Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Leopold Weiss Ungkap Transformasi Kesadaran dalam Pengalaman Puasa Pertama

miftah yusufpati Jum'at, 20 Februari 2026 - 17:30 WIB
Leopold Weiss  Ungkap Transformasi Kesadaran dalam Pengalaman Puasa Pertama
Hingga akhir hayatnya, Asad selalu menekankan bahwa Ramadhan adalah instrumen untuk mendisiplinkan keinginan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bagi Leopold Weiss, seorang jurnalis muda berbakat asal Austria-Hongaria yang kemudian dikenal dunia sebagai Muhammad Asad, Islam bukanlah sekadar temuan intelektual di atas meja perpustakaan. Islam adalah sebuah pengalaman empiris yang ia temukan di luasnya gurun semenanjung Arab. Salah satu fragmen paling kuat dalam perjalanannya menjadi mualaf adalah saat ia harus berhadapan dengan ritme Ramadhan untuk pertama kalinya.

Dalam karyanya yang monumental, The Road to Mecca (1954), Asad menggambarkan puasa bukan sebagai bentuk penyiksaan diri atau penolakan terhadap kenikmatan hidup. Sebaliknya, ia melihat puasa sebagai sebuah jembatan yang menghubungkan kebutuhan fisik manusia yang mendasar dengan tuntutan jiwa yang sering kali terabaikan oleh kesibukan duniawi.

Pengalaman puasa perdana Asad terjadi di tengah lingkungan Badui yang keras namun bersahaja. Baginya, transisi dari gaya hidup Eropa yang serba teratur dan berkelimpahan menuju disiplin ketat menahan lapar dan dahaga di bawah terik matahari Arab adalah sebuah kejutan budaya yang mendalam. Ia mengenang bagaimana tubuhnya pada awalnya meronta menuntut asupan, namun perlahan-lahan ego fisiknya meluruh dan memberi ruang bagi kejernihan berpikir yang luar biasa.

Asad mencatat bahwa puasa pertama itu mengajarinya tentang kemerdekaan batin. Ia merasa bahwa dengan sengaja menahan diri dari kebutuhan organik seperti makan dan minum, manusia sebenarnya sedang membebaskan diri dari perbudakan insting. Dalam pandangannya, puasa di bulan Ramadhan adalah momen di mana manusia membuktikan bahwa mereka bukan sekadar hewan biologis, melainkan makhluk spiritual yang memiliki kehendak bebas.

Satu momen yang paling membekas dalam ingatan Asad adalah saat waktu berbuka tiba di tengah padang pasir. Seteguk air dan sebutir kurma terasa memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada jamuan mewah di kafe-kafe Wina yang pernah ia kunjungi. Keheningan padang pasir yang menyertai ibadah puasanya memberikan dimensi ruang yang sangat luas bagi refleksi diri. Ia melihat bagaimana komunitas muslim di sekitarnya menjadi lebih lembut dan penuh empati, sebuah fenomena sosial yang menurutnya lahir dari penderitaan fisik yang dirasakan bersama.

Sumber utama narasi ini merujuk pada buku otobiografi Muhammad Asad berjudul The Road to Mecca (Jalan ke Makkah), diterbitkan pertama kali oleh Simon and Schuster pada 1954. Selain itu, catatan-catatan pemikirannya mengenai filosofi puasa juga banyak diulas dalam kumpulan esainya di jurnal-jurnal pemikiran Islam internasional.

Hingga akhir hayatnya, Asad selalu menekankan bahwa Ramadhan adalah instrumen untuk mendisiplinkan keinginan. Baginya, puasa perdana di Arab bukan hanya soal menahan haus, melainkan sebuah proses penyaringan jiwa untuk menemukan esensi ketuhanan di balik tabir materi.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)