusaha mengenalkan apa itu Idul Fitri kepada rekan-rekan kerjanya di sebuah Private Early Learning Centre, yang kebanyakan dari mereka adalah non-muslim.
Baginya, ini adalah cara sederhana untuk memperkenalkan budaya dan nilai kebersamaan yang ada dalam perayaan Lebaran kepada mereka.
(Cake yang disiapkan Nurul untuk rekan kerja, sebagai wujud perayaan Lebaran)
"Saya suka bawa cake ke tempat kerja dan saya sertakan tuliskan Eid Mubarak. Kue itu untuk siapa saja yang mau bisa ambil. Ini sekaligus saya kenalkan ke mereka, kalau saya sedang merayakan Idul Fitri," tutur Nurul yang bekerja sebagai educator itu.
Merayakan Lebaran di luar negeri, bagi Nurul, memang menghadirkan tantangan tersendiri. Namun di sisi lain, pengalaman itu juga mengajarkan bahwa kehangatan Idul Fitri tidak selalu bergantung pada tempat.
Kadang, rasa Lebaran justru hadir dari hal-hal sederhana seperti sepiring lontong sayur buatan sendiri, suara takbir dari masjid kecil, dan pertemuan hangat dengan sesama perantau yang sama-sama merindukan rumah.
Karena pada akhirnya, di mana pun berada, Lebaran tetap tentang pulang melainkan setidaknya pulang dalam rasa.