LANGIT7.ID-Di antara kerlip lampu kota-kota besar
dunia Islam hari ini, dari Jakarta hingga Kairo, ada satu wajah yang makin samar dikenali: wajah asli peradaban Islam. Di balik gedung-gedung menjulang, arsitektur Eropa yang dipoles ornamen Arab, busana modern yang menempel di tubuh para profesional Muslim, terselip sebuah ironi. Seabad setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, sebagian besar umat Islam masih gamang menentukan arah. Apakah
modernisasi berarti
westernisasi?
Muhammad Asad—pemikir kelahiran Eropa yang kemudian memeluk Islam—menulis kritik tajam soal ini dalam bukunya Islam di Simpang Jalan atau
Islam at the Crossroads (1935). “Peniruan mode hidup Barat oleh kaum Muslimin adalah bahaya terbesar bagi kebangkitan kembali peradaban Islam,” tulisnya. Asad menyebut fenomena ini bukan sekadar mode, tetapi penyakit kultural yang bersumber dari satu hal: rasa frustrasi kolektif.
Frustrasi itu lahir dari kontras menyakitkan yang disaksikan umat Islam sejak abad ke-19: Eropa dengan kekuatan material dan kemajuan industrinya, sementara dunia Islam tertinggal dalam bayang-bayang kemelaratan. Alih-alih kembali pada sumber otentik ajaran Islam, sebagian kaum terpelajar memilih jalan pintas: meniru Barat. “Mereka beranggapan tidak ada jalan lain untuk maju kecuali mengadopsi hukum sosial dan ekonomi Barat,” tulis Asad.
Baca juga: Angkat Budaya Islam Turki, Zaskia dan Shireen Sungkar Rilis Koleksi Baju LebaranFiqih yang Beku, Barat yang MemikatKegamangan ini tak lahir di ruang hampa. Asad menuding peran golongan ulama yang berpikir sempit—menyempitkan Syariah menjadi fiqih kaku. Akibatnya, ajaran Islam tampak tak adaptif terhadap dinamika zaman. Bagi kaum modernis, fiqih yang beku sama dengan stagnasi. Mereka kehilangan minat pada Syariah dan melirik Barat sebagai pelarian.
Dalam pandangan Asad, ini kesalahan fatal. Peradaban Barat, kata dia, bukan sekadar bentuk lahir—pakaian, arsitektur, tata kota—tetapi jiwa yang hidup, sebuah energi yang bekerja diam-diam membentuk mentalitas. “Tidak mungkin meniru kebudayaan lahir tanpa terpengaruh oleh jiwanya,” tulisnya. Ia mengutip hadis Nabi: *“Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka”* (Musnad Ibnu Hambal, Sunan Abi Da'ud).
Asad menolak pandangan yang menganggap pakaian atau gaya hidup hanyalah simbol netral. Baginya, pakaian Eropa misalnya, adalah hasil evolusi estetik dan intelektual Barat selama berabad-abad. Dengan memakainya, seorang Muslim tanpa sadar ikut menyerap cita rasa dan sistem nilai Eropa. “Ia mengenakan pakaian budak intelektual dan moral,” sindir Asad.
Baca juga: Multaqa LSBPI-MUI akan Rumuskan Rekomendasi Seni-Budaya Islami Apologia dan ApatismeBuku Asad bukan satu-satunya yang mengangkat kegelisahan ini. Pangeran Sa’id Halim Pasya, mantan Perdana Menteri Utsmaniyah, menulis Islamlasmaq, membuktikan bahwa Syariah Islam tidak menghalangi kemajuan modern. Namun, karya-karya seperti ini datang terlambat. Ketika argumen cemerlang mereka muncul, gelombang kekaguman buta terhadap Barat sudah telanjur pasang.
Di sisi lain, muncul literatur apologetik yang mencoba mengawinkan Syariah dengan konsep sosial-ekonomi Barat—mencari pembenaran bahwa Islam “bisa kompromi” dengan modernitas. Jalan ini, kata Asad, hanya mengantar pada penyangkalan gradual atas prinsip-prinsip dasar Islam.
Di titik ini, perdebatan pun pecah: apakah modernisasi identik dengan westernisasi? Kaum apologis bilang: tidak ada konsekuensi spiritual apakah kita hidup dengan cara ini atau itu, memakai jas atau gamis. Asad membantah. Islam memang fleksibel dalam hal bentuk, tapi ada garis merah: orientasi religius tak boleh disingkirkan. Sementara peradaban Barat, tegas Asad, secara definitif menyingkirkan orientasi itu.
Baca juga: Arab Saudi Semakin Liberal Impor Budaya Barat, Ini Alasannya Kompleks Inferioritas dan Jalan Terjal AutentisitasBagi Asad, akar persoalan ini satu: inferioritas psikologis. Umat Islam, karena melihat Barat lebih maju secara material, merasa tak ada jalan selain mengikuti langkah Eropa. Lalu muncullah sikap mempersalahkan Islam sebagai biang kemunduran, padahal problemnya ada pada umat sendiri yang gagal memahami dan menghidupkan ajarannya.
Kini, seabad kemudian, kita bisa bertanya: apakah ramalan Asad benar? Lihat Jakarta, Dubai, atau Istanbul. Modernitas hadir dalam wajah kaca baja dan mode global, tetapi apakah nilai Islam tetap jadi roh, atau hanya ornamen? Apakah kita sedang membangun peradaban Islam yang kreatif, atau sekadar replika Eropa dengan label halal?
Pertanyaan itu belum usang. Justru makin relevan di era globalisasi dan gempuran budaya pop Barat yang masuk lewat layar ponsel. Jika peradaban adalah energi hidup, seperti kata Asad, maka meniru tanpa seleksi bukanlah sekadar soal busana atau arsitektur. Ia menyentuh jantung cara pandang, perlahan menggeser orientasi, sampai-sampai umat tak lagi sadar kapan mereka kehilangan diri.
Baca juga: Fikih Prioritas: Berani Benar di Hadapan Kekuasaan(mif)