Masjid Tempe dan Cerita Evanita Menjaga Ukhuwah dan Identitas Indonesia di Negeri Kangguru
esti setiyowatiSabtu, 28 Februari 2026 - 09:08 WIB
Diaspora Indonesia, Evanita dan keluarga yang telah menetap di Sydney sejak tahun 2012. Foto: dok pribadi.
LANGIT7.ID, Sydney - Bagi banyak perantau, jarak ribuan kilometer dari tanah air seringkali memicu rindu yang mendalam. Namun, bagi Evanita, perempuan lulusan Universitas Trisakti yang telah menetap di pinggiran Sydney sejak 2012, rasa rindu itu selalu menemukan penawarnya.
Di bawah langit Australia, Eva menemukan bahwa kekeluargaan tidak selalu soal pertalian darah, melainkan tentang komunitas yang saling menjaga.
Pindah ke Sydney setelah menikah, Eva menyadari betapa kuatnya akar komunitas Indonesia di sana. Salah satu bukti nyata solidaritas ini adalah kehadiran sebuah masjid di kawasan Tempe yang dikelola sepenuhnya oleh orang Indonesia.
Al Hijrah Mosque atau popular dengan sebutan Masjid Tempe berdiri berkat kedermawanan seorang anggota komunitas yang menginfakkan tempat tersebut sebagai pusat kegiatan ibadah dan sosial.
Di sinilah silaturahmi dirajut erat. Setiap pekan, masjid ini rutin menggelar shalat Jumat dan menjadi sekolah mengaji bagi anak-anak Indonesia, termasuk kedua buah hati Eva.
"Alhamdulillah komunitas Indonesia sangat banyak. Kami punya sekolah ngaji dan masjid yang menjadi titik kumpul. Saat Ramadhan tiba, suasana kebersamaan itu semakin terasa lewat shalat tarawih berjamaah," ungkap Eva pada LANGIT7.ID.
Bagi Eva, Ramadhan di perantauan memiliki tantangan tersendiri, mulai dari durasi puasa yang mencapai 15 jam di musim panas seperti saat ini hingga sulitnya mencari takjil. Namun, komunitas Indonesia di Sydney punya cara unik untuk saling membantu.
Sistem Pre-Order (PO) Kuliner menjadi tradisi yang sangat dinanti. Melalui PO ini, warga Indonesia saling berbagi keahlian memasak masakan nusantara, memastikan aroma rendang atau takjil khas Indonesia tetap hadir di meja makan meski jauh dari kampung halaman.
Puncak dari solidaritas ini terlihat setiap malam usai tarawih. Para jamaah Indonesia biasanya datang membawa makanan secukupnya untuk dimakan bersama.
Tradisi makan lesehan ini bukan sekadar mengisi perut, melainkan momen bertukar cerita dan memperkuat ikatan emosional antar sesama perantau.
Menanamkan Akar Budaya pada Buah Hati
Menurut Eva, menjaga identitas Indonesia di tengah budaya Barat adalah prioritas.
Meski suasana Ramadhan di luar rumah terasa sepi tanpa suara azan yang bersahutan, mereka menciptakan "festival" sendiri di dalam rumah.
Eva mencoba membangun suasana Ramadhan ala kampung halaman dengan mendekorasi rumah dengan warna warni identik. Ia dan suami juga rutin memberikan reward bagi anak-anak yang belajar puasa.
"Aku dan suami berusaha menerapkan kebiasaan kami dulu waktu kecil pada anak-anak. Misalnya dapat uang bila puasa full hingga beli baju lebaran," cerita Eva.
Dari semua aksinya ini, Eva memiliki misi untuk menularkan kegembiraan Ramadhan yang ia rasakan saat kecil dulu.
Tak cukup di rumah saja, Eva bersyukur anak-anak lebih mengenal Ramadhan di sekolah mengaji. Melalui dukungan guru-guru ngaji, anak-anak lebih dikenalkan lagi dengan pemahaman tentang bulan puasa.
Sehingga, kata Eva, meskipun tumbuh besar di Australia, buah hatinya tetap memiliki kebanggaan terhadap identitas Muslim dan Indonesia.
Sydney juga menawarkan harmoni yang indah. Di lingkungan kerja, Eva merasakan toleransi yang tinggi melalui penyediaan ruang shalat dan takjil sederhana dari rekan kerja.
Selain itu, Eva kerap melakukan "safari masjid", mengunjungi masjid-masjid yang dikelola komunitas Malaysia atau Turki yang juga memiliki semangat berbagi makanan yang luar biasa.
"Di masjid-masjid Malaysia, Turki, banyak jamaah yang berinfak makanan banyak banget. Makanan dikumpulin semua, terus kita makan lesehan bareng. Di sini orang berlomba-lomba untuk menginfakkan hartanya" tuturnya.
Membaca kisah Eva, kita jadi melihat bahwaa Sydney bukan sekadar tempat tinggal, melainkan panggung di mana komunitas Indonesia membuktikan bahwa solidaritas adalah jembatan yang menghubungkan kerinduan dengan kenyamanan.
Di sana, setiap piring makanan yang dibagikan dan setiap sapaan di selasar masjid adalah pengingat, sejauh apa pun kaki melangkah, keluarga besar Indonesia akan selalu ada untuk merangkul.