Antara Haugesund-Oslo, Ikatan Batin Ibu dan Anak Merajut Ramadhan di Norwegia
esti setiyowatiRabu, 04 Maret 2026 - 08:00 WIB
Antara Haugesund-Oslo, Ikatan Batin Ibu dan Anak Merajut Ramadhan di Norwegia. Foto: dok Savitry Khairunnisa.
LANGIT7.ID-, Haugesund - Di sebuah sudut kota kecil bernama Haugesund, Norwegia, seorang perempuan campuran Surabaya-Banjarmasin yang sedang merajut makna takwa. Savitry Khairunnisa, atau yang akrab disapa Icha, telah menghabiskan lebih dari dua dekade hidup di perantauan.
Namun, bagi Icha, sejauh apa pun kaki melangkah, arah kiblat dan rindu pada lantunan adzan di Tanah Air tak pernah bergeser.
Keterangan: Savitry Khairunnisa bersama keluarga saat berlliburan di spot popular di Norwegia, Preikestolen. Foto: dok pribadi
Tahun ini, Ramadhan di Norwegia jatuh pada musim dingin. Subuh menyapa pukul 05.55 dan Maghrib menjemput di pukul 18.00. Durasi yang relatif singkat ini penyejuk bagi perantau asal Indonesia, apalagi Icha pernah melewati ujian kesabaran yang luar biasa pada tahun 2015.
Kala itu, Ramadhan jatuh di musim panas, memaksa umat Muslim di utara bumi berpuasa hingga 20 jam sehari.
"Saat itu kami mengikuti arahan masjid lokal. Jika mereka bilang ikuti pergerakan matahari, ya kami ikut," kenang penulis dan ibu rumah tangga ini pada LANGIT7.ID.
Di sinilah Icha belajar tentang fleksibilitas Islam. Di tengah keterbatasan, Islam hadir melalui fatwa para ulama yang memudahkan, memberikan ruang bagi para perantau untuk menjalankan kewajiban tanpa melampaui batas kemampuan fisik.
Keterangan: Suasana Idulfitri 2025 bersama diaspora Indonesia dan Malaysia di Norwegia. Foto: dok pribadi
Kedamaian dalam Keterbatasan di Norwegia
Menetap di kota kecil yang berpenduduk 34 ribu jiwa, suasana Ramadhan di Haugesund cenderung sunyi. Tidak ada dekorasi khas di ruang publik maupun promo potongan harga di pusat perbelanjaan. Namun, hal itu tidak melunturkan kekhusyukan ibadah.
Di Haugesund, hanya terdapat satu masjid besar berkapasitas 200 orang yang menjadi pusat gravitasi bagi umat Muslim.
"Setiap malam kami shalat Tarawih berjamaah, dan hidangan iftar selalu tersedia. Saat Idulfitri, pihak masjid menyewa stadion kecil atau gedung olahraga untuk menampung hingga 500 jamaah yang datang dari berbagai kota sekitar," jelas lulusan Universitas Airlangga ini.
Icha mengakui bahwa tantangan di Norwegia lebih pada membangun atmosfer religi secara mandiri di dalam rumah. Karena imigran Muslim di Norwegia baru mulai berkembang pada era 1970-1980-an, fasilitas dan komunitasnya belum sekuat di Inggris.
Meski demikian, di tengah sunyinya suara adzan di jalanan Haugesund, Icha tetap menemukan kehangatan dalam komunitas kecil yang solid. Baginya, setiap tempat memiliki tantangan tersendiri, namun esensi puasa tetap sama: merajut ketakwaan meski jauh dari tanah kelahiran.
"Suasana Ramadhan di Indonesia sangat menyenangkan. Di sini, kami harus berjalan tiga kilometer untuk bisa shalat di masjid. Suara azan pun hanya terdengar di dalam ruangan, tidak bersahut-sahutan seperti di kampung halaman," ungkapnya.
Hidup sebagai penganut agama minoritas, Icha mengaku tantangan terbesarnya adalah menjaga estafet iman kepada putra semata wayangnya, Reza Aziz Alfatih.
Lahir di Leeds dan besar di Norwegia, Fatih tumbuh di lingkungan yang minim simbol Islam. Agar sang anak tetap mengenal Islam, Icha dan suami menerapkan cara dengan memberi contoh langsung.
"Menghidupkan suasana Ramadhan di rumah dengan contoh, yaitu lewat kami sebagai orang tua. Sehingga anak menjadi terbiasa," kata Icha.
Sejak Fatih berusia 7 tahun, Icha mengenalkan makna puasa dengan komunikasi yang apik, bahkan kepada guru-guru di sekolah Norwegia agar tidak terjadi salah persepsi. Ia membangun suasana sahur dan berbuka di rumah agar sang anak merasa bahwa Ramadhan adalah istimewa.
"Kalau kita tidak mengkomunikasikan (dengan pihak sekolah) dikhawatirkan akan terjadi salah persepsi, seperti disangka anak dipaksa untuk berpuasa. Namun saat itu saya berpesan pada guru Fatih, apabila anak saya haus maka diperbolehkan untuk berbuka puasa," terang perempuan yang berprofesi sebagai penulis ini.
Kini, meski Fatih telah berusia 19 tahun dan menempuh studi di Oslo University, ikatan spiritual itu tetap terjaga melalui teknologi. Setiap pukul 04.30 pagi, Icha masih setia menelepon sang putra.
"Saya sudah bilang dari awal pada Fatih akan terus menelpon setiap sahur. Karena waktu sahur ini yang paling kritis bagi Fatih, meski usianya sudah 19 tahun. Saya selalu telpon setiap jam 04.30 atau menjelang jam 5 untuk memastikan dia bangun. Saya juga minta Fatih untuk mengirim foto menu sahur yang dimakannya," tutur Icha menunjukkan sisi keibuan yang sarat akan doa.
Impian Menghabiskan Pensiun di Tanah Air
Bagi Icha, Norwegia mungkin tempat mengabdi dan mengikuti tugas suami di sektor migas, namun Indonesia adalah tempat pulang yang abadi. Ia dan suami telah mematri rencana jangka panjang, yakni menghabiskan masa tua di Surabaya.
Sebuah impian sederhana namun mulia ia simpan, ingin membuka restoran di tanah kelahirannya kelak.
Melanglang buana ke berbagai negara hanyalah perjalanan untuk memperkaya jiwa, bagi Icha akhir dari segala perjalanan adalah kembali ke akar, membawa serta iman yang telah teruji oleh dinginnya kutub dan panjangnya waktu tunggu berbuka.