Perjalanan spiritual Muhammad Asad melalui puasa pertama menjadi jembatan antara kebutuhan fisik dan jiwa. Mantan jurnalis Austria ini menemukan hakikat pengendalian diri yang melampaui rasa lapar.
Seabad setelah Khilafah runtuh, umat Islam masih gamang: modernisasi atau westernisasi? Muhammad Asad mengingatkan, tiruan buta pada Barat bisa mengikis roh peradaban Islam.
Kaum Muslimin meniru Barat untuk maju, tapi kehilangan jiwanya sendiri. Apakah kita mengulang kesalahan peradaban yang runtuh, atau menemukan jalan agar ilmu modern tak menggerus iman?
Suatu hari di akhir abad ke-11, lonceng-lonceng gereja berdentang di seluruh benua Eropa. Di Clermont, Paus Urbanus II menyeru, dan beribu-ribu orang menyahut: Deus vult! Tuhan menghendakinya.
Pada agama-agama itu, orang Barat masih berupaya menjaga jarak intelektual, menatapnya sebagai sistem reflektif yang patut dihormati. Sementara pada Islam, prasangka yang muncul begitu emosional dan penuh dendam.
Kebajikan dinilai bukan dari keluhuran moralnya, melainkan sejauh mana ia berkontribusi pada efisiensi sistem, pada kestabilan produksi, pada roda kapitalisme atau negara.
Agama Kristen, yang dulunya menjadi fondasi etis, kini, menurut Asad, hanya menjadi konvensi sosial. Ia hidup sebagai dekorasi, bukan sebagai kekuatan hidup.
Eropa pun mengalami kejutan intelektual. Ia menyebutnya Renaisanslahir kembali. Tetapi seperti dicatat Asad, kelahiran kembali itu bukan dari rahim gereja, melainkan dari sentuhan Islam.
Imperium Islam tumbuh di atas semangat dakwah dan kesadaran moral. Ia tidak dibentuk oleh bangsa tertentu, tidak didominasi satu ras atau wilayah pusat, dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan itu sendiri.
Dalam dunia yang dipenuhi retorika tentang perdamaian, toleransi, dan non-intervensi, pembicaraan tentang imperialisme Islam seolah terdengar kontras, bahkan provokatif.
Di sinilah letak keunikan Islam sebagai agama yang menyatukan, bukan memisahkan yang menyelaraskan dunia dan akhirat, bukan mengadu keduanya dalam konflik yang tak berkesudahan.
Bagi Asad, Islam menegaskan bahwa manusia tidak harus menunggu akhirat untuk menjadi sempurna. Kesempurnaan itu bukan mutlak, bukan tanpa cela, bukan pencapaian ilahi.