Kisah Muhammad Sadli Melawan Sepi Ramadhan di Melbourne Lewat Surau Kita
esti setiyowatiSelasa, 03 Maret 2026 - 08:00 WIB
Muhammad Sadli Melawan Sepi Ramadhan di Melbourne Lewat Surau Kita. Foto: dok. pribadi
LANGIT7.ID-, Melbourne, - Bagi warga dunia, Melbourne merupakan salah satu kota terbaik untuk pelajar. Namun, bagi Muhammad Sadli, kota ini bukan sekadar tempat untuknya menuntut ilmu doktoral di bidang Sistem Informasi, tapi juga menjadi rumah kedua sejak ia menjejakan kaki pada 2009.
Sempat kembali ke Tanah Air pada 2012, namun kerinduan yang membuncah membawa langkah Sadli kembali ke Melbourne.
Sebagai minoritas, Sadli harus menavigasi ibadahnya di tengah masyarakat yang tetap beraktivitas normal, tanpa aroma takjil di pinggir jalan atau suara riuh anak-anak membangunkan sahur.
Diakui Sadli, Ramadhan tahun ini menjadi ujian fisik tersendiri baginya.
Berbeda dengan pengalaman pertamanya berpuasa di Melbourne. Kala itu Ramadhan jatuh di musim dingin, di mana durasi puasa hanya 11 jam saja.
Tahun ini ia harus menghadapi musim panas. "Tahun ini puasa lumayan panjang, sekitar 16 jam. Subuh jam 5 pagi dan baru Maghrib pukul 20.40," kata Muhammad Sadli pada LANGIT7.ID.
Selain fisik, tantangan spiritual justru lebih terasa, khususnya di akhir pekan. Di saat umat Muslim dianjurkan menjaga pandangan, kehidupan publik di Melbourne tetap berjalan apa adanya.
"Masyarakat umum tidak memahami arti Ramadhan, jadi makan dan minum tetap terlihat biasa saja," tambah Sadli.
Beruntung, Sadli menetap di lingkungan dengan komunitas Muslim yang cukup kuat. Melalui organisasi Indonesian Muslim Community in Victoria, ia bergabung dengan komunitas Surau Kita. Kehadiran komunitas ini menjadi oase penyejuk rindu akan suasana religius.
Kegiatan malam hari pun semarak dengan shalat Tarawih dan tausiyah. Tak tanggung-tanggung, mereka kerap mengundang pendakwah populer dari tanah air, seperti Ustaz Adi Hidayat, hingga ustaz lokal.
Uniknya, Surau Kita kini tak hanya menjadi rujukan warga Indonesia semata, tetapi juga mulai diramaikan oleh warga keturunan Arab.
Meski begitu, ia tak menampik adanya perbedaan kontras di lingkungan kerja. Dari tiga orang Muslim di kantornya, dirinya dan dua rekan perempuan asal Sri Lanka serta China, hanya dua yang benar-benar menjalankan puasa.
"Di sini tidak sedikit Muslim yang hanya status saja tanpa menjalankan praktik ibadahnya," ungkapnya jujur.
Siasat Rindu Kuliner Medan
Bicara soal rindu kampung halaman, bagi pria asal Medan ini, makanan adalah pemicu utama. Meski Melbourne dikenal sebagai kota pelajar dengan segudang restoran Indonesia, mulai dari Bakso, Ayam Penyet, hingga Masakan Padang, ia tetap kesulitan menemukan rasa otentik tanah kelahirannya.
"Saya rindu makanan Medan. Di sini tidak ada yang spesifik, kalaupun ada tidak otentik," katanya.
Beruntung, bahan masakan Indonesia mudah ditemui di Melbourne. Istrinya kerap turun tangan memasak Soto Medan atau Rendang demi mengobati kerinduan, dengan panduan resep dari internet.
Hanya saja, masih ada makanan yang betul-betul dirindukannya hingga saat ini, yaitu durian. Sadli mengatakan, buah durian sangat sulit dicari. Kalaupun ada jenisnya berbeda dengan durian Medan yang diidamkannya.
Bagi Sadli rasa rindu akan suasana Ramadhan di kampung halaman mudah dicari solusinya. Bila kangen rasa kuliner nusantara, cukup berselancar di dunia maya ia langsung menemukan jawabannya.
Hal sama juga berlaku saat ia merindukan keluarga di Indonesia. Sadli memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai obatnya.
"Komunikasi dengan keluarga di Indonesia sekarang mudah berkat teknologi. Kami yang memilih tinggal di sini, jadi segala perbedaannya harus diterima," pungkasnya.