Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 24 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita
Silaturahmi Lintas Negara

Cerita Dua Mahasiswa Indonesia di Negeri Dua Benua, Lewati Malam Takbir dalam Kesunyian

esti setiyowati Kamis, 12 Maret 2026 - 11:26 WIB
Cerita Dua Mahasiswa Indonesia di Negeri Dua Benua, Lewati Malam Takbir dalam Kesunyian
Dua mahasiswa Indonesia, Rasendrya Ragawilapa Muharram dan Muhammad Arif Bachtiar yang tengah menjalani studi di Negeri Dua Benua, Turki. Foto: dok pribadi
LANGIT7.ID, Sakarya,- - Di sebuah sudut kota Sakarya, Turki, dua mahasiswa Indonesia menunggu adzan Magrib dengan rasa yang bercampur lapar, rindu, dan harapan.

Muhammad Arif Bachtiar dan Rasendrya Ragawilapa Muharram, yang akrab disapa Aga, telah dua tahun menempuh pendidikan di Sakarya Uygulamalı Bilimler Üniversitesi atau Sakarya University of Applied Science,Turki.

Merantau untuk menuntut ilmu adalah perjalanan yang bukan hanya menguji kecerdasan, tetapi juga kesabaran hati, bagi keduanya.

Turki, negeri yang kerap dijuluki gerbang antara Timur dan Barat, menyimpan banyak perbedaan budaya yang harus mereka pelajari. Termasuk dalam menjalani ibadah Ramadhan.

Baca juga: Di Tengah Konflik Iran-Israel, Mahasiswa Indonesia di Yordania Jalani Ramadhan dengan Tenang

Belajar Berbuka dengan Cara yang Berbeda

Bagi Aga, mahasiswa Fakultas Pariwisata jurusan Gastronomy and Culinary Arts, perbedaan paling terasa muncul saat waktu berbuka tiba.

Di Indonesia, ia terbiasa memulai berbuka dengan yang ringan, kolak, gorengan, atau sekadar minuman manis. Suasana hangat keluarga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari momen itu.

Namun di Turki, pengalaman itu berubah.

Cerita Dua Mahasiswa Indonesia di Negeri Dua Benua, Lewati Malam Takbir dalam Kesunyian

“Masyarakat di sini biasanya langsung berbuka dengan makanan berat, seperti nasi dan lauk,” kata Aga sambil tertawa mengingat keterkejutannya di awal.

Sementara Arif memiliki pengalaman yang sedikit berbeda. Ia tidak terlalu terkejut dengan kebiasaan tersebut karena keluarganya di Indonesia juga kerap langsung menyantap makanan utama saat berbuka. Namun justru kebiasaan sahur di Turki yang membuatnya heran.

“Kalau sahur, orang Turki biasanya cuma makan roti dan keju,” ujarnya.

Bagi Arif yang terbiasa sahur dengan nasi dan lauk lengkap, kebiasaan itu sempat membuatnya ragu.

Cerita Dua Mahasiswa Indonesia di Negeri Dua Benua, Lewati Malam Takbir dalam Kesunyian

“Dalam hati saya sempat bertanya, kuat tidak kalau cuma makan roti dan keju saja?” katanya sambil tertawa kecil.

Malam Takbiran yang Sunyi

Selain perbedaan makanan, tantangan lain datang dari alam. Ramadhan di Turki bisa terasa jauh lebih panjang ketika bertepatan dengan musim panas.

Baca juga: Dua Tradisi, Satu Kemenangan: Memotret Wajah Idulfitri di Madinah Lewat Mata Mahasiswa Indonesia

Menurut Arif, durasi siang hari pada musim ini jauh lebih lama, sehingga waktu menunggu berbuka terasa lebih menantang. Matahari baru tenggelam setelah perjalanan panjang di langit.

Sebaliknya, pada musim dingin durasi puasa lebih pendek. Waktu Maghrib datang lebih cepat, seakan memberi jeda bagi tubuh yang lelah.

Namun bagi keduanya, panjang atau pendeknya waktu berpuasa bukanlah alasan untuk mengeluh. Ramadhan tetap mereka jalani dengan penuh syukur.

Perbedaan lain yang paling terasa muncul menjelang hari kemenangan.

Cerita Dua Mahasiswa Indonesia di Negeri Dua Benua, Lewati Malam Takbir dalam Kesunyian

Di Indonesia, malam terakhir Ramadhan biasanya dipenuhi gema takbir, petasan, dan kembang api. Jalanan ramai oleh masyarakat yang merayakan datangnya Idulfitri.

Baca juga: Rindu Ramadhan Indonesia, Yasmine Citra Rela Tempuh 1,5 Jam Demi War Takjil di Ansan

Di Turki, suasana itu tidak mereka temukan. Arif, mahasiswa Fakultas Teknologi jurusan Teknik Sipil, mengatakan malam menjelang Idulfitri di sana justru cenderung sunyi. Tidak ada tradisi takbiran meriah seperti di Indonesia.

Bagi mereka yang tumbuh dengan tradisi tersebut, keheningan itu terasa asing.

Menghidupkan Ramadhan ala Indonesia

Kerinduan pada suasana kampung halaman membuat Arif dan Aga bersama mahasiswa Indonesia lainnya berinisiatif menghadirkan sedikit aroma tanah air di Sakarya.

Mereka membentuk program Karsa, Kampung Ramadhan Sakarya. Sebuah kegiatan sederhana, namun sarat makna.

Melalui program ini, mereka menggelar kajian Ramadhan berbahasa Indonesia, berbuka bersama, hingga takbiran bersama di salah satu masjid pada malam menjelang Idulfitri.

Harapannya sederhana: menghadirkan kembali hangatnya kebersamaan yang biasa mereka rasakan di rumah.

Salah satu rencana yang sempat mereka gagas adalah menggelar bazar takjil khas Indonesia. Mereka ingin memperkenalkan jajanan Ramadhan seperti yang biasa dijumpai di tanah air.

Cerita Dua Mahasiswa Indonesia di Negeri Dua Benua, Lewati Malam Takbir dalam Kesunyian

Hanya saja rencana itu belum dapat terwujud.

Pemerintah Turki memiliki aturan ketat yang tidak memperbolehkan transaksi di ruang publik tanpa izin resmi. Bagi mereka, aturan itu harus dihormati.

Baca juga: Ramadhan Sryang Tera di Nottingham: Ketika Ilmu, Iman, dan Takdir Berpadu

Obat Rindu dari Dapur

Di balik kesibukan kuliah dan kegiatan Ramadhan, kerinduan kepada keluarga sering datang diam-diam, terutama menjelang Idulfitri.

Arif yang kini berusia 20 tahun mengaku paling merindukan momen berkumpul bersama keluarga di rumah.

Untuk mengobati rasa rindu itu, ia mencoba sesuatu yang tidak biasa, belajar memasak opor ayam.

Di dapur kecil tempat tinggalnya, ia mencoba meracik bumbu demi menghadirkan aroma lebaran seperti di rumah.

Namun rindu tidak berhenti pada suasana keluarga saja. Lidah mereka juga merindukan rasa Indonesia.

Arif mengaku sedang sangat merindukan rendang. Sementara Aga justru merindukan sesuatu yang lebih sederhana, mi instan dari salah satu merek ternama di Indonesia.

“Di sini ada, tapi rasanya beda dengan yang di Indonesia,” kata Aga.

Kini ia bahkan sedikit menyesal tidak menuruti saran ibunya untuk membawa stok mi instan dari tanah air.

Sebetulnya, restoran Indonesia bisa ditemukan di Turki. Namun bagi mahasiswa, harga makanan tersebut terasa cukup mahal.

Arif mengatakan seporsi nasi goreng Indonesia bisa mencapai sekitar Rp100 ribu jika dikonversikan ke rupiah. Rendang bahkan lebih mahal lagi.

Meski demikian, ia memahami alasan di balik harga tersebut.

Rempah-rempah dan bumbu khas Indonesia tidak mudah ditemukan di Eropa. Banyak bahan yang harus diimpor sehingga biaya produksi menjadi lebih tinggi.

Namun bagi Arif dan Aga, harga itu seakan menjadi ukuran kecil dari betapa berharganya rasa rumah.

Ramadhan yang Mengajarkan Kesabaran

Merantau di negeri orang membuat keduanya belajar banyak hal, tentang kesabaran, kemandirian, dan makna kebersamaan.

Baca juga: Aroma Condet di Langit Berlin, Catatan Ramadhan Muhammad Raffly

Ramadhan jauh dari rumah ternyata tidak mengurangi kekhusyukan ibadah. Justru memperdalam rasa syukur atas nikmat yang sering dianggap biasa ketika berada di tanah air.

Di negeri yang menjadi pertemuan dua benua itu, Arif dan Aga belajar bahwa rindu pun bisa menjadi ibadah, selama ia membawa hati semakin dekat kepada keluarga, tanah air, dan kepada Allah.

Dan ketika takbir Idulfitri akhirnya berkumandang, meski tidak seramai di Indonesia, mereka tahu satu hal pasti, kemenangan Ramadhan tetap terasa hangat, di mana pun seorang Muslim berada.



(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 24 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)