Ramadhan Sryang Tera di Nottingham: Ketika Ilmu, Iman, dan Takdir Berpadu
esti setiyowatiAhad, 08 Maret 2026 - 08:02 WIB
Takdir Antar Sryang Tera ke Nottingham, Bertemu Suami Mualaf hingga Komunitas Indonesia. Foto: dok pribadi.
LANGIT7.ID, Nottingham - Tak pernah terlintas dalam benak Sryang Tera Sarena bahwa suatu hari ia akan menetap di Inggris. Perempuan asal Bangkalan, Madura itu kini menjalani pendidikan doktoral (S3) di bidang Electrical Engineering di University of Nottingham.
Sejak tahun 2021, kota Nottingham menjadi rumah keduanya, tempat ia menuntut ilmu sekaligus menapaki perjalanan hidup yang penuh hikmah.
Sryang yang kini berusia 40 tahun sebenarnya merasa “dijebak” oleh takdir hingga akhirnya bisa menginjakkan kaki di negeri yang jauh dari tanah kelahirannya.
Namun bagi Sryang, semua itu adalah bagian dari qadarullah—ketetapan Allah yang terkadang datang dengan cara yang tidak disangka-sangka.
“Tidak pernah terpikir saya akan kuliah di Inggris. Apalagi melamar beasiswa di sini kan persaingannya ketat sekali,” ujarnya sambil tersenyum dalam percakapan jarak jauh.
Perjalanan itu bermula pada tahun 2017 ketika ia mendapat kesempatan mengikuti program beasiswa retooling ke Kanada selama dua bulan.
Program tersebut merupakan pelatihan peningkatan kompetensi bagi dosen vokasi melalui training dan sertifikasi. Sryang sendiri merupakan dosen di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.
Dari program itulah jalan hidupnya mulai terbuka. Ia bertemu sejumlah kolega baru yang kemudian memperkenalkannya pada peluang studi di University of Nottingham.
Satu per satu pintu kemudahan terbuka. Hingga akhirnya, ia benar-benar berada di Inggris untuk melanjutkan studi doktoralnya.
Meski begitu, perjalanan menempuh pendidikan S3 tentu tidak mudah. Sryang mengaku banyak tantangan yang harus dilalui selama menjalani studi.
“Di mana-mana S3 itu tidak ada yang gampang. Kalau bisa lulus S3 dalam keadaan masih waras, itu sudah pencapaian yang luar biasa,” katanya sambil tertawa ringan.
Takdir Allah Mempertemukan Sryang dengan Suami Mualaf
Di tengah perjalanan akademiknya, Allah kembali menghadirkan kisah indah dalam hidupnya. Sryang dipertemukan dengan seorang pria asal Portugal yang telah memeluk Islam pada tahun 2021. Keduanya kemudian menikah pada tahun 2024.
Meski suaminya seorang mualaf, Sryang justru merasa banyak belajar darinya, terutama tentang makna tauhid.
“Yang saya kagumi dari seorang mualaf adalah keberanian mereka dalam mengambil keputusan. Tauhidnya kuat sehingga berani memilih Islam,” tuturnya.
Menurut Sryang, proses mengenal Islam dengan memahami tauhid terlebih dahulu adalah jalan yang benar. Ia mengingat kembali bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan akidah terlebih dahulu sebelum syariat.
“Kalau hatinya sudah yakin, menjalankan ibadah seperti shalat dan puasa tidak terasa berat. Bahkan suami saya yang sering mengingatkan saya untuk shalat,” katanya dengan nada haru.
Merasakan Kehangatan Komunitas Indonesia di Nottingham
Ramadhan di Inggris bagi Sryang ternyata tidak seberat yang dibayangkan banyak orang. Tahun ini bahkan menjadi Ramadhan yang cukup nyaman karena berlangsung di musim dingin. Waktu puasa pun tidak terlalu panjang, hampir sama dengan di Indonesia.
“Maghrib sekitar jam enam sore dan Subuh sekitar jam lima pagi. Durasinya masih mirip dengan di Indonesia,” ujarnya.
Justru tantangan kecil yang ia rasakan adalah membangunkan sang suami untuk sahur.
“Kadang langsung bangun, kadang sulit dibangunkan. Kalau begitu saya biasanya langsung berdoa, ‘Ya Allah tolong bangunkan suami saya’,” katanya sambil tertawa.
Berbeda dengan suasana di Indonesia yang ramai dengan aktivitas Ramadhan, kehidupan di Inggris cenderung lebih tenang. Karena itu, komunitas Muslim Indonesia di sana berusaha menghadirkan suasana Ramadhan dengan cara mereka sendiri.
Sryang bersama komunitas keluarga Muslim Indonesia di Britania Raya aktif mengikuti kegiatan tilawah Al-Qur’an secara daring. Mereka saling menyemangati untuk menyelesaikan bacaan Al-Qur’an dengan sistem laporan sederhana melalui grup pesan.
“Kalau sudah selesai setengah juz, kami centang di grup. Lalu ada jadwal membaca bersama secara online,” ujarnya.
Di wilayah Nottingham, Derby, dan Leicester, warga Indonesia juga rutin mengadakan pertemuan komunitas, yang dikenal dengan PEDLN, terutama saat mendekati Idulfitri. Karena hari raya tidak menjadi hari libur nasional di Inggris, perayaan biasanya digelar pada akhir pekan.
Tujuan utamanya sederhana, agar generasi muda tetap merasakan hangatnya suasana Ramadhan dan Idulfitri seperti di tanah air.
“Kalau bukan kita yang membuat suasana itu, siapa lagi?” kata Sryang.
Saat Lebaran tiba, mereka biasanya berkumpul dengan sesama diaspora Indonesia dalam tradisi yang tak jauh berbeda dengan di Indonesia, saling berkunjung dan menggelar open house.
Keterangan foto: Gathering komunitas pengajian Derbyshire, Leicestershire dan Nottinghamshire (PEDLN) pada Idulfitri 1446H.
Di Nottingham, Sryang juga bersyukur karena kota tersebut cukup ramah bagi umat Muslim. Terdapat banyak masjid dan akses makanan halal yang mudah ditemukan.
Keterangan foto: Masjid Umar, tempat shalat Id Sryang dan suami.
Suaminya memiliki masjid favorit bernama Dakwah Center yang memiliki banyak program bagi para mualaf. Sementara Sryang lebih sering beribadah di Masjid Umar. Namun saat Idulfitri, mereka memilih shalat Id bersama di Masjid Umar.
Keterangan foto: Suasana di area shalat wanita di Masjid Umar sesaat setelah shalat dan kutbah Id.
“Setelah shalat Id biasanya kami kumpul dengan teman-teman Indonesia. Suami juga sempat bertemu dengan teman-temannya dulu, lalu sebelum Dzuhur biasanya sudah bergabung dengan kami,” katanya.
Bagi Sryang, kehidupan di Nottingham menghadirkan keseimbangan yang ia syukuri, antara pendidikan, ibadah, dan kehidupan sosial.
Di kota yang tidak terlalu besar itu, komunitas Muslim cukup kuat sehingga atmosfer Ramadhan tetap terasa.
Keterangan foto: Gathering komunitas pengajian Derbyshire, Leicestershire dan Nottinghamshire (PEDLN) pada Idulfitri 1446H.
“Alhamdulillah komunitas di sini sangat mendukung. Yang paling terasa berbeda hanya karena tidak berkumpul dengan keluarga,” tuturnya.
Meski demikian, ia tetap menyimpan harapan sederhana. Jika Allah mengizinkan, tahun depan ia ingin merayakan Idulfitri di Indonesia bersama suaminya.
Sryang percaya, setiap perjalanan hidup adalah bagian dari rencana Allah yang terbaik. Dari Madura hingga Nottingham, dari ruang kuliah hingga ruang ibadah, semua menjadi jalan untuk semakin mengenal makna syukur dan keteguhan iman.
Sebab bagi Sryang, sejauh apa pun seseorang merantau, hati seorang Muslim selalu menemukan rumahnya, dalam iman, dalam ibadah, dan dalam persaudaraan.
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”