Ramadhan di Garis Bujur Berbeda - Dari Sahara hingga Sukhumvit (1)
redaksiRabu, 25 Februari 2026 - 08:00 WIB
Ramadhan di Garis Bujur Berbeda - Dari Sahara hingga Sukhumvit (1). Foto: Dok Riri Anggraheni.
LANGIT7.ID-, Bangkok - Penulis: Riri Anggraheni Eka Rimandasari (Hotelier & Digital Marketer di Bangkok, Thailand)
2023 adalah tahun ketika hidup saya berubah arah, seperti kompas yang tiba-tiba menunjuk ke barat daya, ke tanah yang belum pernah saya pijak sebelumnya.
Timur Tengah bukan lagi sekadar titik di peta atau headline berita internasional. Ia menjadi takdir yang saya jemput dengan satu koper, satu paspor, dan keberanian yang lebih besar daripada rasa takut.
April 2023, sebelum memulai perjalanan karier di salah satu luxury hospitality di United Arab Emirates, saya memilih berbelok sedikit—ke Morocco. Mungkin terdengar jauh untuk sekadar persinggahan.
Tapi saya selalu percaya, sebelum menetap di suatu wilayah, saya harus lebih dulu berdamai dengan tanahnya, memahami denyut nadinya.
Casablanca menyambut saya dengan antrean panjang di bulan Ramadhan. Tiga jam berdiri, di bawah cahaya lampu bandara yang pucat, menyaksikan dua turis Tiongkok bertengkar tanpa ada yang melerai.
Petugas berdiri tak jauh dari sana, tapi dunia seakan berjalan sendiri—tanpa empati, tanpa intervensi. Seorang petugas lain, ketika saya bertanya arah gate, menjawab dengan senyum setengah paksa dan satu kalimat yang membuat saya tercekat:
“Coffee madame?”
Saya tahu itu bukan ajakan minum kopi namun meminta uang imbalan atas sedikit bantuan bertanya arah.
Culture shock datang seperti tamparan pertama dari padang pasir: kering, keras, dan tak bisa ditawar. Namun Marrakech—ah, Marrakech berbeda. Kota merah itu seperti puisi yang ditulis dengan tanah liat dan debu. Dinding-dindingnya berwarna terracotta, lorong-lorong medinanya sempit dan berkelok, seperti rahasia yang hanya dibisikkan kepada mereka yang mau tersesat.
Di waktu menjelang berbuka, aroma rempah menyeruak dari setiap sudut: tajine yang mengepul, harira yang hangat, roti khobz yang baru diangkat dari oven tanah. Saya duduk sendirian di sebuah riad kecil, menunggu adzan yang terdengar lirih dari kejauhan—suara yang tak saya pahami bahasanya, tapi saya mengerti maknanya.
Ramadan di negeri asing membuat saya merasa sekaligus kecil dan luas. Kecil karena saya sendirian. Luas karena dunia ternyata begitu besar.
Perjalanan gurun dimulai dari Marrakech menuju High Atlas Mountains. Jalanan menanjak ke Tizi n’Tichka Pass, 2.260 meter di atas permukaan laut.
Pegunungan itu seperti tulang punggung bumi—kokoh dan sunyi. Desa-desa Berber berdiri sederhana, menyatu dengan alam, seolah waktu tak pernah benar-benar bergerak di sana.
Di Telouet, saya berjalan di dalam Kasbah El Glaoui. Dindingnya retak, tapi kemegahannya masih terasa. Sejarah tentang pasha, kolonialisme, dan kekuasaan bergema di antara lorong-lorongnya. Saya berpikir: betapa banyak manusia pernah merasa dirinya abadi, padahal yang tersisa hanya debu dan cerita.
Di Ait Benhaddou, desa tanah liat yang menjadi situs UNESCO, saya seperti melangkah masuk ke dalam film. Lorong-lorongnya sunyi, dan matahari sore membuat bayangan panjang di antara tembok-temboknya.
Beberapa teman satu grup tur memandang saya dengan ekspresi tak percaya, “Indonesia? To Morocco? Oh my God. How many countries have you visited?”
Saya tersenyum. Tidak tahu apakah yang membuat mereka takjub adalah jaraknya, atau keberanian seorang perempuan Asia Tenggara bepergian sendiri di bulan Ramadan.
Lalu kami menuju Dadès Gorges. Tebing-tebing batu menjulang seperti pahatan raksasa. Saat maghrib tiba, kami duduk bersama dalam satu meja panjang—orang Norwegia, Brasil, Belanda, Italia, Jerman, dan saya satu-satunya dari Indonesia.
Kurma dibagikan, sup hangat diedarkan. Tidak ada yang bertanya tentang agama. Kami hanya sama-sama lapar, sama-sama lelah, sama-sama manusia.
Kemudian, Todra Gorge menyambut dengan tebing kapur setinggi 300 meter. Sungai kecil mengalir jernih di dasarnya. Saya berjalan menyusuri air, membiarkan dinginnya menyentuh kaki. Perjalanan dilanjutkan menuju Merzouga—gerbang Sahara.
Sore itu, unta-unta menunggu kami. Langkahnya lambat, ritmis, seperti zikir yang diulang-ulang. Matahari tenggelam perlahan, mewarnai bukit pasir Erg Chebbi dengan gradasi emas dan jingga. Saya mendaki satu dune tinggi, duduk sendirian, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mendengar keheningan yang benar-benar sunyi.
Di camp gurun, saya memutuskan berbagi tenda dengan Melly, solo traveler dari Jerman. Kami tertawa kecil sebelum tidur, bertukar cerita tentang rumah dan career life. Di bawah langit Sahara yang penuh bintang, kami bukan lagi orang asing. Kami hanya dua perempuan yang sedang mencari sesuatu—mungkin makna, mungkin pelarian.
Subuh di Sahara adalah salah satu momen paling spiritual dalam hidup saya. Matahari muncul perlahan dari balik pasir, dan saya merasa seperti dilahirkan ulang.
Saya tidak tahu saat itu, bahwa setelah perjalanan ini, hidup saya benar-benar akan berubah.