Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita
Silaturahmi Lintas Negara

Harmoni di Negeri Sekuler, Potret Idulfitri Mahasiswa Doktoral RI di Pesisir Timur Taiwan

esti setiyowati Sabtu, 14 Maret 2026 - 13:03 WIB
Harmoni di Negeri Sekuler, Potret Idulfitri Mahasiswa Doktoral RI di Pesisir Timur Taiwan
Harmoni di Negeri Sekuler, Potret Idulfitri Mahasiswa Doktoral RI di Pesisir Timur Taiwan. Foto: dok pribadi.
LANGIT7.ID-, Hualien - - Lebaran di Taiwan menghadirkan suasana yang unik. Di negara sekuler yang menjunjung tinggi kebebasan beragama itu, Idulfitri tetap dirayakan dengan meriah dan inklusif oleh komunitas Muslim, terutama diaspora Indonesia yang terdiri dari pekerja migran dan pelajar.

Meski Islam hanya dianut oleh sekitar 0,3 persen penduduk, pemerintah Taiwan dikenal cukup ramah terhadap komunitas Muslim dan memberikan ruang bagi perayaan hari besar keagamaan tersebut.

Mahasiswa asal Indonesia, Vanny El Rahman membagikan pengalamannya tiga kali merayakan Ramadhan dan Idulfitri di Kota Taipei dan Hualien.

Vanny yang tengah menempuh program doktoral Asia-Pacific Regional Studies di National Dong Hwa University di Kota Hualien, Taiwan, mengaku ada perbedaan yang cukup mencolok dalam perayaan Ramadhan dan Idulfitri dari dua kota tersebut.h

Baca juga: Lebaran di Kairo, Kisah Pelajar RI Menyaksikan Muhsinin Mesir Berbagi Iftar hingga THR

Di Taipei, shalat Id biasanya dilaksanakan di masjid besar seperti Taipei Grand Mosque atau di ruang publik yang mampu menampung jamaah dalam jumlah besar.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, shalat Id juga digelar di ruang terbuka di jantung kota, termasuk di Sun Yat-Sen Memorial Hall. Lokasi ini memudahkan para pekerja migran Indonesia yang datang dari berbagai penjuru Taiwan. Menariknya, banyak pekerja migran datang bersama majikan mereka.

“Kebanyakan pekerja migran Indonesia di Taiwan merawat lansia dan tinggal bersama majikannya. Jadi ketika ingin ikut shalat Id, mereka sering membawa majikan juga,” kata penerima beasiswa Taiwan's Ministry of Education dan Huayu Enrichment Scholarships.

Bagi para pekerja Indonesia, shalat Id bukan sekadar ibadah, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi. Setelah shalat, mereka biasanya saling bersalaman, berbagi makanan, hingga bertukar kabar pada rekan seprofesi.

Ramadhan Sunyi di Hualien

Berbeda dengan Taipei yang relatif ramai, kehidupan Ramadhan di Hualien jauh lebih tenang. Kota pesisir tempat Vanny tinggal itu diibaratkannya seperti Yogyakarta, kota yang menawarkan ketenangan.

Namun bagi penganut Muslim, suasana Ramadhan di kota ini hampir tidak terasa.

Harmoni di Negeri Sekuler, Potret Idulfitri Mahasiswa Doktoral RI di Pesisir Timur Taiwan
Keterangan foto: Suasana shalat tarawih berjamaah di mushola kampus di National Dong Hwa University. Foto: dok. Vanny El Rahman

“Di sini tidak ada masjid besar. Masjid hanya ada di kota-kota besar seperti Taipei,” ujarnya.

Jumlah mahasiswa Muslim di Hualien pun sangat sedikit, diperkirakan tidak sampai seratus orang. Karena itu, mereka menciptakan suasana Ramadhan secara mandiri.

Para mahasiswa biasanya mengadakan buka puasa bersama secara bergantian di rumah masing-masing. Salat tarawih pun dilaksanakan berjamaah dalam kelompok kecil dengan 11 rakaat.

Beruntung pihak kampus menyediakan dua ruangan yang dapat digunakan sebagai mushola selama 24 jam sehingga mahasiswa Muslim di Hualine dapat menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah.

Meski demikian, kehidupan Ramadhan di Hualien tetap terasa sunyi. Tidak ada pasar takjil, tidak ada pengeras suara pengingat waktu sahur, bahkan undangan buka puasa bersama jarang terdengar.

Harmoni di Negeri Sekuler, Potret Idulfitri Mahasiswa Doktoral RI di Pesisir Timur Taiwan
Keterangan foto: Momen berbuka puasa mahasiswa Muslim di Kota Hualien. Foto: dok. Vanny El Rahman

“Suasana sepi ini juga dirasakan keluarga. Istri saya pernah bercanda, ‘Sampai hari ini kok belum ada ajakan bukber ya?’,” kata Vanny sambil tertawa.

Baca juga: Cerita Dua Mahasiswa Indonesia di Negeri Dua Benua, Lewati Malam Takbir dalam Kesunyian

Selain keterbatasan tempat ibadah, tantangan lain bagi Muslim di Hualien adalah mencari makanan halal, di mana pilihannya tidak banyak.

Pada awal Ramadhan di Taiwan, tepatnya di Taipei, Vanny bahkan sering mengandalkan makanan dari minimarket seperti 7-Eleven atau Family Mart untuk sahur.

“Waktu itu saya belum membawa keluarga. Jadi hampir sebulan sahurnya dari makanan minimarket seperti onigiri, sushi, atau sereal,” tuturnya.

Kini setelah tinggal bersama keluarga, Vanny lebih sering memasak sendiri. Bahan makanan halal biasanya diperoleh dari toko khusus yang menyediakan ayam yang disembelih oleh seorang Muslim. Sementara daging sapi umumnya berasal dari impor Australia atau Selandia Baru yang memiliki label halal.

Sesekali Vanny, demi mengobati kerinduan pada kuliner Indonesia, berbelanja di toko Indonesia yang menjual gorengan, kurma, hingga es buah.

Di lingkungan National Dong Hwa University, perayaan Idulfitri biasanya berlangsung sederhana. Para mahasiswa Muslim berkumpul dengan konsep potluck, setiap orang membawa makanan dari rumah untuk dinikmati bersama.

Setelah makan bersama dan saling bermaafan, aktivitas kembali berjalan seperti biasa, bahkan sering kali harus langsung menjalankan presentasi setelah shalat Id. Namun bagi Vanny, kesederhanaan itu justru membuat makna Lebaran terasa lebih dalam.

Harmoni di Negeri Sekuler, Potret Idulfitri Mahasiswa Doktoral RI di Pesisir Timur Taiwan
Keterangan foto: Suasana Kota Hualien di Taiwan. Foto: dok. Vanny El Rahman

Di negeri yang jauh dari kampung halaman, Idulfitri bagi diaspora Indonesia bukan hanya perayaan keagamaan. Ia menjadi ruang pertemuan, tempat berbagi cerita, dan cara sederhana untuk menjaga ikatan kebersamaan, meski ribuan kilometer dari rumah.

Menjalani Ramadhan di Taiwan, bagi Vanny memberikan pengalaman berharga tentang kehidupan sebagai seorang minoritas.

Baca juga: Di Tengah Konflik Iran-Israel, Mahasiswa Indonesia di Yordania Jalani Ramadhan dengan Tenang

“Di sini kita merasakan bahwa agama benar-benar menjadi hubungan pribadi dengan Tuhan,” pungkasnya.



(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)