Meniti Puasa di Jerman: Cerita Imas tentang Toleransi, Ausbildung, dan Menjaga Iman
esti setiyowatiAhad, 01 Maret 2026 - 09:16 WIB
Imas Wahyuni merasakan Ramadhan di Jerman penuh dengan kehangatan. Foto: dok pribadi.
LANGIT7.ID, Stuttgart,- - Jerman telah menjadi magnet bagi para talenta global yang mencari pertumbuhan karier dan pendidikan tinggi. Selain peluang profesionalnya yang masif, stabilitas ekonomi dan kualitas hidup yang terjaga menjadikan negara ini sebagai destinasi impian.
Kelebihan inilah yang menjadi alasan bagi Imas Wahyuni, perempuan asal Bekasi, Jawa Barat yang mencoba peruntungannya di Negeri Para Penyair dan Pemikir ini.
Bagi Imas, Jerman bukan sekedar destinasi untuk memperbaiki taraf hidup, melainkan sebagai medan pendewasaan diri yang sesungguhnya.
Sudah empat tahun ia menetap di Stuttgart, ibu kota Baden-Württemberg. Kota yang dikenal sebagai pusat industri ini kini menjadi saksi bisu transformasinya dari seorang sukarelawan hingga menjadi tenaga pendidik profesional.
Ramadhan di Negeri Panser: Kehangatan dalam Toleransi
Langkah Imas di Jerman dimulai dengan penuh dedikasi. Ia menapaki kariernya sebagai volunteer di bidang sosial, tepatnya di sebuah workshop disabilitas. Di Jerman, sistem relawan sangatlah rapi, baik di sektor swasta maupun negeri, semua diawasi ketat oleh negara.
Keinginan untuk berkembang membawanya pada program Ausbildung, sebuah sistem kuliah sambil bekerja yang khas di Jerman.
Setelah menjadi relawan selama 1,5 tahun, ia melanjutkan pendidikan jurusan pendidikan guru TK selama 2,5 tahun melalui program tersebut. Kini, Imas telah resmi menandatangani kontrak sebagai seorang guru TK profesional.
Baginya, Jerman adalah negara yang sangat terbuka bagi pekerja asing karena kebutuhan tenaga kerja yang tinggi. Keterbukaan itu juga terwujud dalam sikap toleransi beragama
Menurut Imas, toleransi di Jerman bukanlah sesuatu yang baru. Berkat sejarah panjang dengan bangsa Turki yang kini menjadi populasi terbesar kedua, istilah Ramadhan sudah akrab di telinga warga lokal.
"Aku tidak merasa kesulitan menjalankan ibadah. Jerman termasuk negara yang sangat ramah Muslim," ungkap Imas saat dihubungi LANGIT7.ID.
Hal ini berlaku juga di lingkungan kerjanya. Menurut Imas, rekan-rekannya sangat suportif. Bahkan, saat menjalankan puasa seperti sekarang, Imas sering kali diberikan beban kerja yang lebih ringan.
Sehingga ia tak merasakan kendala yang berarti. Begitu juga urusan durasi puasa yang kerap menjadi kendala para diaspora Indonesia di negeri empat musim.
Saat baru menginjakkan kaki di Jerman, ia sempat merasakan durasi puasa yang cukup panjang. Di tahun 2023, puasa Ramadhan berada di musim semi menuju musim panas, yang waktu siangnya lebih panjang daripada malam hari.
"Pada tahun 2023, Maghrib baru tiba pukul 22.30 dan Sahur sudah harus dilakukan pukul 03.00 pagi," cerita Imas.
Namun, tahun ini, perempuan lulusan Universitas Negeri Malang itu merasakan puasa yang lebih bersahabat, karena Ramadhan berada di waktu yang mendekati musim dingin dengan durasi siang yang lebih pendek.
Komunitas: Penjaga Rindu dan Tradisi
Ramadhan identik dengan kebersamaan, kehangatan bersama keluarga dengan aneka hidangan khas bulan puasa. Diakui Imas, meski merindukan momen tersebut, namun ia mengaku tidak merasa kesepian.
Ada tiga komunitas pengajian, yang aktif diikutinya, yang menawarkan oase bagi perantau seperti dirinya mengobati rasa rindu akan Tanah Air.
Di saat Ramadhan, komunitas pengajian ini kerap menggelar buka puasa bersama. Komunikasi intens dilakukan via WhatsApp untuk mengatur jadwal buka bersama secara bergantian.
Komunitas pengajian Indonesia pun menjadi "rumah kedua" bagi Imas. Selain sebagai wadah ibadah seperti buka bersama dan shalat Idulfitri, komunitas ini menjadi sarana pelestarian budaya dan kuliner yang sangat membantu para mahasiswa serta relawan untuk mengobati rasa rindu pada tanah air.
"Bulan Ramadhan kita menggelar buka puasa bersama secara bergantian. Sementara saat Idulfitri, sudah dua minggu direncanakan sebelumnya untuk gelaran open house dengan konsep potluck," cerita perempuan kelahiran 6 Mei 1991 ini.
Tantangan Terbesar: Menjaga Iman di Tengah Jaminan Negara
Selama menjalani Ramadhan di Jerman, Imas mengaku tidak menghadapi kendala yang berat. Durasi panjang, menurutnya, masih bisa diatasi karena ia terbiasa menjalani puasa Senin-Kamis.
Begitu juga kerinduan akan makanan Nusantara. Kumpul-kumpul bersama komunitas Indonesia menjadi penawar rasa kangennya.
Namun, ada satu hal yang diakui Imas sebagai tantangan terberat sebagai seorang Muslim di Jerman. Di balik segala kenyamanan hidup di Jerman, Imas mengungkapkan sebuah refleksi mendalam.
Baginya, kesulitan terbesar di Jerman bukanlah mencari makanan halal atau mengatur waktu shalat, melainkan menjaga iman.
Di negara yang segala kebutuhannya sudah dijamin oleh asuransi dan sistem pemerintah yang sangat efisien, muncul kecenderungan kolektif untuk merasa tidak membutuhkan peran Tuhan.
"Mereka berpikir Tuhan tidak terlibat banyak dalam hidup karena semua kebutuhan sudah dipenuhi negara. Hidup sudah terjamin," tuturnya dengan nada prihatin.
Imas mengaku sedih melihat situasi tersebut dan terus mendoakan dirinya sendiri agar tetap istiqomah. Tak heran bila ia begitu merindukan kumandang adzan di kota tempatnya tinggal.
Bagi Imas, menjaga kekhusyukan dan identitas spiritual di tengah sistem yang serba teratur adalah perjuangan yang lebih berat daripada tantangan fisik puasa itu sendiri.