Gema Takbir di Futian, Kisah Dannandyatti Menemukan Indonesia di Masjid Shenzhen
esti setiyowatiJum'at, 06 Maret 2026 - 08:06 WIB
Gema Takbir di Futian, Kisah Dannandyatti Menemukan Indonesia di Masjid Shenzhen. Foto: dok pribadi.
LANGIT7.ID, Shenzen,- - Di balik deretan gedung pencakar langit yang membelah langit Shenzhen, Provinsi Guangdong, terselip sebuah harmoni yang syahdu bagi umat Muslim. Di kota metropolitan yang menjadi simbol kemajuan teknologi China ini, Dannandyatti (42), seorang pendidik asal Indonesia, menemukan makna baru dalam menjalani ibadah puasa dan merayakan hari kemenangan di negeri orang.
Sudah tiga tahun Dani, sapaan akrabnya, menetap di Shenzhen. Sebagai Koordinator Program IB Middle Years Programme (MYP) di sebuah sekolah internasional, keseharian Dani berkelindan dengan kurikulum dan pendidikan. Namun, ketika Ramadhan tiba, ia bertransformasi menjadi pembelajar kehidupan yang memetik hikmah dari statusnya sebagai minoritas. Baca juga: Ramadhan dalam Kesunyian, Cerita Duhita Kumala Berpuasa Sendiri di Polandia
Kemegahan Masjid Shenzhen Bak Oase di Tengah Beton
Puncak kerinduan Dani pada suasana Islami tanah air terobati saat ia menginjakkan kaki di Masjid Shenzhen. Terletak di Distrik Futian, masjid ini bukan sekadar bangunan megah, melainkan jantung spiritual bagi komunitas Muslim di Guangdong.
"Ada masjid yang sangat besar di sini. Bukan hanya pendatang, tapi banyak juga warga lokal Muslim yang beribadah di sana," cerita Dani dengan nada antusias.
Momen Idulfitri 2024 menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Dani mengaku terkejut melihat bagaimana pihak kota memberikan penghormatan luar biasa bagi umat Islam. Jalanan menuju masjid ditutup demi kelancaran shalat Id, berkoordinasi langsung dengan pihak kepolisian.
"Yang bikin aku senang adalah hawanya seperti Lebaran di Indonesia. Jalanan ditutup. Pihak masjid sangat memperhatikan jamaah, bahkan lansia ditempatkan di lantai dasar untuk memudahkan mereka," ungkapnya.
Ada kejadian menarik yang menyentuh hati Dani. Saat mengenakan mukena khas Indonesia yang anggun, ia kerap dihampiri jamaah lokal yang meminta foto bersama. Kecantikan wastra Muslim nusantara ternyata menjadi jembatan komunikasi yang manis antara Muslim Indonesia dan Muslim China.
Menjalankan puasa di lingkungan kerja internasional memberikan tantangan tersendiri. Dani sering kali dihujani pertanyaan oleh rekan sejawatnya mengenai praktik menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh. Namun, Dani melihat ini sebagai bentuk perhatian, bukan diskriminasi.
"Toleransi di lingkungan kerjaku cukup besar. Mereka tidak mencampuri urusan pribadi saya. Saya shalat ya shalat saja, tidak ada masalah," tegas lulusan Sarjana S1 yang telah 16 tahun berkecimpung di dunia pendidikan internasional ini.
Bagi Dani, konsistensinya dalam beribadah di tengah kesibukan profesional adalah bentuk dakwah halus. Rekan-rekannya menghargai pilihannya, menciptakan ruang kerja yang inklusif dan penuh rasa hormat.
Meski rindu akan hiruk-pikuk penjual takjil dan suara adzan yang bersahutan, Dani merasa dimudahkan oleh kemajuan teknologi di China. Masjid Shenzhen menyediakan layanan informasi jadwal shalat dan Tarawih melalui aplikasi WeChat.
Rindu akan cita rasa kuliner nusantara pun terobati melalui grup WeChat "Makanan Nusantara". Di grup ini, para diaspora Indonesia saling bahu-membahu. Dani tetap bisa menikmati risol, pempek, hingga batagor yang dikirim dari berbagai provinsi jauh seperti Henan atau Changcun.
"Ramadhan di sini mungkin berbeda karena tidak ada suara adzan di jalanan, tapi rutinitasnya terasa lebih tenang. Waktu puasa pun lebih pendek karena mendekati musim dingin," tutupnya.
Bagi Dannandyatti, Shenzhen bukan sekadar tempat bekerja. Di sana, ia membuktikan bahwa selama iman tetap dijaga dan silaturahmi tetap dijalin, kehangatan Islam akan selalu terasa seperti di rumah sendiri.
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”