Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita
Silaturahmi Lintas Negara

Dua Tradisi, Satu Kemenangan: Memotret Wajah Idulfitri di Madinah Lewat Mata Mahasiswa Indonesia

esti setiyowati Selasa, 10 Maret 2026 - 09:16 WIB
Dua Tradisi, Satu Kemenangan: Memotret Wajah Idulfitri di Madinah Lewat Mata Mahasiswa Indonesia
Fauzan Dhiyaurrahman, mahasiswa asal Indonesia yang telah bermukim di Madinah sejak tahum 2013. Foto: dok pribadi.
LANGIT7.ID, Madinah,- - Idulfitri selalu datang membawa kegembiraan bagi umat Islam di seluruh dunia. Setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa Ramadhan, hari kemenangan itu menjadi momentum kembali kepada fitrah, membersihkan hati, mempererat silaturahmi, serta meneguhkan kembali nilai-nilai kebaikan.

Di Indonesia, gema takbir sering kali disertai tradisi mudik, saling berkunjung dari rumah ke rumah, serta suasana kekeluargaan yang hangat. Namun bagaimana suasana Lebaran di salah satu kota suci umat Islam, Madinah al-Munawwarah? Apakah kemeriahannya sama dengan di Tanah Air?

Fauzan Dhiyaurrahman, warga Indonesia yang telah menetap di Madinah sejak 2013, memiliki pengalaman tersendiri merasakan Idulfitri di Kota Nabi. Ia datang ke Madinah untuk menempuh pendidikan di Universitas Islam Madinah setelah menamatkan pendidikan di pesantren di Soreang, Bandung, Jawa Barat.

Dua Tradisi, Satu Kemenangan: Memotret Wajah Idulfitri di Madinah Lewat Mata Mahasiswa Indonesia

Baca juga: Rindu Ramadhan Indonesia, Yasmine Citra Rela Tempuh 1,5 Jam Demi War Takjil di Ansan

Pria berusia 33 tahun itu awalnya tidak pernah membayangkan akan melanjutkan studi ke luar negeri. Ketertarikannya terhadap ilmu agama, khususnya ilmu hadis, tumbuh ketika ia menempuh pendidikan di pesantren. Kini, Fauzan tengah menyelesaikan program doktoralnya di universitas tersebut.

Meski telah lebih dari satu dekade tinggal di Madinah, Fauzan mengaku baru tiga kali menjalani Ramadhan sekaligus merayakan Idulfitri di sana. Beberapa tahun sebelumnya, bulan Ramadhan bertepatan dengan masa liburan musim panas, sehingga ia memilih pulang ke Indonesia untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.

Dari pengalamannya, Fauzan melihat bahwa secara umum tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara Ramadhan di Madinah dan di Indonesia. Perbedaan paling terasa adalah pada durasi waktu puasa.

“Perbedaannya di durasi waktu. Apalagi kalau Ramadhan bertepatan dengan musim panas sekitar Mei sampai Agustus, masa siangnya lebih lama. Otomatis puasanya juga lebih lama,” ungkapnya.

Namun selisih durasi puasa tersebut tidak terlalu jauh dibandingkan Indonesia, hanya sekitar dua jam. Bahkan ketika Ramadhan berlangsung di musim dingin, durasi puasa justru terasa lebih pendek.

Selain itu, terdapat kebijakan yang sedikit berbeda dari pemerintah Arab Saudi. Selama Ramadhan, waktu adzan Isya dimundurkan sekitar 30 menit dari jadwal biasanya. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memiliki waktu yang lebih lapang untuk berbuka puasa sebelum melaksanakan shalat Isya dan tarawih.

Meski secara teknis tidak terlalu berbeda, Fauzan merasakan satu hal yang sangat khas dari Ramadan di Madinah, yakni atmosfer ibadah yang begitu kuat.

Baca juga: Ramadhan Sryang Tera di Nottingham: Ketika Ilmu, Iman, dan Takdir Berpadu

Di berbagai masjid, terutama Masjid Nabawi, jamaah sudah datang lebih awal untuk menanti waktu salat. Bahkan ketika seseorang merasa sudah datang paling cepat, selalu saja ada jamaah lain yang datang lebih dahulu.

“Kadang kita merasa sudah datang paling awal ke masjid, tetapi ternyata tetap saja ada yang lebih dulu datang,” katanya.

Menjelang shalat tarawih, pemandangan jamaah yang membaca Al-Qur’an menjadi hal yang biasa. Suasana tersebut secara tidak langsung mendorong jamaah lain untuk melakukan hal yang sama.

“Daripada membuka ponsel atau hanya duduk diam di masjid, kita jadi ikut membaca Al-Qur’an. Masya Allah, atmosfer ibadah di Mekkah dan Madinah memang sangat mendukung,” ujar ayah tiga anak itu.

Semangat berbagi juga terasa kuat selama Ramadhan. Ketika waktu berbuka tiba, banyak pihak yang membagikan takjil kepada jamaah umrah maupun masyarakat setempat.

Selain pihak Masjid Nabawi yang menyediakan paket berbuka puasa, tidak sedikit pula masyarakat yang secara pribadi membagikan makanan kepada para jamaah. Menurut Fauzan, bahkan sering terjadi “rebutan” di antara para dermawan untuk berbagi makanan kepada orang-orang yang berpuasa.

Dua Tradisi, Satu Kemenangan: Memotret Wajah Idulfitri di Madinah Lewat Mata Mahasiswa Indonesia
Keterangan foto: Suasana berbuka puasa di Masjid Nabawi. Foto: dok pribadi

Sebelum pandemi Covid-19, para donatur kerap membagikan makanan berat seperti nasi mandi atau paket ikonik dari Arab Saudi, ayam Al Baik, di luar masjid.

Namun setelah pandemi, aturan tersebut diubah oleh otoritas setempat. Menu berbuka kini diseragamkan dalam bentuk paket sederhana berisi roti, kurma, dan air minum kemasan.

Baca juga: Aroma Condet di Langit Berlin, Catatan Ramadhan Muhammad Raffly

Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, suasana ibadah semakin semarak. Shalat tarawih biasanya dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama berlangsung setelah shalat Isya hingga sekitar pukul 22.00, sementara sesi kedua berupa shalat tahajud yang dimulai sekitar pukul 01.00 dini hari hingga menjelang sahur.

Pemerintah Arab Saudi memiliki kebijakan libur sekolah dan kampus di sepuluh hari terakhir Ramadhan, agar masyarakat dapat lebih fokus beribadah.

Tradisi Berbeda di Momen Hari Raya Idulfitri

Ketika Idulfitri tiba, perbedaan antara tradisi Lebaran di Madinah dan Indonesia mulai terasa lebih jelas.

Menurut Fauzan, di Madinah terdapat banyak komunitas Muslim dari berbagai negara yang membawa tradisi Lebaran masing-masing. Muslim dari Pakistan, Bangladesh, India, maupun Indonesia biasanya memiliki kebiasaan yang hampir sama, yaitu saling berpelukan dan mengucapkan selamat hari raya setelah shalat Id.

Namun tradisi masyarakat lokal Madinah cenderung lebih tertutup dibandingkan Indonesia. Jamuan atau open house biasanya hanya diadakan untuk keluarga dan kerabat terdekat.

“Selama saya di sini, saya belum pernah diajak berlebaran ke rumah teman yang asli Saudi,” ujar Fauzan sambil tertawa.

Hal ini tentu berbeda dengan tradisi Lebaran di Indonesia yang dikenal sangat terbuka. Di Tanah Air, rumah-rumah sering kali terbuka bagi siapa saja yang ingin bersilaturahmi, baik kerabat, tetangga, maupun sahabat.

Untuk mengobati kerinduannya terhadap suasana Lebaran di Indonesia, Fauzan biasanya menghadiri acara open house yang diselenggarakan oleh komunitas diaspora Indonesia di Madinah.

Meski demikian, ada pula kesamaan tradisi antara masyarakat Timur Tengah dan Indonesia, yakni pemberian tunjangan hari raya atau THR kepada keluarga.

Fauzan bahkan pernah mendengar cerita dari temannya yang berasal dari Yaman. Menurutnya, jumlah THR yang diberikan kepada keluarga bisa mencapai ribuan riyal.

Pengalaman lain yang menarik adalah suasana shalat Idulfitri di Masjid Nabawi. Menurut Fauzan, shalat Idulfitri biasanya lebih ramai dibandingkan shalat Iduladha.

Baca juga: Gema Takbir di Futian, Kisah Dannandyatti Menemukan Indonesia di Masjid Shenzhen

Kondisi ini membuat jamaah harus bersusah payah untuk mendapatkan tempat di dalam Masjid Nabawi untuk shalat Id. Banyak jamaah yang sudah datang sejak dini hari agar dapat berada di dalam area masjid.

“Kalau ingin berada di dalam Masjid Nabawi, harus datang sangat pagi. Kalau datang jam satu atau dua pagi, biasanya saf sudah sampai halaman masjid,” ujarnya.

Fauzan bahkan pernah datang sekitar pukul 12 malam demi mendapatkan tempat di dalam masjid. Ia dan jamaah lainnya harus menunggu berjam-jam hingga waktu shalat tiba.

“Kalau datang mepet, biasanya sudah tidak dapat tempat di Nabawi dan harus salat di jalanan. Kalau di dalam masjid sudah penuh, langsung ditutup,” katanya.

Perbedaan suasana Lebaran antara Madinah dan Indonesia menunjukkan betapa kaya ragam tradisi umat Islam di berbagai belahan dunia. Meski cara merayakannya berbeda, esensi Idulfitri tetap sama, yakni mempererat persaudaraan, menumbuhkan rasa syukur, dan kembali kepada fitrah.



(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)