Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita
Silaturahmi Lintas Negara

Rindu Ramadhan Indonesia, Yasmine Citra Rela Tempuh 1,5 Jam Demi War Takjil di Ansan

esti setiyowati Senin, 09 Maret 2026 - 08:00 WIB
Rindu Ramadhan Indonesia, Yasmine Citra Rela Tempuh 1,5 Jam Demi War Takjil di Ansan
Rindu Ramadhan Indonesia, Yasmine Citra Rela Tempuh 1,5 Jam Demi War Takjil di Ansan. Foto: dok pribadi.
LANGIT7.ID-, Seoul - Bulan Ramadhan identik dengan satu pemandangan khas menjelang senja, yakni keramaian orang berburu takjil. Di pinggir jalan, pasar kaget, hingga pusat kuliner, masyarakat berbondong-bondong membeli makanan untuk berbuka puasa.

Fenomena ini bahkan melahirkan istilah populer di media sosial, war takjil.

War takjil menggambarkan antusiasme tinggi masyarakat saat berburu makanan berbuka puasa. Biasanya terjadi pada sore hari, selepas Ashar hingga menjelang Maghrib. Di kota-kota besar seperti Jakarta, sejumlah lokasi bahkan dikenal sebagai pusat perburuan takjil, seperti Pasar Benhil, Pasar Santa, Masjid Sunda Kelapa, Tebet, hingga sepanjang Jalan Panjang.

Baca juga: Ramadhan Sryang Tera di Nottingham: Ketika Ilmu, Iman, dan Takdir Berpadu

Namun siapa sangka, suasana serupa, meski dalam skala lebih kecil, ternyata juga bisa ditemukan jauh dari Tanah Air, tepatnya di Korea Selatan.

Hal itu dialami oleh Yasmine Citra Dian Utami, perempuan asal Situbondo yang telah menetap di Seoul selama empat tahun. Ramadhan tahun ini menghadirkan kejutan kecil yang membuatnya merasa lebih dekat dengan suasana kampung halaman.

Bagi Yasmine, menemukan tempat berburu takjil di Kota Ansan, sekitar Seoul, adalah pengalaman yang membangkitkan kerinduan akan Ramadhan di Indonesia.

“Seru banget. Vibes-nya kayak jajan di Indo. Karena banyak orang yang datang, beberapa orang asing juga jadi penasaran dan akhirnya ikut jajan,” kata Yasmine pada LANGIT7.ID.

Rindu Ramadhan Indonesia, Yasmine Citra Rela Tempuh 1,5 Jam Demi War Takjil di Ansan

Yasmine yang kini bekerja sebagai marketer di industri kecantikan bahkan rela menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam untuk mencapai kawasan tersebut. Di sana, ia dapat menikmati berbagai kudapan khas Indonesia seperti tahu bakso, piscok, bikang ambon, dadar gulung, hingga risol mayo.

Bagi lulusan program magister International Business di Ewha Womans University ini, pengalaman itu terasa begitu istimewa. Di negeri dengan populasi Muslim yang sangat kecil, menemukan makanan khas Ramadhan seperti menemukan sumber air di padang pasir yang gersang.

Rindu Ramadhan Indonesia, Yasmine Citra Rela Tempuh 1,5 Jam Demi War Takjil di Ansan

Baca juga: Aroma Condet di Langit Berlin, Catatan Ramadhan Muhammad Raffly

Harga jajanan takjil di Seoul pun memiliki cerita tersendiri. Jika di Jakarta satu potong takjil biasanya dijual sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000, di Ansan dengan 10.000 won Yasmine bisa membawa pulang hingga tujuh macam kudapan.

Menjelang Idulfitri, kawasan tersebut bahkan mulai menjual kue-kue kering khas Lebaran, menambah rasa hangat bagi para perantau Indonesia.

Kota Ansan sendiri memang dikenal sebagai salah satu daerah dengan populasi pekerja migran Indonesia yang cukup banyak di Korea Selatan. Seiring waktu, kehadiran komunitas Indonesia juga mendorong bertambahnya restoran Indonesia di negeri ginseng tersebut.

“Pertama aku datang ke Seoul, restoran Indonesia cuma tiga. Tapi seiring waktu, pariwisata makin aktif dan restoran Indonesia makin banyak,” kata Yasmine.

Menu yang ditawarkan pun tidak jauh dari hidangan favorit Tanah Air seperti nasi goreng, ayam geprek, rendang, dan bakso.

Meski begitu, Yasmine mengakui suasana Ramadhan di Korea Selatan masih terasa sangat berbeda dibandingkan di Indonesia.

“Tidak terasa Ramadhan-nya, karena di sini Muslim sedikit banget. Jadi hari-hari berjalan seperti biasa, nggak ada yang spesial,” tuturnya.

Baca juga: Gema Takbir di Futian, Kisah Dannandyatti Menemukan Indonesia di Masjid Shenzhen

Menciptakan Sendiri Suasana Ramadhan

Di tengah keterbatasan itu, Yasmine berusaha menciptakan suasana Ramadhan dengan caranya sendiri. Sejak pertama datang ke Seoul pada awal 2022, ia mulai mencari tahu lokasi masjid untuk menjalankan ibadah.

Ia sempat terkejut ketika menemukan bahwa beberapa tempat ibadah Muslim di Seoul lebih menyerupai mushola kecil.

Rindu Ramadhan Indonesia, Yasmine Citra Rela Tempuh 1,5 Jam Demi War Takjil di Ansan
Keterangan foto: Suasana shalat Id tahun 2025 di KBRI. Foto: dok pribadi

“Aku sempat kaget, ternyata yang disebut masjid itu lebih mirip mushola. Satu ruangan saja. Aku coba tarawih di situ, jamaahnya juga nggak banyak,” katanya.

Masjid yang pertama kali ia datangi berada di kawasan Sinchon, tidak jauh dari kampusnya. Di tempat sederhana itu, jamaah berasal dari berbagai negara, seperti Indonesia, Pakistan, hingga Timur Tengah.

Seiring waktu, Yasmine mulai menyadari bahwa di Seoul sebenarnya cukup banyak tersedia mushola atau masjid kecil yang tersebar di berbagai tempat.

Selain itu, ada pula masjid terbesar di Korea Selatan, Seoul Central Mosque yang berada di kawasan Itaewon. Masjid ini menjadi pusat kegiatan umat Muslim, terutama selama bulan Ramadhan.

Di sana tersedia program buka puasa gratis bagi jamaah. Jika sebelumnya, pihak masjid memberlakukan sistem penukaran kupon di restoran sekitar masjid, kini kupon dapat langsung ditukarkan di masjid sehingga lebih praktis.

Rindu Ramadhan Indonesia, Yasmine Citra Rela Tempuh 1,5 Jam Demi War Takjil di Ansan
Keterangan foto: Seoul Central Mosque yang berada di kawasan Itaewon. Foto: dok pribadi

Masjid tersebut juga membuka kesempatan bagi relawan untuk membantu kegiatan Ramadhan, mulai dari membagikan takjil hingga membantu pengaturan shalat berjamaah.

Baca juga: Ramadhan dalam Kesunyian, Cerita Duhita Kumala Berpuasa Sendiri di Polandia

Bagi warga Indonesia di Seoul, Idulfitri biasanya dirayakan bersama di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Namun untuk mengikuti shalat Id di sana, para perantau bahkan harus “berburu” tiket terlebih dahulu.

“Di KBRI juga harus nge-war tiket kalau mau ikut Lebaran di sana,” kata Yasmine sambil tertawa.

Shalat Id biasanya dilaksanakan di lapangan. Namun jika cuaca dingin atau hujan, kegiatan dipindahkan ke dalam ruangan. Seusai shalat, tradisi Lebaran Indonesia tetap dipertahankan, bersalaman dengan duta besar dan staf kedutaan, lalu makan bersama.

Rindu Ramadhan Indonesia, Yasmine Citra Rela Tempuh 1,5 Jam Demi War Takjil di Ansan
Keterangan foto: Menu Lebaran 2025 di KBRI. Foto: dok pribadi.


Setelah itu, banyak warga Indonesia kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Sebab di Korea Selatan tidak ada libur nasional khusus untuk Idulfitri.

Meski demikian, KBRI biasanya mengeluarkan surat edaran bagi perusahaan tempat warga Indonesia bekerja agar mereka dapat merayakan hari raya dengan lebih leluasa.

Ramadhan di Seoul sendiri berlangsung dengan durasi puasa yang tidak terlalu panjang. Tahun ini, waktu Maghrib sekitar pukul 18.30 sementara imsak berada di sekitar pukul 05.30.

Baca juga: Antara Haugesund-Oslo, Ikatan Batin Ibu dan Anak Merajut Ramadhan di Norwegia

Menenun Benang Toleransi

Di tengah segala keterbatasan, Yasmine menemukan bahwa menjaga semangat Ramadhan di negeri minoritas bukan hanya soal tradisi, tetapi juga tentang menghadirkan makna ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Yasmine pun membawa nilai-nilai ini ke ruang kerjanya. Dengan membagikan kudapan dan menjelaskan makna Idulfitri kepada rekan kantornya, ia sedang menenun benang toleransi.

Ia menunjukkan bahwa menjadi Muslim di negeri minoritas bukanlah tentang mengurung diri, melainkan tentang menjadi "garam" yang memberi rasa dan "cahaya" yang memberi kehangatan bagi sesama manusia.

“Waktu di kantor lama, aku sempat bagi-bagi snack ke teman-teman. Aku jelasin apa itu Idulfitri dan kenapa kita merayakannya,” ujarnya.

Respons mereka, kata Yasmine, cukup hangat. Dari situ, teman-temannya mulai memahami bahwa umat Islam memiliki hari raya yang dirayakan dengan berbagi kebahagiaan.

Di negeri yang jauh dari riuhnya beduk, pasar takjil, dan gema adzan dari berbagai penjuru kota, Yasmine belajar satu hal sederhana, suasana Ramadhan tidak selalu tercipta dari keramaian, tetapi dari niat untuk tetap menghadirkan keberkahan dalam setiap langkah kehidupan.



(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)